
"Darimana Om tau ini cuma rasa kagum, dari mana Om tau kalau Naya nggak bener-bener cinta sama Om?!" Kanaya bertanya dengan wajah dingin.
"Om tahu apa? Om tahu apa tentang Kanaya, Om selalu anggap aku anak kecil. aku bukan anak kecil Om, aku istrimu sekarang! aku tidak perduli pernikahan ini paksaan atau tidak, nyatanya aku istrimu sah, secara hukum maupun agama dan sudah menjadi hakku untuk meminta nafkah padamu secara lahir dan batin! Apa aku salah, Om? Katakan apa aku salah? Naya cuma mau jadi isti Om seutuhnya, apa naya salah Om?!"
Kanaya memukul Reyhan yang duduk mematung degan bantal, laki-laki itu tidak menghindar. Ia biarkan Kanaya melepaskan rasa kesalnya, apa yang dikatakan Kanaya tidak salah, dia yang salah. Hampir tiga bulan mereka menikah dan belum sekalipun dia menyentuh Kanaya layaknya suami istri.
Pukulan Kanaya melemah, tanpa melihat Kanaya yang duduk di atas ranjang sambil menangis tersedu-sedu, Reyhan bangkit.
"Tidurlah kau masuk pagi, besok kau masih ujiankan?" ujarnya sebelum melangkah menjauh.
"Om, apa Om nggak sedikitpun mencintaiku?"
Tepat diambang pintu Reyhan berhenti karena pertanyaan Kanaya. Pria itu memejamkan matanya, berusaha menahan diri untuk tidak menoleh.
"Kita bicarakan ini saat ujianmu sudah selesai, sekarang tidurlah." Reyhan melanjutkan langkahnya.
Tangis Kanaya kembali pecah saat Reyhan meninggalkan dia dalam kesendirian...
.
.
.
.
.
.
.
.
Waktu menunjukan pukul dua siang, hari ini adalah hari terakhir Kanaya ujian. Dengan sengaja Reyhan menunggu kepulangan Kanaya, sudah satu minggu sejak pertengkaran terakhir mereka malam itu. Sejak hari itu Kanaya menjadi pendiam, Reyhan ingin menjelaskan semuanya, semua apa yang terjadi di antara mereka.
Reyhan berharap kanaya bisa mengerti dan setelah gadis itu mendengarkan penjelasan dari Reyhan, ia pasrah jika Kanaya ingin berpisah darinya.
'Kenapa dia belum pulang? kan seharusnya pulang jam dua belas tadi kan?" gumam reyhan sambil melirik jam yg melingkar di pergelangan tangannya.
Pria itu berjalan mondar-mandir diruang tamu, matanya melirik benda yang ia siapkan untuk Kanaya yang tergeletak di meja, Reyhan berdecak sebal. Sudah hampir jam empat sore dan belum ada khabar dari sang istri.
Sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi ponsel Kanaya. Namun, tak ada respon sama sekali. Bodohnya dia, selama ini dia jarang bertanya siapa teman-teman Kanaya, Reyhan mengusap wajah dengan kasar bingung harus menghubungi siapa.
Saat mantan duda itu merasa panik, seseorang mengetuk pintu rumahnya. Senyum Reyhan mengembang, pasti Kanaya yang datang.
"siapa kamu?" tanya Reyhan melihat seorang gadis yang berdiri memunggunginya.
Gadis itu berbalik dan tersenyum sopan. "Selamat sore Om, Kanaya ada?"
"Kanaya belum pulang," jawab Reyhan dengan nada cemas. yang sedang berdiri didepannya saat ini adalah Michi sahabat Kanaya yang datang tempo hari saat mereka melakukan syukuran.
"Belum pulang gimana maksud Om? dia tadi bareng aku kok pulangnya, kami berpisah di pertigaan tadi. Kami janji mau keluar bareng, dia memintaku menunggu tapi karena dia nggak dateng, di hubungi juga ngga nggak bisa. Jadi saya ke sini nyusul dia," Ujar Michi panjang lebar.
"Jam berapa kalian pulang?"
"Jam sebelas, dan seharusnya kami jalan jan dua tadi," jawab Michi sambil melihat jam yang melingkar pergelangan tangannya.
" Tapi dia belum pulang, aku sudah menunggu dia dari tadi." Reyhan terduduk lemas,pria itu mengusap wajahnya kasar.
Frustasi memikirkan bagaimana keadaan Kanaya saat ini, Reyhan menyesal, pria itu meruntuki kebodohannya yang beberapa hari ini. Dia pikir Kanaya hanya akan diam beberapa hari dan akan kembali seperti sedia kala. Nyatanya sekarang dia malah menghilang entah kemana.
Reyhan menggeleng. Jangankan bercerita, bicara saja hanya beberapa kata dengannya. " Ada apa? apa dia mengatakan sesuatu padamu?"
"Se-sebenarnya Kanaya pernah cerita kalau beberapa hari yang lalu dia di buntuti seseorang," jawab gadis itu yang langsung membuat Reyhan menoleh.
"Dibuntuti? kapan? dimana?" cerca Reyhan yang langsung bangkit dan mencengkram kuat lengan Michi.
