
King Philips dan sang ratu Agatha kini sudah duduk di sebuah sofa mewah di ruangan keluarga Mansion mewah miliknya.
King Philips menandingi kedua putranya saling bergantian.
Ia harus memberikan titah kepada salah satu putranya, untuk meneruskan tahta kerajaan Alexander.
Ia masih menatap dalam kedua putranya itu yang duduk di hadapannya sambil menundukkan kepala mereka.
King Philips beberapa kali terdengar menghela nafas dan menghembuskannya.
Ratu Agatha dengan lembut mengusap telapak tangan suaminya dan tersenyum hangat.
Sebagai istri yang sudah menemani sang suami bertahun-tahun dan pada akhirnya mereka terpisah oleh sebuah kelicikan seorang wanita, tidak membuat rasa peka ratu Agatha kepada suaminya menghilang.
Dia selalu tahu apa yang suaminya rasakan dan membuatnya gelisah.
Sebagai istri yang setia, ratu Agatha hanya bisa mendukung dan memberikan ketenangan kepada king Philips.
Ratu Agatha tersenyum dan mengangguk. " Katakanlah," bisiknya.
Bram dan Carlos, hanya bisa menunggu titah dari sang daddy.
Meskipun mereka sudah memiliki privasi masing-masing, namun kedua pria ini masih menghargai kedua orang tuanya dan mereka masih menerimanya.
Boy dan lainnya turut bergabung di sana, pun dengan Kitty dan kedua kakaknya.
Kitty yang kini menggelayut manja di lengan nenek angkatnya, bibi lili yang senantiasa memanjakan gadis imut itu.
Kitty yang lugu dan konyol itu, tidak memperdulikan keadaan dan suasana tegang sedang terjadi di ruangan luas tersebut.
Dia hanya menikmati pelukan hangat sang nenek yang mengusap kepalanya lembut, membuatnya ingin memejamkan mata, namun bibi lili melarangnya, katanya tidak sopan.
~
"Ehem" king Philips berdehem penuh ketegasan.
"Carlos!" Serunya.
Carlos masih setia menundukkan kepalanya sambil menghela nafas.
"Ya, dad," sahutnya.
"Kita, kembali ke Inggris," titah king Philips.
"Besok bersiaplah, kita akan kembali," lanjut king Philips.
Carlos mendongak dan hanya bisa memandangi sang daddy pasrah.
"Kau bersedia ikut, anakku?" Tanya ratu Agatha.
Carlos masih terdiam dengan tatapan kini mengarah ke satu sosok, yaitu, Kitty nya.
Ratu Agatha dan king Philips menyerngit heran dengan kediaman sang putra.
Kedua orang tua itu pun mengikuti arah pandang putra mereka dan kedua menghela nafas.
"Kau bisa membawanya," ucap king Philips pelan yang menyerupai bisikan.
Ia baru faham kalau putranya ini sedang dilema kepada seorang gadis mungil.
"Dia tidak akan mau, dad," timpal Bram.
"Kenapa?" Sela ratu Agatha dengan bertanya.
"Dia gadis di bawah umur," bisik Bram.
Yang langsung mendapatkan sikutan dari Carlos.
"Really?" Pekik king Philips dan ratu Agatha.
"Yap, dad," ucap Bram dengan tersenyum usil.
"Kami akan mencarikan jodoh lain untukmu, son," ujar ratu Agatha.
"TIDAK!" Teriak Carlos.
Membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut, mendengar teriakkan Carlos.
"Aku hanya menginginkannya," ucap Carlos dingin.
"Dia masih kecil, nak," sahut ratu Agatha.
"Aku akan menunggunya," tegas Carlos.
"Kau, akan menjadi pewaris son dan kau membutuhkan pendamping," timpal king Philips.
"Aku tidak peduli. Yang jelas aku hanya menginginkannya," pungkas Carlos dengan wajah tegas tak terbantahkan.
"Biarkan dia bertanggung jawab, mom," seloroh Bram.
"Tanggung jawab?! Sahut king Philips dan ratu Agatha.
"Hm."
"Diamlah, laknat!" Geram Carlos memperingati sang adik.
"Dia sudah menodai gadis itu," bisik Bram.
