Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 119


Pertarungan masih terlihat di rumah tua, yang terletak di dasar tebing.


Amber, Bram dan Carlos, masih melawan para musuh, yang ternyata jumlahnya tidaklah sedikit.


Ketiganya kini hanya mengeluarkan segala tenaga mereka untuk membasmi semua para musuh.


Amber sendiri melawan beberapa pria bertubuh besar dengan sangat mudah, ia hanya mengandalkan belati kesayangannya.


Sedangkan Bram mengalah para musuh dengan mengandalkan bela diri yang ia miliki dan juga ke ahlinya dalam mengendalikan senjata api.


Bram berada jauh dari sang istri, ia berada di lantai dua, sedangkan Amber berada di ruangan tengah.


Sementara Carlos menyusuri dan memeriksa beberapa kamar yang ada di lantai dua, dengan Bram yang melindunginya dari belakang.


"Sial, sial, sial!" Erang Carlos.


Bram yang mendengar erangan Carlos, pun mendekat. Ia memberi serangan mematikan kepada beberapa pria di depannya dengan timah panas.


Bram mendekati sang kakak dengan raut penasaran.


"Ternyata, kita di jebak!" Seru Carlos saat mendengar langkah sang adik mendekat ke arahnya.


"Di jebak?" Bram membeo.


"Hum! Brengsek. Dasar wanita licik!" Maki Carlos frustasi sambil mengajak rambutnya.


"Berarti, mereka tahu pergerakan kita," sela Bram yang mengedarkan pandangannya ke dalam kamar.


"Maybe! Jawab Carlos malas.


"Bukankah, itu artinya mereka mengintai kita di dalam istana?" Timpal Bram sambil melangkah bke dalam kamar kosong itu.


"Seperti begitu, dan itu artinya – kedua anak kembar itu dalam bahaya," sela Carlos.


"Bukankah, itu berarti di masuk ke dalam perangkat kita juga? Dan aku rasa kita tinggal menunggu kabar darinya," sahut Bram.


"Apa kau merasa kamar ini, baru saja di tinggal oleh pemiliknya?" Ujar Bram tiba-tiba.


"Apa?" Carlos mengalihkan tatapannya kepada Bram yang melihat sebuah gelas dan juga obat-obatan ada di atas nakas.


"Sepertinya, ada yang tinggal di sini dan sedang sakit?" Gumam Bram


Carlos mengalihkan mendekat ke arah ranjang dan ia bisa melihat beberapa alat medis berada di sana dan juga tempat tidur yang seperti baru saja ditinggal oleh sang pemiliknya.


Alis Carlos mengkerut sambil mengamati setiap tempat tidur.


Ia semakin dekat, bahkan naik ke atas ranjang, ia meraba-raba tempat itu yang masih terasa hangat. Dan juga bekas air tumbuh di atas ranjang yang masih basah.


Carlos melirik ke samping di mana di atas nakas terdapat beberapa obat-obatan dan juga sesuatu yang berkilau membuat perhatiannya tertuju kepada benda indah dan berkilau tersebut.


Carlos duduk di tepi ranjang dan meraih sebuah kalung yang berliontin batu Ruby kecil, berwarna biru.


Carlos menatap intens pada benda berkilau tersebut dengan perasaan yang begitu mendebarkan.


"Kemarilah!" Panggilannya kepada sang adik yang sedang memeriksa keadaan kamar.


"Apa kau mengenal ini?" Carlos memperlihatkan sebuah kalung yang ditemukannya kepada sang adik.


Dengan mata menyipit ke arah benda yang diperlihatkan sang kakak.


Bram memandangi kalung itu dengan lekat dan dalam.


Ia pun meraihnya dari tangan carlos dan lebih mendekatkan ke arah wajahnya.


Wajah Bram tampak serius memindai benda berkilau tersebut.


Kadang ia mengerutkan alisnya yang membuat kedua alisnya hampir menyatu, menyipitkan matanya dan juga mengerutkan hidung mancungnya.


"Apa kau mengingat sesuatu?" Tanya Carlos yang membuyarkan konsentrasi Bram.


"Ini – seperti milik, mommy," cicit Bram yang masih bisa didengar oleh Carlos.


"Kau yakin?" Tanya Carlos dengan harapan penuh.


"Hm. Aku pernah melihat ini di foto mommy," sahut Bram.


"Sial! Umpat Carlos.


"Kalau ini – punya mommy, berarti, mommy ada di sini," Sentak Bram Tiba-tiba.


"Sial. Ayo!" Tanpa memikirkan waktu banyak, Carlos menarik tangan Bram keluar dari kamar.


"Aku berharap, mereka belum jauh membawa, mommy!" Seru Bram.


Carlos dan Bram kini menuruni tangga dengan berlari kencang, suasana di bawah pun sudah sunyi.


Itu berarti amber mampu melawan mereka semua. Dengan cepat.


"Ada apa?" Amber yang terduduk di kursi makan menatap kedua adik-kakak itu heran.


"Ayo! Kita tidak banyak waktu," ajak Bram yang segera menarik tangan istrinya.


"Kalian mendapatkan petunjuk?" Tanyanya lagi.


"Mommy dibawa oleh mereka," timpal Bram yang kini berada di balik kemudi.


"Benarkah!?


"Yap. Dan semoga saja kita bisa mengejar mereka."


"Pasangan sabuk pengaman, sayang! Perintah Bram sambil menekan pedal gas mobil.


"Apa kalian siap?"


"Hm! Sahut Amber dan Carlos dengan gumaman.


Tak lama kemudian, Bram melajukan mobil mereka dengan kencang, sehingga terlihat daun-daun berterbangan saat dilalui oleh mobil mereka yang melaju sangat cepat.