Cintai Aku Om

Cintai Aku Om
Makan malam


Mobil sedan lawas berwarna putih melaju meninggalkan rumah besar, membawa sepasang suami istri yang baru saja menikah tanpa cinta, eh Kanaya cinta ding. Tinggal nunggu Om Reyhan aja.


Perdebatan cukup alot terjadi antara mereka, Kanaya bersikukuh pulang ke rumah suaminya sore itu juga, tetapi ingin menggunakan sepeda motor miliknya. Tentu saja Reyhan tidak setuju, perjalanan dari rumah Oma ke rumah Reyhan cukup jauh, hari juga sudah semakin gelap. Reyhan tidak akan membiarkan Kanaya mengikutinya dari belakang dengan sepeda motor, toh mereka masih akan kembali dan bisa mengambil motor itu.


Sampai akhirnya Kanaya terpaksa setuju, karena Reyhan mengatakan mereka akan pulang besok pagi jika Kanaya terus bersikeras seperti itu.


Kini Kanaya menyandarkan kepalanya di kursi, tatapan mata kosong menatap lurus ke depan. Reyhan yang tak terbiasa dengan sikap diam Kanaya pun merasa aneh.


"Nay, kamu nggak lapar?" Tanya Reyhan memecahkan keheningan diantara mereka.


Kanaya tak menjawab, ia masih melamun seperti itu. Menatap kosong pada jalanan rusak yang mereka lewati, maklum saja rumah Oma memang sedikit masuk ke daerah pegunungan. Pernah sekali jalan itu di aspal, tetapi tidak ada perawatan atau perbaikan jalan setelahnya.


"Nay ... Naya!" Tegur Reyhan dengan nada sedikit meninggi, karena sang istri tidak kunjung menjawab.


"Eh ... Iya Copot, copot." Kanaya terjingkat kaget, kemudian mengusap dadanya.


"Astaga Om Reyhan, kalem dikit kek kalau manggil bini," protes Kanaya sambil menoleh pada sang suami yang sedang fokus menyetir.


"Om panggil kamu berkali-kali tadi, tapi kamu diem aja nggak nyahut," ujar Reyhan tanpa menoleh.


"Cieee ... Om kangen ya sama Kanaya, sampe manggil-manggil gitu," sindir Kanaya sambil mencolek bahu Reyhan.


Reyhan memutar matanya jengah, tetapi ia merasa lega. Kanaya tidak diam seperti tadi.


"Om cuma mau tanya, kamu mau makan apa?"


"Emang kita udah sampai mana Om? Belum sampai pasar kan?" Tanya Kanaya, sambil melihat sekeliling.


Mereka baru saja berbelok keluar dari jalan kecil.


"Tuh kan baru nyampe sini, ntar aja deh kalau udah sampai pasar. Biasanya jam segini tuh ada yang jual nasi goreng, mie ayam, sama jajanan gitu di pinggir jalan sana," terang Kanaya. Reyhan pun manggut-manggut mendengar jawaban dari istrinya.


"Oke," sahut Reyhan singkat.


Reyhan melirik sekilas pada Kanaya yang kembali duduk, dan seperti akan kembali melamun. Banyak pertanyaan yang ingin Reyhan tanyakan pada Kanaya, tetapi ia merasa belum saatnya.


Keluarga Oma Eni, seperti misteri bagi Reyhan. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hati Reyhan. Semua anak Oma Eni, tidak terlihat bersedih pada saat Oma Eni meninggal. Hanya Catur saja, yang terlihat murung, selayaknya orang kehilangan.


Belum lagi sikap mereka pada Kanaya, semua orang terlihat acuh. Pada saat hari pertama Oma Eni meninggal, saat semua anak, menantu dan cucu lain Oma Eni berkumpul pun, tak ada yang mengajak Kanaya bicara. Seolah Kanaya bukan siapa-siapa, mereka ramah pada tetangga dan kerabat lain, tapi tidak dengan gadis itu. Reyhan hanya memperhatikan semua dari kejauhan.


"Ehem ... Besok kamu sekolah kan?" Tanya Reyhan berusaha mencoba untuk mencari topik pembicaraan.


"Besok ya? Em ... Nggak tau Om. Kan sepeda motor Kanaya nggak di bawa, gimana pergi sekolah? Masa jalan kaki?" Cerocos Kanaya dengan fokus menatap ke depan.