"APA!" Teriak king Philips dan ratu Agatha.
Kembali semua orang terkejut dan heran dengan arah obrolan mereka.
"Hust," kode Boy kepada Bram.
Bram menoleh kesamping di mana sahabatnya itu memasang wajah penasaran.
"Ada apa?" Tanyanya tanpa suara.
Bram hanya melirik ke Kitty yang tidak mengetahui apa-apa.
Boy hanya membukakan mulutnya yang ber oh ria.
"Kau serius melakukan itu kepada dia, son?" Tanya king Philips tegas.
"No, dad," elak Carlos.
"Terus?"
"Dia hanya menodai pikiran polos gadis itu, dad. Dia mencium bibir gadis lugu itu," sambung Bram yang menjawab pertanyaan king Philips.
"Diamlah, bodoh!" Erang Carlos.
"Benarkah?"
Carlos terdiam yang mengartikan ia, dan kedua orang tuanya hanya bisa menghela nafas mereka.
"Kitty!" Panggil ratu Agatha.
Kitty yang merasa namanya dipanggil pun menoleh.
"Saya, nyonya?" Tunjuk Kitty pada wajahnya.
"Apa ada nama lain selain dirimu, gadis dataran rendah?" Sahut Boy.
Kitty menggelengkan kepalanya dengan wajah bingung.
"Kemarilah, sayang," suruh ratu Agatha.
Kitty menjauhkan tubuh mungilnya dari sang nenek dan melihat sang nenek.
Bibi lili yang melihat raut wajah bingung sang cucu kesayangan, hanya bisa mengangguk kepalanya.
Kitty pun bangkit dan mendekati ratu Agatha dengan kepala menunduk.
"Ahk!" Pekik Bram saat si Kitty tanpa sengaja menginjak ibu jari kakinya.
"M — maaf tuan?" Ucap Kitty terbata.
"Astaga ini sakit sekali," keluh Bram.
Carlos hanya bisa tersenyum tipis melihat tingkah ceroboh gadis imutnya.
Sedangkan Boy terkekeh dan ratu Agatha dan king Philips hanya terdiam.
Saat tangan mungil gadis itu akan menyentuh ibu jari Bram, tiba-tiba tubuhnya terasa ditarik.
"Apa yang kau lakukan," sentak Carlos yang tidak suka Kitty menyentuh sang adik.
"Cih! Bram hanya berdecak sinis.
"Dasar pria karatan posesif," cibirnya.
"Aku hanya ingin melihat jempolnya," sahut Kitty dengan bibir merengut kesal.
Carlos hanya bisa menahan nafasnya saat melihat benda merekah nan manis milik gadisnya.
"Tutup mulutmu!" Sentak Carlos tiba-tiba.
Sontak saja Bram, Boy yang akan mengejek Carlos mengatupkan mulut mereka dan Kitty pun turun menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
King Philips dan ratu Agatha hanya bisa melongo melihat tingkah konyol keempat orang di hadapannya.
Sedangkan yang lainnya hanya bisa memutar bola mata mereka.
Tidak dengan Kell yang sejak tadi menahan sesak dalam dadanya, ia hanya bisa mengepalkan tangannya dengan hati yang panas.
Kenapa adiknya itu selalu menjadi perhatian semua orang. Kenapa tidak dengannya.
"Kenapa. Kenapa. Apakah ia harus berpenampilan seperti Kitty adiknya yang konyol dan BODOH itu" batin Kell.
"Kitty, sayang!" Seru ratu Agatha.
"Saya, nyonya cantik," sahut Kitty dengan wajah ceria.
Ratu Agatha tersenyum hangat melihat keceriaan gadis di hadapannya.
"Apa kau ingin ikut bersama, kami?" Tanya ratu Agatha hati-hati.
"Ikut? Ikut kemana, nyonya," jawab Kitty.
"Ke istana,"
"I — istana?"
"Hm!
"Apa anda salah satu teman dari keluarga kerajaan?" Pekik Kitty.
"Kenapa?"
"Karena kalau anda salah satu kenalan keluarga kerajaan, berarti aku bisa meminta tolong pada anda, untuk memintakan aku menjadi salah satu pengawal kerajaan," pungkas Kitty dengan raut wajah senang.
