Cintai Aku Om

Cintai Aku Om
Rumah Reyhan


Perjalanan ke rumah Reyhan memang cukup lama, Kanaya sampai tertidur di kursi penumpang. Dalam tidurnya Kanaya terlihat gelisah, keringat dingin sampai memenuhi dahi dan lehernya.


"Nay ... Kanaya bangun." Reyhan mengguncang tubuh mungil Kanaya.


"Hah... Jangan .. Hah!" Kanaya terjingkat bangun, nafasnya tersengal, seolah telah lari puluhan kilometer.


"Kamu kenapa?" Tanya Reyhan dengan alis yang bertaut.


"Nggak apa-apa kok Om, Naya cuma mimpi buruk," kilah Kanaya cepat, ia mengusap keringat yang membasahi dahinya


"Turun, kita udah sampai."


Reyhan pun tak bertanya lebih jauh, ia kemudian membuka pintu belakang mobil untuk mengambil barang-barang Kanaya.


Kanaya turun dari mobil, ia melihat rumah Reyhan dengan takjub. Sebuah rumah mungil yang tampak asri. Halamannya penuh dengan bunga mawar kesukaan Kanaya, halamannya tak begitu luas tapi cukup untuk memarkir sebuah mobil lagi. Kanaya memperhatikan sebuah bangunan kecil yang terpisah di halaman yang menghadap kearah selatan, seperti sebuah ruko dekat rolling door berwarna hijau.


"Itu apa Om?" Tanya Kanaya sambil menunjuk bangunan berbentuk persegi itu.


"Bengkel, tempatku bekerja," jawab Reyhan singkat tanpa menoleh, Kanaya manggut-manggut mendengar jawaban Reyhan.


Dia baru tahu kalau Reyhan seorang montir, tak masalah bagi Kanaya. Sebab ia juga bukan tipe cewek yang suka hidup hedon, Kanaya diajarkan hidup sederhana oleh Omanya. Kanaya saja baru tahu kalau harga Oma tanah Oma Eni ada di mana-mana saat pembacaan warisan kemarin. Di hanya tahu kebuk kopi yang dirawat ayahnya saja,Ayah yang enggan menganggapnya anak.


Kanaya melangkah mengikuti Reyhan yang sudah berdiri di depan pintu rumah, pria itu mengeluarkan kunci dari saku kemudian membuka pintu bercat putih itu. Dengan sedikit dorongan pintu terbuka, Reyhan masuk sambil menenteng tas milik Kanaya.


"Assalamualaikum."


"Waallaikumsalam," sahut Reyhan.


Kanaya tersenyum, matanya mulai menyapu sekeliling ruang tamu. Tak ada foto siapapun, hanya sebuah lukisan bunga yang tergantung. Kursi rotan dan sebuah hiasan bunga kering yang ada di sudut sebelah jendela.


"Naya!"


"Iya Om," sahut Kanaya sambil berlari kecil ke arah sumber suara.


"Kamu ngapain diem di sana?"


"Ya, liat-liat aja Om, nggak boleh ya."


Reyhan memutar matanya jengah.


"Nah, ini kamar kamu. Kamu bisa taruh barang-barang kamu di sini, " ujar Reyhan sambil menunjuk pintu sebuah kamar.


"Maksudnya Om? Kamar Kanaya gimana? Kanaya nggak tidur sama Om? Tapi kita kan suami istri Om begitu?" Cerca Kanaya dengan tatapan penuh selidik.


"Iya, aku akan ada kamar ini kalau kamu butuh sesuatu," jawab Reyhan singkat.


Dahi Kanaya semakin berkerut heran." Beneran kita nggak sekamar?"


Reyhan mengangguk.


"Kita nggak sama seperti suami istri pada umumnya Kanaya, perjodohan kita ini terlalu cepat. Kamu masih sekolah. Om nggak mau sampai ganggu waktu belajar kamu kalau kita sekamar," kilah Reyhan, ia memasukkan anak kunci kedalam lubang, ia kemudian membuka pintu kamar yang akan di tempati Kanaya.


"Kanaya nggak mau! Nggak mau! Pokoknya Naya mau satu kamar sama Om!" Kanaya menghentakkan kakinya kesal, ia tak iku masuk kamar.


Kanaya memilih melangkah ke ruang tamu, ia menghempaskan tubuh dengan kasar hingga membuat kursi rotan berderit. Melipat tangan sambil manyun, ia heran dengan Reyhan. Kenapa laki-laki itu selalu saja seperti menghindari Kanaya, padahal mereka sudah sah sebagai pasangan walaupun masih siri.


