
Seorang gadis memakai seragam abu-abu berlari, dia jatuh tersungkur kakinya terluka dan berdarah. Seorang laki-laki tertawa dengan nyaring berjalan santai kearah gadis malang itu, tidak jelas apa yang mereka bicarakan. Akmal terlalu takut untuk mendekat.
Melihat dari jauh seperti ini saja sudah membuat remaja berusia sebelas tahun itu ketakutan setengah mati. Pria itu sangat kejam, dia menampar si gadis kemudian tertawa, dengan paksa si gadis diseretnya. Rambut si gadislah yang di tarik pria itu hingga mereka masuk kedalam mobil bak terbuka yang terparkir dipinggir jalan. Saat memastikan keadaan sudah aman, dan mobil itu sudah menjauh. Akmal muncul dan berjalan menyusuri tempak yang sam dimana gadis itu di seret, dan Akmal menemukan ponsel itu.
Entah disengaja atau tidak oleh si pemilik, tetapi ponsel itu ada di tepi jalan dimana mobil pickup hitam yang membawa mereka berhenti.
Hati Reyhan terasa nyeri mendengarkan cerita remaja yang baru ia temui.
"Kanaya, maafkan aku," desis Reyhan sambil menggenggam erat ponsel milik sang istri.
"Apa kau melihat kemana mobil itu pergi?" kali ini Reyhan yang bertanya pada Akmal.
"Iya, mobil itu berbelok ke kana di pertigaan yang ada di depan sana, meskipun aku sembunyi, aku masih bisa melihatnya,"jawab akmal dengan nada yang lebih keras, dia tak lagi takut pada Reyhan dan pengawal itu. Dia yakin mereka bukanlah orang jahat seperti laki-laki tadi.
"Baiklah, terima kasih."
Akmal mengangguk, mereka pun pergi meninggalkan Akmal sendiri. Tapi baru beberapa langkah reyhan berbalik dan mengajak Akmal pergi bersama mereka, Reyhan berharap remaja itu bisa memberikan mereka petunjuk.
Mereka mengemudikan mobil sesuai arahan Akmal terakhir melihat mobil itu menghilang.
"Eh tunggu Pak, jalan ini... ini jalan tembusan ke desa tinggar," ujar Akmal setengah berteriak.
"Kamu yakin? aku belum pernah tahu jalan ini bisa tembus ke desa Tinggar?" Reyhan yang langsung menoleh bertanya dengan ragu.
"Tinggar?" ulang Michi yang tak kalah terkejut.
"iya Pak, nggak banyak yang tahu. ini jalan setapak lewat hutan jati. Cuma orang-orang yang biasa ke hutan yang tahu, jalan pintas buat sopir truk atau para pekerja yang biasa potong kayu di daerah sini Pak," jawab Akmal dengan pasti.
Reyhan masih menetap Akmal dengan tidak percaya. "Almarhum Bapak saya seorang penjarah kayu Pak, saya sering di ajak."
"Kita coba ikuti arahan Akmal Om, siapa tahu aja Kanaya memang ada di desa itu," usul Michi.
Reyhan mengangguk. Akmal mulai memandu mobil mereka berbelok ke jalan setapak yang melewati hutan jati, lebat dan sedikit gelap. Pohon-pohon jati menjulang tinggi menutupi sebagian cahaya senja yang masuk.
Tinggar desa tempat rumah Oma Eni, apakah Kanaya ada di sana? siapa laki-laki yang menculik Kanaya? Kenapa dia menginginkan gadis itu? berbagai pertanyaan muncul dalam benak Reyhan.
Hari mulai gelap saat mereka sampai di desa Tinggar, memang lebih cepat daripada menggunakan jalan utama. sekarang ganti Reyhan mengarahkan pengawal yang menyetir mobil untuk sampai ke rumah Oma Eni.
Mobil mereka masuk desa dari bagian tengah desa yang masih belum begitu padat penduduknya itu, jika dari jalan utama mereka akan masuk dari arah utara. Saat melewati sebuah perkebunan cengkeh Akmal berteriak. "Itu mobilnya Pak!"
Sopir langsung menghentikan mobil.
