Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 138


"Mommy dan daddy serius, kita akan tinggal bersama?" Dengan wajah berbinar bahagia, Bryana bertanya kepada Amber dan Bram, soal ucapan kedua orang tuanya.


"Hu'um!" Sahut Amber dan Bram bersamaan.


"Really?"


"Really!"


Si kembar pun berdiri di atas ranjang pasien dan berlomba-lomba serta bersorak kegirangan.


"Hore, hore, hore."


"Kita akan tinggal bersama, mommy dan daddy,"


"Kita tidak akan berpisah lagi," sorak sikembar dengan wajah yang begitu bahagia.


Amber dan Bram merasa tertohok dengan sorakan sang anak.


Mereka sebagai orang tua merasa bersalah, dengan menteralkan anak-anaknya.


Mereka merasa bersalah dan merasa egois, tidak melihat keinginan kedua anaknya, melihat kebahagiaan anak-anak mereka.


Bram dan Amber, hanya mementingkan urusan keduanya tanpa peduli kepada impian dan kebahagiaan kedua anak kembarnya.


Amber mengusap air matanya dan ia ikut tertawa lepas, saat si kembar mengelitik perutnya.


Bram hanya bisa menghela nafas lega, keputusan yang dia ambil kali ini, adalah keputusan yang sangat tepat.


Ia tidak ingin menjadi orang tua yang egois lagi.


Sekarang lah waktunya Bram, sebagai seorang daddy memberikan kebahagiaan dan perlindungan buat istri dan kedua anaknya.


Bryan menarik tangan sang daddy untuk ikut bercengkrama bersama.


Keluarga kecil itupun tertawa bahagia dan saling bercanda riang penuh kehangatan dan kebahagiaan.


Senyum ceria dan wajah bahagia kedua anak kembar Amber terus terpancar, membuat orang-orang yang melihatnya, ikut berbahagia.


~


"Morning, baby!" Sapaan suara berat nan seksi, menyambut indera pendengaran gadis berparas imut yang masih terbaring di atas ranjang pasien.


"Wake up, baby," bisiknya lembut yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang, apalagi Indra penciumannya dapat menghirup aroma mint dari mulut seseorang yang berbisik di atas wajahnya.


"Astaga, apa ini?" Batinnya, saat ia merasakan daging lembut membelai bibirnya. Daging lembut nan manis, hangat dan beraroma mint menyegarkan.


Gadis bersurai coklat sebahu itu, mengerjapkan perlahan matanya.


Suara lenguhan lembut pun keluar dari mulutnya, bersamaan benda lunak nan lembut, manis plus beraroma mint itu terlepas dari bibirnya.


Tak lama kemudian, kelopak mata lebar yang memiliki iris mata hijau itu pun terbuka sambil mengerjap-ngerjap perlahan, yang terlihat menggemaskan di pandangan pria dewasa yang wajahnya masih setia berada di atas wajah sang gadis.


"Morning, baby!" Bisik Carlos dengan senyum hangat ia berikan kepada gadis imunnya.


Kitty yang masih menyesuaikan netranya dengan cahaya matahari yang menyilaukan matanya, tertegun saat mendengar sapaan lembut di samping telinganya.


Kelopak mata Kitty berkedip-kedip lucu dengan mulut terbuka, jangan lupa wajahnya terlihat kaget.


"Cup" sekali lagi Carlos mengecup bibir mungil gadisnya yang terbuka dan kesempatan yang tidak akan ia sia-siakan untuk menghisap dan ******* sebentar bibir gadisnya itu.


Sedangkan Kitty, masih terbengong dengan apa yang ia terima pagi ini.


Mata masih tertutup dan disambut suara berat menggoda dan juga aroma mint yang begitu memabukkan.


Satu lagi benda lunak yang menabrak bibirnya berkali-kali dan mengobrak-abrik bibirnya.


Carlos masih menyesap lembut bibir mungil Kitty yang begitu menguji jiwa liarnya sebagai pria normal, menghisap, *******, bahkan menggigit kecil bibir mungil itu.


Kitty mencoba menarik kesadarannya, yang tiba-tiba menghilang entah kemana, meninggalkan dirinya yang terlihat konyol.


Antara ingin menyudahi atau menikmati plus pengen lagi.


"Oh bibir yang manis," batin Kitty.


"Kau mengatakan sesuatu, baby?" Tanya Carlos yang bibirnya masih menempel di bibir Kitty.


Kitty terkesiap dan kesadarannya pun segera kembali, saat suara berat yang dapat menggoyahkan hati itu menyapanya.


"Mr. Darling?" Cicit Kitty sambil bangun dari tidurnya, duduk dan bersandar di sandaran ranjang.


"Mr. Darling?" Carlos membeo. Niatnya terhenti yang akan mengambil Kitty segelas air di atas nakas dan menatap gadisnya dengan alis terangkat sebelah.


"Mr. Darling?" Ulang Carlos sambil menyerahkan segelas air putih kepada Kitty.


"Hm!" Gumam Kitty yang sedang meminum air yang diserahkan Carlos tadi.


"No, Mr, baby," protes Carlos.


"Tapi darling, tanpa Mr," ujar Carlos.


"Kenapa?" Tanya Kitty sambil mendesis.


"Kar —-" Carlos tidak melanjutkan ucapannya ketika mendengar desisan Kitty.


"Ada apa? Apa ada yang sakit? Dimana, bagian mana?" Cerca Carlos khawatir.


"Tidak!


"Lalu?"


"Aku ma —"


"Pret" ucapan Kitty terjeda oleh kecepatan suara sesuatu yang membuat Carlos menganga.


"Maaf, Mr. Darling, kebiasaan kalau bangun tidur," ucap Kitty tanpa dosa dan memamerkan cengirannya yang imut.


"Oh Tuhan, suara mantra itu lagi, dan sialnya aku mengagumi gadisku ini. Patut diperjuangkan." Carlos membatin.