Cintai Aku Om

Cintai Aku Om
Bersikeras


"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Reyhan penuh selidik, matanya memicing menatap Kanaya dengan tajam.


Kanaya kelimpungan, ia melepaskan tangan sang suami.


"Enggak kok,Om." Kanaya bangkit kemudian melangkah ke meja belajar, merapikan buku-buku yang perlu ia bawa.


Gerakan tangan Kanaya hanya kamuflase, pertanyaan Reyhan itu tepat mengenai sasaran. Kanaya yang tak bisa berbohong hanya bisa menghindari tatapan mata Reyhan, air mata yang jatuh cepat-cepat di seka dengan punggung tangannya.


Flashback on.


"Om! Udah belum?!" Teriak Kanaya di depan pintu kamar mandi.


Panggilan alam sudah dalam keadaan yang sama darurat. Sudah terasa di ujung gerbang.


Tok


Tok


"Ish ...Om Reyhan!" Pekik Kanaya sebal.


Karena sudah tidak tahan, Kanaya pun berlari keluar kamar. Pertahanannya sudah hampir jebol, tak bisa ia menahan lagi.


Dengan tergopoh-gopoh, Kanaya menuju kamar mandi yang ada di dapur. Kanaya bersyukur keadaan rumah masih sepi, sepertinya Paman dan bibi Kanaya masih betah dalam kamar mereka.


Brak.


Kanaya menutup pintu kamar mandi dengan keras.


Brat


Bret


Brot


Akhirnya Kanaya bisa memenuhi panggilan dari sang alam. Setelah selesai Kanaya bergegas keluar.


"Emh ... Om Reyhan suka kopi nggak ya?" Gumam Kanaya.


"Bikinin ah ... Biar tambah anu, xixixii." Kanaya mengambil panci kecil, mengisinya dengan air kemudian menjerangnya.


Karena merasa sedikit lapar, ia pun memutuskan untuk sekalian membuat mie instan untuk mengganjal perut.


Kanaya bersenandung kecil, sembari menunggu air mendidih ia membuka mie instan dengan cita rasa ala korea favoritnya. Ia mengambil mangkuk, membuka bumbu mie instan dan menuangkannya perlahan.


Di saat yang sama seseorang datang dan menarik rambutnya.


"Agh!" Kanaya memekik kesakitan, tangannya reflek menahan rambut yang terasa mau copot dari kepalanya.


"Kau, kenapa kau setuju menikah dengan pria itu," Suara itu berbicara dengan pelan, tapi terasa begitu mengancam.


Tanpa menoleh, Kanaya tahu siapa yang melakukan hal ini padanya. Tubuh Kanaya gemetar karena takut, hingga gunting kecil di tangannya terjatuh.


"Harummu, masih sama Kanaya."


Krek


Satu tangan lain, merobek leher kaos melekat di tubuh gadis itu. Kanaya semakin ketakutan, ingin dia berteriak. Namun, tenggorokannya seolah tercekat, tak mampu untuk mengeluarkan suara.


Hanya air mata saja yang meleleh perlahan dari ujung mata.


"Ckckck ... Kau menangis, kenapa? Bukankah kau sudah melakukannya dengan suamimu? Kau mau mengulanginya denganku? Kanaya."


Kanaya menggelengkan kepalanya pelan. Tangan itu melepaskan cengkeramannya dengan kasar, lalu mendorong keras tubuh Kanaya, hingga hampir terbentur meja andai kedua tangannya tidak menahan.


Tangan kekar itu kini, mencengkeram kuat lengan Kanaya. Gadis itu hanya bisa meringis merasakan sakit, tanpa berani bersuara.


"Kau bisa aman bersama Oma, tapi laki-laki itu. Hemh ... Dia tau apa? Apa kau pikir dia bisa melindungimu? Jangan berharap terlalu tinggi, Kanaya ssh ... Aku akan segera mendapatkan mu, tunggu saja," lirihnya begitu dengan pada telinga Kanaya.


Ia melepaskan lengan Kanaya, menghempaskan dengan kasar hingga Kanaya tak sengaja menyenggol gagang panci yang sedang terjerang di atas kompor.


Air yang mendidih itu tumpah dan mengenai lengan Kanaya. Gadis itu segera berlari ke kamar, setelah manusia yang membuatnya takut itu pergi.


"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku, Naya?" Tanya Reyhan.


"Auwh!" Pekik Kanaya, saat sang suami memegang lengannya.


"Kau kenapa?"


"Nggak apa-apa kok Om, cuma kaget aja. Tiba-tiba Om pegang kayak gitu, dari tadi kan Om cueknya minta ampun," kilah Kanaya, gadis itu membalikkan badannya menatap Reyhan dengan bibir yang ia buat manyun.