Ratu Agatha dan king Philips pun semua yang ada di sana terpengarah oleh ucapan Kitty.
"Apa kau tidak mengetahui siapa kami, nak?" Tanya king Philips dengan mata memicing ke arah sang putra.
"Tidak!" Kitty menggeleng dan menatap king Philips dengan intens.
"Tunggu!" Sentak Kitty.
"Ada apa? Kau baru mengingat dan mengenal kami?" Sahut king Philips dengan tersenyum lega.
"Hm. Bukankah, anda tukang kebun, tuan boy?" Tanya Kitty dengan wajah yang sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Byur, uhuk" Boy menyemburkan air putih yang ia minum dan terbatuk-batuk.
King Philips hanya bisa menganga dan mata berkedip-kedip, begitu pun raut wajah ratu Agatha.
Sedangkan Bram hanya bisa melongo dengan mulut menganga.
Carlos hanya bisa melemaskan tubuhnya dan menyadarkan punggungnya.
"Iya kan, tuan?" Tanya Kitty lagi.
Bibi lili berdiri dan mendekati sang cucu dan diikuti Ken yang mencoba mendorong kursi rodanya.
"Dasar naif," cibir Kell.
"Sayang!" Seru bibi lili dan Ken bersamaan.
Kitty membalikkan badannya ke belakang dan menatap bibi lili dan Ken bingung.
"Ada apa?" Tanya Kitty.
"Jaga ucapanmu, sayang." Bibi lili berbisik di telinga cucunya.
"Kenapa, nek. Dia kan tukang kebun tuan Boy dan nyonya Ruby?" Ucap Kitty.
"Sayang, dia adalah seorang, —" Ken tidak dapat melanjutkan ucapannya saat Kitty yang menyelanya.
"Penjahat yang menyamar!" Pekik Kitty.
Yang lagi, membuat Boy dan Bram terbatuk-batuk dan membuat sang raja kembali melongo.
"Astaga," keluh Carlos.
"B — bukan sayang," sahut bibi lili terbata.
"Lalu?"
"Dia seorang raja nak dan wanita itu ratu," jelas bibi lili.
Kitty menoleh ke arah king Philips dan ratu Agatha dengan raut wajah terkejut.
Lama-lama ia pun merasa bersalah yang tidak sopan.
Sekujur tubuhnya tiba-tiba membeku dan kakinya terasa berat.
Mulutnya pun terasa kelu dan keringat dingin pun bercucuran dengan wajahnya yang tampak memucat.
Sesuatu di dalam perutnya terasa mendesak ingin keluar.
Carlos yang mengerut keningnya bingung karena tidak ada sahutan suara cempreng Kitty, segera mendongak dan ia pun mulai waspada melihat raut wajah gadisnya.
King Philips dan ratu Agatha pun kebingungan dengan raut wajah Kitty. Begitu juga dengan Boy dan Bram yang menatap Kitty bingung yang wajahnya sudah merah seperti menahan sesuatu.
"Aku mengenal, ekspresi wajah ini," gumam Boy.
"Ayo, nak," bisik bibi lili yang mengetahui keadaan sang cucu.
"TUTUP TELINGA KALIAN!" teriak Carlos.
Boy dan Bram terheran dengan perintah Carlos, pun dengan yang lain.
"AKU PERINTAHKAN, TUTUP TELINGA KALIAN! Teriak Carlos sekali lagi.
"Ayo, nak!" Ajak bibi lili.
"Ada apa bi? Kenapa dengan wajahnya?" Tanya Ken khawatir.
"Ada apa, son?
"Kenapa dengan wajahnya?"
"Apa di —"
"Pretttt!!!"
Kali ini semua orang di buat menahan nafas saat mendengar bunyi sesuatu yang sangat mencengangkan.
"Wow, amazing! Boy.
"Sangat langka yang patut di banggakan!" Bram.
"Bunyi apaan tuh?" King Philips.
"Aku tidak percaya ini," ratu Agatha.
"Wow," Ken dengan wajah bodoh.
"Kitty!! Carlos dengan menggeram frustasi.
"Maaf, aku tidak sengaja," Kitty terkekeh.
coming soon kisah Kitty dan Carlos Minggu depan yang emak-emak 😁😁☺️☺️🥰