"Di rumah ada motor, kalau kamu mau pake. Tapi ya motor bebek biasa, bukan matic."


"Kanaya bisa aja sih Om, asal bukan sepeda motor laki, pake kopling. Kanaya nggak bisa kalau itu," sahut Kanaya.


"Haduh, nggak bisa kalau gitu."


"Sepeda motor Om, pake kopling ya?" Tebak Kanaya, Reyhan mengangguk kecil.


Kanaya mengangkat kedua bahunya pasrah. Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di pasar yang Kanaya maksud. Reyhan pun menepikan mobilnya, di halaman sebuah bank swasta yang cukup luas.


"Ayo, turun," ajak Reyhan seraya membuka pintu mobil.


Kanaya hanya diam, tak bergeming. Reyhan yang sudah menunggu di luar mobil merasa heran dengan Kanaya yang tak kunjung turun. Sepuluh menit berlalu dan Kanaya masih belum keluar dari mobil.


Reyhan yang merasa tak sabar, memutuskan untuk menghampiri Kanaya. Pria berjambang tipis itu mengetuk jendela kaca mobil.


Tok


Tok


Kanaya menggelengkan kepalanya, dengan tangan yang terlipat di dada. Bibir berpoles lip tint berwarna peach itu manyun seperti ikan. Reyhan menghentakkan nafasnya, ada apa lagi dengan istrinya itu.


"Bukain," ucap Kanaya tanpa bersuara, wanita berwajah cantik nan menggemaskan itu hanya mengerakkan bibirnya saja.


"Astaga!" Reyhan menepuk jidatnya pelan, ternyata sang tuan putri menunggu di bukain pintu oleh suaminya.


Reyhan pun mengulurkan tangan, membuka pintu mobil untuk istri kecilnya yang super manja.


"Makasih Om," ujar Kanaya dengan senyum manis.


"Hem."


Kanaya pun turun, keduanya berjalan bersisian menuju beberapa lapak pedagang makanan yang tak jauh dari Reyhan parkir.


"Kamu mau makan apa?"


"Apa ya? Om mau makan apa?" Tanya Kanaya balik.


"Om tanya kamu, kenapa kamu tanya balik?"


"Hehehehe ... Bingung Om, enak semua," ujar Kanaya sambil terkekeh kecil.


Reyhan menggeleng pelan.


"Makan nasi aja, dari tadi siang kamu belum makan kan."


"Ya Ampun, ternyata suamiku perhatian sama aku, Naya nggak nyangka kalau Om seperhatian itu sama Naya. Sampai tau kalau Naya nggak makan siang, padahal kita nikah baru siang tadi, Om pasti cinta banget kan sama aku. Ngaku deh Om, iya kan, cinta kan, pasti dong."


"Ssst!" Reyhan menutup mulut Kanaya dengan kelima jarinya.


"Diem!"


Kanaya mengangguk kecil, Reyhan pun melepaskan tangannya. Gadis cantik itu, menyengir kuda memamerkan giginya yang putih.


Tanpa banyak bicara, Reyhan berjalan melewati Kanaya. Menuju lapak penjual Nasi goreng, Kanaya pun mengekor pergerakan sang suami dengan bibir mengatup rapat.


"Pak nasi goreng dua, makan sini ya," pesan Reyhan.


"Yang satu super pedas ya Pak Sis!" Seru Kanaya.


Laki-laki berusia hampir enam puluh tahun itu menoleh, kumisnya terangkat saat melihat Kanaya.


"Lho Mbak Naya, siap Mbak. Kayak biasanya kan?"


"Iya," jawab Kanaya sambil mengangguk.


Reyhan mengenyakkan bokongnya di kursi kayu panjang yang ada di warung itu. Di susul dengan Kanaya yang duduk nempel, lengket kayak perangko.


"Bisa nggak deket-deket nggak!?" Reyhan berkata sambil menggeser duduknya, tapi kanaya segera mengikuti gerakan sang suami.


"Nggak bisa, kan udah di lem sama penghulu," sahut Kanaya.


"Malu Nay, kita di tempat umum," ujar Reyhan memperingatkan, Kanaya mendengus sebal.


"Kan udah sah Om, kenapa malu?" Tanya kanaya tak mau kalah.


Reyhan pasrah, semakin ia berucap akan semakin panjang perdebatan mereka.