Setelah meletakkan tas dan merapikan kamar Kanaya, pria itu keluar. Reyhan tersenyum miring melihat tingkah Kanaya yang tak ubahnya seperti anak kecil, ia pun memilih untuk beristirahat di kamarnya, perjalanan yang cukup jauh membuat Reyhan lelah.


Cukup lama Kanaya duduk di ruang tamu itu, begitu hening. Hanya suara detak jam dinding yang menemaninya, malam semakin larut. Kanaya memeluk erat lutut yang ia naikkan ke atas kursi, ia tidak menyangka Reyhan akan mengacuhkan Kanaya seperti ini. Malam pertama mereka berlalu begitu saja, tak seperti bayangan Kanaya. Dimana dia bisa menghabiskan malam yang hangat dalam dekapan Reyhan.


Kanaya malam meringkuk sendirian di ruang tamu, Kanaya merebahkan tubuhnya di kursi tempat ia duduk. Gadis itu tak kuasa menahan kantuk yang mendera.


Suara adzan mengalun membangunkan Kanaya dari tidurnya, ada rasa tidak nyaman pada area bawah perutnya. Lirih, Kanaya mendesis merasakan nyeri dan ngilu yang merambat di sana, seolah ada jarum yang menusuk-nusuk secara konstan di sana. Tangan Kanaya memegang pinggul seperti berkacak pinggang tapi agak ke bawah, seiring tubuhnya yang semakin menunduk.


Perlahan gadis yang baru sadar dari tidurnya itu bangkit dari kursi rotan tempat ia terlelap. Satu tangan Kanaya terulur kebelakang, mengusap di antara bongkahan pantat yang terasa basah. Dan benar saja, ada cairan yang merembes keluar dari area inti Kanaya, dia berpikir jika itu air seni, pasti akan sangat memalukan ngompol di hari pertama masuk rumah suami. Namun, rasa penasaran Kanaya segera terjawab, cairan merah pekat terlihat di telapak tangannya.


Mata Kanaya membulat sempurna, melihat tangan yang merah oleh cairan lengket berbau amis itu, ia menoleh dan mendapati di tengah bantalan kursi rotan sudah ada pulau dengan warna yang sama.


"Anjir bocor!" Umpat Kanaya, dengan masih merasakan nyeri Kanaya berjalan perlahan ke kamar yang disiapkan Reyhan.


Kanaya langsung membuka tas miliknya yang di letakkan Reyhan di atas kasur. Dengan cepat Kanaya menarik resleting tasnya, mengeluarkan buku dan beberapa bahu yang ia bawa, mencari benda penyelamat.


"Duh gimana nih! Masa nggak ada sih? Perasaan tadi aku bawa." Kanaya berkacak pinggang, satu ujung jempolnya sudah berada di bibir. Kebiasaan Kanaya saat cemas dan gelisah.


Sesuatu yang hangat terasa keluar dari area intinya, rasa nyeri masih terasa tetapi sudah tak sesakit tadi. Dengan perasaan malu dan tak menentu, Kanaya memutuskan untuk meminta tolong pada sang suami yang masih terlelap.


Tok


Tok


Tok


"Om ... Om Reyhan!" Panggil Kanaya, malu tapi dia buruh pertolongan Reyhan sekarang.


Tak lama seorang pria dewasa dengan wajah segar, memakai sarung, baju Koko lengan dengan peci hitam yang ada di atas kepala membuat Kanaya tertegun sejenak. Sungguh menyejukkan mata, apalagi tatapan mata Reyhan yang teduh membuat Kanaya semakin terpaku.


"Udah puas lihatnya?" Tanya Reyhan yang membuyarkan lamunan Kanaya.


Gadis itu langsung gelagapan, malu rasanya kepergok memperhatikan suami yang rupawan itu.


"Eh... Emh .. anu Om, Kanaya mau minta tolong nggak?" Tanya Kanaya Ragu-ragu dengan sedikit meningkat, jemari lentiknya saling bertaut.


"Minta tolong apa?"


"Bisa tolong beliin Kanaya pembalut nggak Om," jawab Kanaya dengan wajah yang memerah karena malu, sangat terpaksa Kanaya melakukan itu.


Reyhan menautkan alisnya, melihat Kanaya yang sedang menunduk, sambil memilin jarinya yang lentik.