
Rombongan ratu Rosella telah tiba di kota metropolitan terbesar di negara Amerika serikat itu.
Mereka kini dalam perjalanan menuju Mansion ratu Rosella yang berada di kota Chicago.
Mansion yang baru kemarin ratu Rosella beli untuk tempat penyinggahan mereka.
Beberapa mobil mewah kini membawa Ramon ratu Rosella, membelah padatnya kota yang Chicago.
Amber membuka kaca pintu mobil, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan, sebuah senyuman indah terlihat dari sudut bibir Amber.
Carlos yang mengendarai salah satu mobil mewah rombongan ratu Rosella, ikut tersenyum melihat wajah bahagia Amber. Pria itu mengusap lembut surai Amber yang terikat tinggi keatas.
Amber menoleh ke samping di mana Carlos sedang mengendalikan laju mobil Ferrari berwarna merah itu.
"Kau, terlihat senang sekali," seru Carlos sambil meraih telapak tangan Amber dan mendekatkannya ke bibirnya, memberikan kecupan hangat di sana.
Amber menarik pelan telapak tangannya sambil tersenyum canggung kepada Carlos.
"Jangan melakukan itu padaku," ujar Amber yang kini pandangannya menatap keluar jendela mobil.
"Why,?"
"Aku, tidak ingin orang-orang menuduhku, wanita penggoda," cebik Amber sambil mendelik ke arah Carlos.
Carlos terkekeh melihat wajah cemberut Amber, pria itu lantas mengacak rambut Amber kasar.
"Ck! Kau begitu menyebalkan sekali," dengus Amber sambil merapikan rambutnya kembali.
"Katakan, kenapa kau terlihat begitu bahagia,?"
"Itu karena aku berkunjung ke tanah kelahiran ku."
"Benarkah,?"
"Hm"
Carlos hanya bisa tersenyum hambar ke arah Amber. Carlos merasa ini saatnya, ia memberitahukan tentang keluarganya yang sudah pria itu habisi.
"Kau, masih memiliki keluarga,?" Carlos mencoba berbasa-basi kepada Amber. Mencoba mencari tahu reaksi wajah wanita di sampingnya.
Amber yang mendengar penuturan Carlos, langsung terdiam seribu bahasa dan raut wajahnya terlihat suram.
"Tidak. Aku tidak memiliki keluarga lagi," lirih Amber.
Carlos yang melihat ekspresi dan reaksi Amber yang mendadak sedih, tiba-tiba merasa bersalah.
Lidah pria itu tiba-tiba kelu dan terasa berat seketika.
Ia masih ragu untuk memberitahukan kepada Amber tentang keluarganya.
Carlos hanya bisa mengusap punggung tangan Amber dengan kasih sayang.
*
*
*
Sedangkan di mobil mewah lainnya, tepatnya mobil yang berada di depan mobil Carlos, seorang pria yang sejak tadi terlihat gelisah.
Sejak tadi pria itu menengok kebelakang dengan wajah merah, seperti menahan rasa cemburu.
Ia terus saja berdecak dan mendengus kasar. Pria itu bahkan tidak menghiraukan raut wajah sang istri yang nampak begitu heran, melihat tingkah sang suami yang begitu gelisah.
Ibu ratu Rosella hanya bisa terdiam dengan pikiran yang menerawang jauh.
Mobil ratu Rosella sendiri berada di tengah di antara mobil-mobil mewah tersebut.
Ratu Rosella seakan memikirkan sesuatu rencana dalam diam.
Mata tuanya menatap keluar jendela mobil, merotasi setiap jalanan padat di kota Chicago.
"Hubungi dia, katakan aku ingin bertemu dengannya," perintah ratu Rosella kepada pengawal pribadinya yang paling setia.
"Baik yang mulia," sahut sang pengawal yang duduk di samping sang supir.
"Katakan, aku merindukannya,!" perintah ratu Rosella kembali.
"Langsanakan yang mulia ratu,"
Ratu Rosella kembali terdiam dengan tatapan yang menatap keluar jendela mobil.
"Semoga semuanya berakhir di sini," batin ratu Rosella dan sebuah senyum miring terlihat di sudut bibir wanita paruh baya itu.
*
*
*
Tak beberapa lama rombongan ratu Rosella telah tiba di depan sebuah Mansion mewah bertingkat tiga yang di cat berwarna putih gading.
Iringan mobil sport mewah itupun memasuki pengarang luas Mansion tersebut, setelah pagar Mansion itu terbuka sendiri.
Ratu Rosella turun dari mobil terlebih dahulu dan di susul oleh seluruh anggota keluarga kerajaan.
