Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 111


"Aku, pangeran Griffin Alexander, memberikan sepenuhnya tanggung jawab, dalam istana ini kepada, istriku, Amber Griffin Alexander. Semua titah dari istriku adalah sebuah perintah, maka patuhi semua perintah istriku. Siapa saja yang membangkang, maka akan dikeluarkan dari istana dan juga dari daftar anggota kerajaan." Bram memberikan ultimatum kepada seluruh penghuni istana, agar mereka menghormati Istrinya dan harus mematuhi segala ucapan sang istri.


"Tidak ada yang boleh mengganggu dan menyela titah yang aku ucapkan," seloroh Bram, ketika salah satu dari anggota kerajaan ingin mengeluarkan protes.


"Ini adalah perintah dari pewaris tahta kerajaan ini, maka patuhilah, perintahku. Kalau kalian keberatan, kalian bisa meninggalkan istana ini," pungkas Bram dengan tegas dan penuh kewibawaan.


"Satu lagi! Bram menatap kedua anak kembarnya dan membawanya mendekat kepadanya.


"Mereka, adalah putra dan putriku, yang berarti, keduanya adalah darah dagingku yang sebenarnya. Dan mereka adalah pewaris sebenarnya," sarkas Bram dengan tatapan penuh arti ia berikan kepada ratu Rosella.


"Bagaimana, dengan pangeran Robert?" Tanya salah satu petinggi di istana.


"Dia bukan darah dagingku, kalian juga tahu itu, kalau aku menikahi Camelia dalam keadaan hamil dan dia hamil anak dari putra semata wayang, ratu Rosella," ungkap Bram, yang membuat ruangan itu menjadi ricuh.


"Jaga, ucapan anda, pangeran," sela Martin dengan wajah dingin.


"Kenapa? Apa aku salah? Bukankah, kenyataannya seperti itu ratu, Rosella–? Bram menatap sinis Kepada ratu Rosella, yang hanya bisa diam dengan seribu bahasa.


Wajahnya memang terlihat tenang dan masih penuh keanggunan, namun siapa yang tahu, kalau dia berusaha menahan gejolak amarahnya dan juga rasa gugup


"Ada lagi yang ingin, kau sampaikan, pangeran?" Tanya ratu Rosella tenang.


"Kalau, tidak ada lagi, maka penyambutan ini di bubarkan!" Pinta sang ratu Rosella.


"Ini adalah urusanku, kalau kau sudah tidak nyaman berada disini, maka keluarlah," sahut Bram dengan nada datar.


Para penghuni istana terlihat, kaget dengan sikap pangeran Griffin yang begitu dingin dingin kepada ratu Rosella.


Tidak ada rasa hormat dan juga rasa takut terlihat di raut wajah Bram. Yang ada hanya raut wajah datar dan dingin.


"PELAYAN!" Panggil Bram dengan lantang.


Kepala pelayan di istana itupun, maju dan berdiri di hadapan pasangan suami-istri dan juga anak kembarnya dengan setengah membungkuk badan.


"Siapkan, kamar untuk, pangeran Bryan dan putri Bryana. Aku ingin kamar yang luas dan mewah untuk anak-anakku," perintah Bram datar.


"Tapi kamar yang anda minta, sudah tidak ada lagi yang, mulia," lapor sang kepala pelayan.


Bram menoleh ke arah kepala pelayan istana dengan alis menyengit tajam.


"Bukankah, di istana ini terdapat puluhan kamar? Lalu apa maksud kamu?" Tanya Bram dingin.


"Mak—sud saya se—mua kamar yang anda pesan terpakai yang, mulia," ujar sang kepala pelayan dengan nada gugup.


"Aku, tidak ingin tahu. Sekarang aku minta, kalian siapkan kamar terbaik untuk anak-anakku," bentak Bram dengan wajah geram.


"Aku, ingin kamar di lantai paling atas!" Sela Amber.


Kepala pelayan istana sontak mengangkat kepalanya dan menatap Amber sejenak.


Semua para bangsawan di ruangan itu, berbisik dengan harap-harap cemas.


Mereka takut, kalau kamar yang dimaksud oleh pangeran Griffin adalah kamar yang mereka tempati.


Dengan berani, pelayan istana itu menyampaikan sesuatu kepada putri Amber.


"Maaf, tuan putri, kamar yang anda maksud sudah ditempati oleh, putri Sisilia," ungkap sang pelayan.


"Aku, tidak mau tahu, yang jelas aku menginginkan kamar itu," ujar Amber bersekeras.


-


"Lakukan yang diinginkan, istriku," titah Bram.


"Baik yang mulia?"


"Dalam satu jam, aku ingin kamar itu sudah selesai. Dan Lemparkan semua barang-barang yang ada di dalam kamar itu keluar, atau perlu bakar!" Perintah Bram yang membuat si pemilik kamar menjadi panik.


"Aku tidak ingin pindah dari kamar itu!" Sela putri Sisilia, yang merupakan sepupu Bram dari sang mommy.


"Itu sudah menjadi kamar milikku dan aku tidak akan pindah ke mana pun!" Tolak gadis itu dengan wajah marah.


"Aku, tidak peduli," sahut Amber dingin.


"Tidak bisa! Itu adalah kamar kesayanganku!" Bentak Sisilia.


"Aku, adalah anggota keluarga kerajaan dan kau hanya wanita dari kasta rendahan yang memiliki keberuntungan menikahi kakak sepupu, dengan cara licik, agar kau bisa melahirkan keturunan dari seorang bangsawan. Dasar wanita murahan." Sisilia yang sudah tidak dapat menahan emosinya kini meledak juga. Ia mengeluarkan kata-kata kasar kepada Amber dan juga hinaan.


Sisilia sendiri terkenal sikapnya yang sombong dan angkuh, yang hanya bisa menghambur-hamburkan uang dan berfoya-foya.


"Plak" satu tamparan, Amber berikan di pipi mulus gadis itu, yang membuatnya meringis kesakitan.


"Seret dia keluar dari istana ini!" Perintah Amber di hari pertamanya bergelar seorang wanita bangsawan.


"Jangan, biarkan dia membawa sepeserpun dari hasil aset kerajaan ini!"


"Tidak ada yang boleh menolongnya!"


"Biarkan, dia merasakan hidup di luar sana tanpa sepeserpun uang!"


"Apa ada yang ingin menyampaikan protesnya, silahkan angkat kaki dari istana ini!"


"Mommy!"


"Sisilia, putriku."


"Lepaskan putriku, wanita sialan, MURAHAN,"


"Plak"


"Seret dia juga keluar dari istana ini!"


"Ingat dengan peraturan baru dari kerajaan Alexander, kalau kalian menghinaku, maka kalian harus keluar dari istana ini."


"Kau hebat, sayang."


"Kita, harus menyingkirkan mereka satu persatu."


jangan lupa, like dan komentarnya yang sahabat dumay 😍😍😍🥰🥰