
Waktu terus bergulir, perut Kanaya semakin membesar, janin yang ada dalam rahim wanita itu tumbuh dengan sehat. Semua itu tak lepas dari sang suami yang begitu memanjakan dan perhatian dengan Kanaya, ia bahkan melarang Kanaya melakukan pekerjaan rumah, dan mengerjakan semua sendiri.
"Dih enak banget sih Nay jadi kamu, udah kayak ratu, semua serba ada, mau apa tinggal minta. Udah ganteng perhatian lagi, punya saudara nggak sih suami lu, sumpah boleh deh satu buat gue," cerocos Tanti yang sedang berkunjung ke rumah sahabat itu.
"Kagak ada, kalau ada juga gue ogah jadi ipar loe. Bisa tekor gue."
"Ya elah Nay, tekor apa sih orang makan gue dikit gini."
"Dikit apaan, tuh kacang bali setoples ludes ama loe doang."
"Hehehehe ..." Tanti menyengir memarkan giginya yang gingsul.
Michi hanya diam melamun, tidak seperti biasanya. Gadis bermata sipit itu lebih banyak diam hari ini. Kanaya yang menyadari itu menyenggol Tanti, dan bertanya menggunakan kode.
"Ciee yang mikirin Mr. Brian," ledek Tanti.
"Oh Mr. Brian to yang menaklukan Miss sipit ini," ujar Kanaya ikuta menimpali.
"Apa sih, nggak usah bawa-bawa dosen nyebelin itu deh," sahut Michi sambil memutar matanya malas.
"Ciee yang lagi pedekatean."
"Tanti!" Michi melemparkan bantal sofa pada gadis yang duduk di depannya, sayangnya Tanti langsung menghindar hingga bantal itu jatuh ke lantai.
Kanaya tergelak melihat tingkah sahabatnya. Semua kebahagiaan Kanaya bersama sahabatnya tak lepas dari perhatian Reyhan, terselip rasa bersalah di hati pria yang akan segera menjadi ayah itu. Secara tidak langsung dia telah merenggut masa muda Kanaya, dimana seharusnya dia masih kuliah, jalan-jalan dan bergaul bersama teman sebayanya.
Hari beranjak malam saat Michi dan Tanti berpamitan. Seperti biasa Reyhan sibuk di dapur menyiapkan makan malam, hari ini Kanya meminta suaminya memasak ayam kecap makanan kesukaannya.
"Om, udah belum, naya laper," rengek Kanaya sambil bergelayut manja di lengan sang suami.
"Sebentar ya Sayang, kamu duduk dulu biar nggak capek." Kanaya menggeleng cepat.
"Kangen,"lirih Kanaya sambil tersipu malu.
"Kangen dari mana? dari radi kan aku ngga kemana-mana," ujar pria itu sambil mengaduk ayam yang hampir matang.
"Om memang di rumah, tapi di bengkel terus. Masuk rumah cuma ambil minum, terus ke bengkel lagi. Nggak peluk naya, nggak cium naya," tutur calon ibu muda itu dengan bibir cemberut.
Reyhan tersenyum, ia mematikan kompor. Ia lepaskan tangan sang istri dari lengan, agar bisa memeluk tubuh Kanaya yang sudah melebar di bagian perut dari belakang.
"Iya maaf, aku hanya tidak ingin menganggu waktumu bersama kedua sahabat mu itu Sayang. " Di usapnya perut Kanaya yang sudah membuncit, bibir Reyhan pun turut mendaratkan ciuman mesra di pipi sang istri.
"Maafkan aku ya, seandainya aku tidak egois. Kamu pasti sekarang sudah kuliah, dan menghabiskan waktu bersama teman-teman kamu," Ujar Reyhan yang langsung membuat Kanaya menoleh, ditatap nya mata satu yang sedang menatapnya penuh arti.
"Om ngomong apa sih? Kanaya nggak mersa seperti itu Om, naya bahagia dengan kehidupan kita sekarang. dan naya juga sangat menantikan kehadiran baby c," ujar Kanaya sambil mengusap perutnya yang buncit.
"Baby C?"
"Iya, aku mau kasih nama anak kita dengan awalan huruf C, nggak apa-apa kan Om?'
"Terserah kamu, asal kamu bahagia dan tolong jangan panggil aku Om lagi," Reyhan berkata dengan penekanan di akhir kalimatnya.
"Kenapa?"
Reyhan mendesah nafas panjang, di lepaskannya tangan yang melingkar di perut sang istri. Ia kemudian melangkah ke depan agar bisa menatap wajah cantik Kanaya.
"Apa kau tidak lihat bagaimana orang menatapku saat akau memanggil ku Om, aku seperti seorang pama yang membawa Keponakannya."
