Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 123


Di penthouse ratu Rosella.


Sosok gadis yang memiliki tubuh tinggi, bak model ternama dunia terlihat menyusut keamanan penthouse milik ratu Rosella dengan menyamar sebagai, seorang office girl.


Dengan memakai pakaian layaknya seorang pekerja paruh waktu dengan wajah ditutupi masker dan rambut palsu pendek yang mendukung penyamarannya malam ini.


Kell memasuki lift khusus para pekerja di penthouse ternama di kota Chicago, ia mendorong sebuah troli yang berisi perlengkapan bersih-bersih.


Namun siapa yang mengira, kalau gadis itu menyelipkan sebuah senjata api di sana.


Kell sendiri menemukan identitas sebagai office girl diadakannya ini dari seorang temannya, yang merupakan pegawai di gedung penthouse tersebut.


Dengan mengeluarkan beberapa dolar saja, Kell, berhasil melancarkan rencananya untuk melenyapkan ratu Rosella dan juga pengawal setianya.


Kell sendiri sudah menyusun rencana ini dari kemarin, setelah ia tidak sengaja mendengar percakapan Martin dan ratu Rosella, yang akan menghabiskan waktu di penthouse.


Disinilah Kell sekarang, di lantai paling atas bangunan tinggi menjulang tersebut.


Di depan Salah satu pintu penthouse yang tampak berbeda dengan pintu-pintu lainnya.


Gadis itu mengeluarkan kunci akses untuk bisa masuk ke dalam penthouse yang didapatkannya dari office girl khusus yang disiapkan ratu Rosella, untuk membersihkan penthouse nya.


Terdengar bunyi tombol suara yang menandakan, pintu di depannya sudah terbuka.


Tidak ingin membuang waktu banyak, Kell segera menerobos masuk ke dalam dengan melangkah pelan.


Ia memegang sebuah alat pembersih dan senjatanya ia sembunyikan di balik pakaian yang ia kenakan.


~


"Cih, dasar pasangan tua menjijikkan!" Decak Kell dalam hati.


Pemandangan di depannya sangat membuat Kell terasa geli dan muak.


Dimana ratu Rosella dan Martin sedang terlelap dengan tubuh yang tidak ditutup sehelai kain pun yang menampakkan tubuh polos keduanya.


"Lihatlah, tubuh mereka saja masih menyatu," sinis Kell Menatap jijik pada pasangan yang ada di atas ranjang.


"Tidak masalah, anggap saja ini adalah penyatuan terakhir, kalian," gumam Kell sambil mengeluarkan senjata api tanpa suara dari balik punggungnya.


Kell mendekat ke arah ranjang. Berjalan perlahan demi perlahan hingga kini gadis itu, sudah berada di samping pasangan partner ranjang itu.


Dengan gerakan pelan, Kell meraih sebuah bantal yang tergeletak di atas lantai.


Kell mendekati Martin terlebih dahulu, ia mendekatkan bantal itu di atas wajah Martin.


Kell menutup wajah Martin menggunakan bantal dan menekannya kuat.


Martin seketika terkejut saat tiba-tiba dadanya terasa sesak, ia pun mencoba memberontak dan menyingkirkan benda yang menutupi wajahnya, namun terlambat, karena peluru terlebih dahulu menembus jantungnya.


Karena gerakan meronta Martin membuat inti tubuh Martin dan Rosella terlepas.


Membuat Rosella mengerjapkan matanya perlahan.


Belum sempat wanita paruh baya itu membuka matanya, sebuah peluru menembus kulit kepala depan ratu Rosella.


Membuatnya hanya bisa tercekat dengan kedua mata membola ke atas.


Martin sudah meregang nyawa dengan darah segar mengalir dari balik dadanya yang di lubangi oleh sebuah peluru.


"Surprise!" Bisik Kell di telinga Rosella di detik-detik wanita itu akan meregang nyawa.


"Apa kau suka pembalasan dariku, bibi?! Bisik Kell dengan seringai jahat.


"Bersyukurlah, karena aku langsung mereguk nyawamu, dan aku tidak perlu menguliti mu," bisik Kell dengan nada menakutkan.


"Aku, harap, kau menyukai hadiah pembalasan dariku," lirih Kell dengan senyum puas.


Kell merasa bahagia, menyaksikan sendiri ratu Rosella menunggu ajalnya datang menjemput.


"Selamat tinggal, bibi. Semoga kalian bisa bertemu di neraka," sinis Kell.


Setelah itu Kell menjauh dari ranjang dengan langkah mundur.


Ia masih menatap Rosella yang sedang merasakan sakit di saat ajalnya mulai datang kepadanya.


Mata yang yang terlihat ke atas dan mulut yang menganga dengan suara yang terdengar tercekat.


"Selamat jalan, bibi!" Ujar Kell dan gadis itu pun tertawa puas.


Ia menatap sinis kepada Martin yang sudah meregang nyawa.


"Oh pria seksi yang malang."


"Selamat tinggal!"


"Semoga kalian terus bersama di sana."


Kell pun kembali tertawa puas. Segera saja Kell keluar dari penthouse ratu Rosella dengan tingkah yang biasa saja.


Dengan santainya, Kell berjalan kembali ke arah lift sambil bersenandung riang.


"Kakak, aku datang!"