Reyhan memutar matanya jengah, ia mengira Kanaya mengaduh hanya untuk mencari perhatiannya saja. Reyhan melangkah menjauh, dan kembali duduk di sofa yang ada di sana.


"Om Rey, Naya beneran pengen pergi sekarang. Bisa kan?" Tanya Kanaya dengan tatapan memelas.


Reyhan menyatukan alisnya. " Kenapa kau begitu bersikeras untuk pergi? Bukankah lebih nyaman di sini? Aku takut kau tidak akan betah di rumahku yang kecil."


Kanaya menghampiri Reyhan dengan langkah yang ia hentak-hentakan. Dengan kasar Kanaya menghenyakkan bokongnya di sisi Reyhan.


"Om kan tau, rumah ini udah Kanaya berikan pada paman sama bibi semua. Jadi aku udah nggak berhak untuk tinggal di sini, Om. Tahlilan Oma juga sudah selesai, aku juga udah nikah sama Om, semakin tidak ada alasan untukku bertahan. Iyakan," tutur Kanaya panjang lebar.


"Mereka kan paman dan bibi kandung kamu sendiri, Nay. Kenapa kau berkata seperti itu, apa salahnya menginap semalam di sini. Toh mereka masih keluarga kamu kan? Bahkan Bapak kamu juga ada di sini, apa kamu nggak pengen menghabiskan waktu sama Bapak sebelum kita berangkat besok pagi? Biasanya kan anak perempuan deket sama bapaknya," perkataan Reyhan hanya di tanggapi ******* panjang oleh Kanaya.


Gadis itu bahkan beranjak dari sofa, ia kembali berpindah duduk di lantai, merapikan baju yang akan ia bawa.


"Kalau Om Rey nggak mau, ya udah. Kanaya bisa pergi sendiri kok," ketus Kanaya tanpa melihat pada sang suami.


"Ternyata keputusan Oma salah, buat nitipin Kanaya ke Om Reyhan," imbuhnya lagi.


Reyhan menghela nafasnya. Laki-laki yang tidak mengganti bajunya setelah mandi itu. Beranjak dari sofa, menyisir rambut dan kembali menghampiri Kanaya. Kali ini ia duduk di lantai bersama sang istri.


"Kamu beneran mau pergi sekarang?"


"Nggak! Aku mau tidur di sini selamanya nggak bangun!" Tukas Kanaya.


"Jangan berkata seperti itu Nay!" Reyhan mencengkeram kuat lengan Kanaya, mengarahkan tubuh mungil itu menghadapnya dengan paksa.


Kanaya meringis sakit, tapi tak berucap apa-apa. Reyhan yang sadar, telah membuat sang istri kesakitan segera melepaskan tangannya.


"Maaf," ucap laki-laki berjambang tipis itu. Kanaya hanya diam sambil mengusap bekas.


"Sakit Om," rengek Kanaya manja, dengan memasang bibir bebek dan wajah yang di buat memelas.


Reyhan mengerutkan keningnya, mencengkeram kuat lengan Kanaya. Tetapi apakah akan sesakit itu?


"Sakit," ulang Kanaya dengan wajah yang lebih memelas.


"Iya sakit, maaf ya. Terus gimana apa mau di olesi salep, atau gimana? Gulung dulu lengan baju biar, aku melihat lukanya," ujar Reyhan dengan rasa bersalah.


"Emh ... Nggak deh Om, nggak jadi sakit. Hehehehe, ..."


"Lho katanya sakit, sini aku lihat."


"Ya tadi, sekarang udah nggak kok," kilah Kanaya. Gadis itu memberingsut mundur, menghindari Reyhan.


Reyhan yang merasa aneh, dengan sikap Kanaya melangkah maju. Namun, semakin Reyhan mendekat, semakin Kanaya mundur menjauh. Sampai ...


Brugh.


"Auh ...!"


Sebuah benda kenyal membuat Reyhan terpeleset dan menimpa tubuh Kanaya. Keduanya membeku, posisi yang sangat canggung bagi Reyhan.


"Om, kalau mau itu di kasur aja. Di sini keras," lirih Kanaya yang membuat Reyhan melotot.


Reyhan segera bangkit dari atas Kanaya, ia berkacak pinggang sambil membuang muka ke samping.


"Kalau kamu memang mau pulang ke rumahku, beresin barang-barang sekarang. Aku mau manasin mobil," ucapnya sambil berlalu.


Kanaya terkekeh, dia tahu Reyhan salah tingkah karena ketika sengajaan tadi. Kanaya menghela nafas lega, karena hal ini Reyhan tidak mencercanya lagi.