Kanaya tergelak melihat wajah Reyhan yang cemberut, wanita hamil itu mengulurkan tangannya mengusap lembut pipi sang suami. Reyhan menunduk agar Kanaya lebih mudah menyentuhnya.
"Terus suamiku tercinta ini mau di panggil apa? Papa? Papi? ayah?"
"Terserah kamu, tapi jangan Om."
"Tapi aku suka panggil Om, suka banget," ucap Kanaya mendayu manja.
"Kalau berdua seperti ini nggak masalah, Sayang. Tapi kalau di depan orang ... hais bisakah kau panggil aku seperti suami istri pad umumnya."
"Iya .. deh Papanya C, begitu boleh?"
"Boleh Mama." Reyhan tersenyum lebar, ia mencubit gemas pipi Kanaya yang seperti bakpao baru di kukus, gembul dan mulus.
.
.
.
.
Mohammad Cakrajiya Prakasa bayi dengan bobot 3,1 kilogram itu tengah terlelap tidur dengan bedong warna biru yang membalut tubuhnya.
"Ayo buka mulutnya lagi Sayang," ujar Reyhan sambil mendekatkan sendok yang penuh dengan makanan pada mulut Kanaya.
"Udah kenyang Om."
"Sedikit lagi, kamu harus banyak makan biar cepat pulih."
Reyhan sangat memperhatikan kebutuhan sang istri, menyuapi dan mengantikan Kanaya merawat sang bayi agar sang istri bisa istirahat dengan baik.
Ketukan pintu menghentikan tangan Reyhan yang hendak menyuapi Kanaya.
"Siapa ya pagi-pagi gini?"
"Buka aja dulu Om, paling juga tetangga yang mau jengukin Cakra. "
Reyhan menganggu, meletakkan piring makan bekas sang istri di meja yang ada di kamar. Pria itu berjalan ke ruang tamu dan membuka pintu depan.
"Pratiwi, Hendra!"
Reyhan cukup terkejut saat melihat dia orang yang berdiri di depan pintu. Pratiwi tersenyum laki-laki yang berdiri di belakangnya pun ikut tersenyum manis sambil menggaruk tengkuk leher.
Reyhan mempersilahkan kedua tamunya masuk, setelah itu dia membantu sang istri keluar kamar. Kanaya tidak begitu ingin menemui Pratiwi, tetapi saat Reyhan bilang jika Pratiwi bersama seorang pria, Kanaya pun setuju.
"Bayinya mana?"
"Maaf Cakra baru saja tidur, jadi aku nggak gendong dia keluar, " jawab Kanaya.
"Wah namanya bagus banget, Cakra."
Kanaya hanya tersenyum. Tak lama Reyhan kembali dari dapur dengan membawa empat teh hangat.
"Wah nggak usah repot-repot, Rey. Kayak sama siap saja," Ujar pria bernama Hendra.
"Nggak repot kok cuma air, tumben kamu kemari Hen, bareng sama Pratiwi lagi?" Tanya Reyhan sembari duduk di samping sang istri, tangan kekar Reyhan melingkar posesif di pinggang Kanaya.
Pratiwi dan Hendra saling berpandangan sejenak, sebelum Pratiwi mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya pada Kanaya.
"Aku dan Hendra akan menikah minggu depan, aku harap kalian bisa hadir."
"InsyaAllah jika memungkinkan kami akan datang," Sahut Reyhan.
Setelah kedua tamunya pulang, Kanaya kembali ke kamar untuk beristirahat. Wanita itu berbaring dalam dekapan Reyhan, tangan laki-laki itu tak berhenti mengusap kening Kanaya dengan sayang.
"Akhirnya Mbak Tiwi nikah," tutur Kanaya dengan perasaan lega.
"Iya syukur lah, kalau gini kan kamu bisa tenang nggak cemburu cemburu lagi."
"Ish sapa juga yang cemburu!"
"Kamu lah, ngaku aja kamu cemburu kan sama Pratiwi."
Kanaya tak menjawab, ia memalingkan wajahnya. Reyhan tersenyum dia memeluk sang istri dari belakang, menciumi tengkuk leher sang istri yang begitu seksi.
"Aku suka kamu cemburu, itu berarti kamu begitu mencintai aku."
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih telah mencintai aku, aku janji akan menjaga dan membahagiakan kamu dan Cakra seumur hidupku, Terima kasih."
Kanaya membalikkan badannya, menatap lekat mata teduh yang sedang tengah menatapnya dalam.
"Terima kasih juga Om Reyhan sudah menjadi suami yang begitu menyayangiku, jangan bosen sama Kanaya ya Om. Love you. "
"I love you too."
Keduanya melebur dalam pelukan hangat.
Tak ada yang tahu kemana takdir akan membawa dan mempertemukan kita dengan jodoh kita.
Sampai di sini cerita ini ya gaes ☺☺ maaf kalau banyak kekurangan. ☺☺