"Apa kamu yakin?" tanya Reyhan memastikan, karena mereka masih lumayan jau dari rumah Oma Eni.
"Iya Pak, itu stiker samurai mata satu sama seperti yang saya lihat tadi siang," jawab Akmal dengan mantap.
Para pengawal dan Reyhan saling berpandangan. Mereka pun mulai bersiasat.
"Tidak ini terlalu berbahaya, saya sudah sangat berterima kasih kamu dan ayahmu bersedia untuk membantu saya. Tolong tunggu di sini dan saat saya membawa Kanaya keluar kamu cepat bawa dia pergi."
"Tapi Om."
"Tolong jangan mempersulit saya, kita harus segera menolong Kanaya," Reyhan mengerti jika Michi khawatir pada sahabatnya itu, tetapi Reyhan juga tidak bisa mengambil resiko.
Michi pun akhirnya setuju, dia menunggu di mobil bersama Akmal dan tiga orang bodyguard. Reyhan dan pengawal yang lain mulai mendekati mobil yang terparkir di kebun cengkeh itu.
Kosong, tak ada apapun di dalam mobil. Mereka pun mulai masuk semakin dalam ke kebun cengkeh yang Reyhan tebak milik Oma Eni. Tiba-tiba Reyhan teringat dengan Catur, paman Kanaya yang paling kecil. Pria itu pernah mengatakan jika tempat penyulingan minyak cengkeh butuh direnovasi, dan bangunan itu masih satu kawasan dengan rumah Oma eni.
"Mungkinkah Kanaya ada di sana? Apakah mungkin Catur di balik semua ini?" gumam Reyhan yang mengingat bagaimana takutnya Kanya saat Catur bertamu ke rumah mereka tempo hari.
"Ya Allah lindungilah istri hamba," lirih Reyhan, sungguh dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya jika sampai sesuatu terjadi pada Kanaya.
Berbekal senter kecil mereka menyusuri lebat dan pekatnya perkebunan cengkeh dimalam hari, aroma bunga cengkeh yang tidak begitu kuat menemani perjalanan mereke, aroma cengkeh akan kuat saat bunga dan batang mereka di keringkan.
Sebuah bangunan dengan pencahayaan remang berada beberapa ratus meter di depan mereka, reyhan dan para pengawal itu mengendap berjalan mendekat.
Sayup-sayup terdengar rintihan seorang wanita dari dalam bangunan itu, terdengar sangat menyayat hati. Wanita itu menangis meminta ampun entah pada siapa. Reyhan semakin gelisah mendengar suara yang ia yakin adalah Kanaya.
Dia ingin segera masuk. Namun, seorang pengawal mencegahnya. Mereka belum tahu ada berapa orang lawan mereke, salah seorang pengawal memberikan dahan kayu yang ia pungut, cukup besar untuk dijadikan senjata.
Mereka mengendap mendekat, dua orang pengawal bersiap mendobrak pintu sisanya dan reyhan siap dalam posisi, mereka akan langsung masuk dan memberikan serangan kejutan.
Satu
Dua
Tiga
Pengawal yang bertugas membuka pintu, menghitung suara.
Brakk!
Reyhan dan tim langsung menerobos masuk
"Kanaya!" Pekik Reyhan melihat sang istri yang diikat di aras dipan beralas tikar pandan dan seorang laki-laki yang ia kenal berada di atas Kanaya.
Wajah sudah lebam dan ada darah kering di sudut bibirnya. Meskipun Kanaya masih menggunakan seragam lengkap, tetapi kain yang menutupi tubuhnya itu. Namun, kain warna putih dan abu-abu yang membalut tubuh molek kanaya tak lagi utuh.
Pria yang mengungkung Kanaya menatap Reyhan dan team dengan nyalang dam marah, perlahan dia turun dati atas tubuh kanaya yang diikat seperti huruf X.
"Om, tolong," lirih kanaya sambil menatap Reyhan dengan mata yang bengkak dan berair. catur melirik dan berdecak sebal melihat mainanya meminta bantuan.
"Kalian penganggu! mau apa ke sini heh?!" Catur bukan lagi pria sopan santun dan lembut, yang Reyhan hadapi sat ini adaah Catur yang lain.