"Di-Di sekolah tiga hari yang lalu," jawan Kanaya sambil meringis merasakan sakit di lengannya, sadar Michi kesakitan Reyhan melepaskan tangannya.
Tiga hari yang lalu, itu berarti hari setelah mereka bertengkar. Malam itu sebelum mereka berdebat, Kanaya memang meminta untuk diantar sang suami. namun, Gadis itu tidak menceritakan apapun tentang penguntit yang mengikutinya.
" Astaga, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Kanaya," gumam reyhan penuh penyesalan.
Ingin mencari tapi kemana, kemana dia akan memulai langkah untuk mencari keberadaan istrinya sekarang. Hatinya sangat mersa bersalah dan khawatir pada gadis itu.
Michi pun merasa takut dengan segala kemungkinan yang terjadi pada sahabatnya. Tanpa pikir panjang Michi menelfon sang Papi meminta bantuan untuk mencari keberadaan Kanaya, jika melapor pada polisi sekarang belum bisa diproses karena belum dua puluh empat jam gadis itu menghilang.
"Om kita car pake aplikasi ini yuk, kita coba. Aku juga sudah minta Papiku buat bantu," usul Kanaya ditengah kekalutan Reyhan.
Melihat aplikasi yang disarankan Michi, Reyhan pun segera mendownloadnya. Dia memang kurang update jika masalah hal-hal seperti ini, dia sangat bersyukur ada teman Kanaya yang membantunya.
Setelah berhasil mendownload dan mengikuti instruksi di aplikasi itu, titik lokasi terakhit ponsel Kanaya pun terdeteksi. Ada harapan, senyuman Reyhan mulai mengembang meskipun hatinya belum tenang.
Berbekal aplikasi yang menuntun jalan mereka Michi dan Reyhan berangkat mencari Kanaya, mereka tidak hanya berdua, Dylan tidak mengijinkan pergi sebelum tim bantuan darinya datang.
Sepuluh orang berbadan kekar dari datang ke rumah Reyhan dalam waktu kurang dari lima belas menit setelah Michi menelfon Papinya.Dengan baju serba hitam dan juga mobil hitam, mereka bersama dengan Michi dan Reyhan berangkat dalam satu mobil mencari jejak Kanaya.
Mobil hitam yang mereka tumpangi menepi di jalanan kosong, banyak gudang dan bangunan terbengkalai di sana. Reyhan turun dan mencoba menghubungi ponsel sang istri yang tiba-tiba aktif.
"kring ... kring!"
Nyaring terdengar bunyi ponsel Kanaya berdering. Reyhan dan lima bodyguard yang dikirim Papi Michi mencari asal bunyi ponsel itu, sementara sisanya menjaga Michi.
di salah satu sudut bangunan kosong bunyi ponsel Kanaya semakin terdengar jelas.
"Hey siapa kamu!? dimana istriku!?" tanya Reyhan dengan marah pada seorang remaja yang bertubuh kering berbalut baju lusuh, tangannya bergetar.
Dia menoleh, melihat Reyhan dengan ketakutan. Benda pipih di tangannya masih terus menyala, remaja itu memegang ponsel Kanaya dengan tangan seperti berdoa.
"Darimana kau dapatkan benda itu, katakan?!" tanya Reyhan dengan emosi dan membuat remaja itu semakin ketakutan.
menyadari hal itu salah satu pria berbadan kekar maju, ia tersenyum tipis, tak ingin membuat remaja itu semakin takut. Dia berjongkok dan melepaskan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.
"Nak apa ponsel itu punyamu?" tanyanya dengan tenang, remaja iyu hanya menggeleng, masih belum hilang rasa takutnya karena tiba-tiba didatangi banyak orang.
"Boleh aku melihatnya?" remaja iyu mengangguk dan memberikan ponsel yang sudah tak lagi berdering pada si pengawal.
Pengawal yang mengambil ponsel itu segera memeriksa keadaan ponsel yang masih normal, hanya ada goresan dan sedikit retak bagaian layarnya. Dia pun memberikan ponsel itu pada Reyhan.
"Siapa namamu?" tanya si pengawal pada remaja kula yang tampak kurang makan itu.
"Akmal," jawabnya dengan lirih.
"Ok Akmal, itu punya seorang teman kami. Apa kau melihatnya? dia seorang gadis memakai seragam SMA?"
"Itu, benda itu aku temukan di jalan sana tadi, ada sebuah mobil pickup hitam yang lewat. A-aku dengar seorang minta tolong tai aku tidak berani mendekat, aku takut," jawab Akmal, sambil berusaha mengingat apa yang dia lihat siang tadi saat dia sedang mencari besi di sekitar gedung.
Gedung yang setengah jadi menjadi lahan uang untuk remaja yatim piatu itu, dia menghancurkan bagian bangunan dengan sengaja agar bisa mengambil besi dari dalamnya. Saat dia melakukan pekerjaannya dia mendengar teriakan minta tolong, disusul dengan gelak tawa seorang pria yang sangat menakutkan. Akmal mendekat kearah sumber suara tapi dia hanya melihat dari jarak aman sambil bersembunyi.