Ratusan pelayan telah berbaris di depan pintu Mansion untuk menyambut kedatangan ratu kerajaan salah satu di negara Inggris.
"Kenapa,?" Tanya pangeran Carlos.
Amber tidak menjawab, ia hanya memperlihatkan ponselnya yang menyala dan bergetar, tertera nama Ruby di sana.
"Ruby?" Cicit Carlos.
"Hm. Sahabat aku," jawab Amber, dan segera menjauh dari Carlos tanpa memperhatikan raut wajah pria itu.
Bram hanya bisa mengepalkan tangannya, melihat kedekatan Amber dan Carlos yang begitu terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai.
Dia hanya bisa menahan geramannya dalam hati. Buku-buku jarinya bahkan kini terlihat memerah akibat kepalan tangannya begitu kuat di balik saku celana yang ia kenakan.
*
*
*
"Apa kata, mommy,?" Tanya seorang anak laki-laki yang begitu terlihat menggemaskan.
"Mommy, akan berkunjung setelah pekerjaan selesai," jawab Bryana sembari meletakkan kembali ponsel Boy di saku celana pria yang kini sedang sibuk mengunyah makan siangnya.
"Sabarlah, sayang, mommy kalian pasti akan datang." Ruby menimpali percakapan anak kembar sahabatnya itu.
"Baiklah, mommy," sahut ke duanya.
"Sekarang makan, dan habiskan makanan kalian," perintah Boy ikut menyahuti percakapan anak kembar dan Istrinya itu.
"Kau, ingin daddy menyuapimu, my princess,?" Boy bertanya kepada gadis kecil yang terlihat murung di sampingnya.
Bryana terlihat menggeleng dengan wajah masam.
Boy meraih piring makan anak perempuannya itu dan membantu Bryana menghabiskan makan siangnya.
"Buka mulutmu, sayang," pinta Boy lembut.
"Tidak," tolak Bryana diikuti gelengan.
"Makan yah sayang, kalau kau sakit nanti kamu tidak bisa bertemu, mommy Amber," bujuk Boy dengan lembut.
"Tapi daddy aku tidak lapar," tolak Bryana dengan lirih.
"Makanlah, sayang. Nanti daddy akan mengajak kalian ke pesta,"
"Pesta,?" Sahut Ruby, Bryan dan Gie.
"Hm. Kita mendapatkan undangan acara pelelangan di salah satu hotel terkenal di kota ini," jawab Boy sambil menyuapi Bryana.
"Kapan,?" Tanya Ruby.
"Nanti malam,"
"Malam,?"
"Hm. Bersiaplah, kita semua akan kesana.!"
"Okey,"
*
*
*
"Jadi, kita akan menjalankan rencana kita nanti malam." Camelia dan para tuan putri lainnya kini sedang berada disalah satu ruangan tertutup.
Camelia yang sudah merasa muak dengan kehadiran Amber, yang merasa terancam akan gelar kecantikannya.
Wanita licik itu, akan menjalankan rencana mereka nanti malam, untuk menjebak Amber.
"Kakak, sudah menghubungi pria sewaan kita,?" Tanya salah satu wanita bangsawan di ruangan itu, yang juga sangat membenci Amber.
"Hm. Kita tinggal menunggu hasilnya dan membantu pria itu menjalankan rencana kita," ujar Camelia dengan tersenyum licik.
"Aku berharap rencana kita berhasil, membuat wanita rendahan itu malu,"
"Aku, juga tidak sabar," sahut yang lainnya.
Mereka pun tertawa membayangkan nasib Amber setelah rencana mereka berhasil.
Mereka akan merekam kegiatan pria yang Camelia sewa untuk memperkosa Amber dan menyebarkan ke seluruh dunia melalui media sosial.
Sedangkan di dalam kamar lainnya, seorang wanita cantik tersenyum miring mendengar percakapan para putri bangsawan yang akan melakukan rencana jahat kepada dirinya.
"Dasar para wanita licik," desis Amber dan mematikan alat yang menempel di telinga kanannya.
Yah Amber selama ini memasang alat perekam suara di dalam tas Camelia di saat Amber merasa curiga dengan gerak-gerik Camelia dan tuan putri lainnya.
Jangan salah Amber sudah memiliki insting yang begitu peka terhadap bahaya yang akan menyimpannya.
Salah satunya adalah gerak-gerik Camelia yang menurutnya sangat mencurigakan.
Dan instingnya benar dan tepat. Kalau para wanita bangsawan itu memiliki rencana jahat kepadanya.
"Sepertinya, ini akan sangat menyenangkan," gumam Amber dalam hati.