Cintai Aku Om

Cintai Aku Om
Sakit


Malam mulai menyapa, pekat malam bertabur bintang mengantikan langit biru hari ini.Kanaya meringkuk di atas ranjang setelah selesai makan malam yang hampir tidak ia sentuh sama sekali.


Obat yang dioleskan dokter di atas luka gadis itu mulai bereaksi, panas menjalari tiap ujung syarafnya seiring nyeri dan perih yang turut menyumbang penderitaan kanaya malam ini. Sungguh sangat menyiksa, tak ingin menganggu Reyhan. Kanaya berusaha menahan suara tangisnya dengan mengigit guling yang ia peluk erat.


Pintu kamar Kanaya di dorong dari luar, Kanaya tak menghiraukannya. Dia sudah teramat lelah melawan rasa sakit yang menghujam lengannya.ingin rasanya Kanaya menggaruk kulit yang terbungkus perban itu.


"Nay, apa kamu sudah tidur?" tanya Reyhan basa-basi, dia bisa melihat bahu Kanaya yang bergetar karena menangis.


Samar-samar ia juga bisa mendengar rintihan sakit dari bibir sang istri.


"Apa tanganmu sakit? Atau perutmu? Apa kau butuh sesuatu?" cerca Reyhan, dia tidak tega melihat Kanaya waktu makan malam tadi.


wajah cantik gadis itu terlihat pucat, dia juga hanya menyuap beberapa sendok nasi ke dalam mulutnya, itupun Reyhan yang memaksa. Karena khawatir Reyhan memutuskan untuk melihat keadaan sang istri.


"Naya."


"Kanaya!" pekik Reyhan tidak sabar karena gadis itu tak merespon sama sekali.


Reyhan membalikan tubuh gadis itu dan tanpa sengaja memegang lukanya.


Kanaya menoleh dengan wajah yang sudah bersimbah air mata, kedua matanya sembab karena menangis.


"Apa sakit?" Tanya Reyhan dengan serius, ia sungguh tak tega melihat. Kanaya seperti ini. Kanaya hanya mengangguk dengan air mata yang terus mengalir.


"Maaf, maaf aku tidak sengaja."


Kanaya menggeleng, entah kenapa Reyhan membantu Kanaya untuk duduk dan memeluknya. Padahal Reyhan sudah memberitahu dirinya agar tidak terlalu dekat dengan Kanaya. Tangis Kanaya pecah dalam dekapan Reyhan, selain Oma Eni belum pernah Kanaya diperhatikan seseorang seperti ini.


"Hey... Hey kenapa? Apa sangat sakit? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit lagi?" Reyhan kebingungan dengan tangis Kanaya yang terdengar semakin kencang, untung rumah Reyhan tidak begitu dekat tetangga.


Masih ada kebun kosong di sebelah rumah Reyhan. Jika tidak, tangis Kanaya bisa terdengar jelas.


"Nggak Om, nggak mau," jawab Kanaya di sela tangisnya.


"Tapi kamu kesakitan seperti ini, bagaimana kalau, -"


Kanaya menggeleng cepat, tangannya mencengkram kaos yang membalut tubuh kekar suaminya.


"Kanaya nggak mau Om, pokoknya Kanaya nggak mau ke rumah sakit," Kanaya semakin menenggelamkan wajahnya dalam pelukan sang suami.


Keringat membasahi tubuh Kanaya, sampai membuat kemeja yang ia pakai basah. Masih terdengar lirih tangis Kanaya yang menahan sakit, Reyhan yang tidak tega dengan keadaan sang istri tak mampu berbuat banyak.


Ia hanya hanya bisa mengusap rambut panjang Kanaya yang lepek dengan keringat, sesekali ia menyikap lengan baju dan meniup bagian yang diperban. Berharap sedikit bisa mengurangi rasa sakit yang istri kecilnya rasakan.


Malam semakin larut, pria berjambang tipis itu pun tak mampu lagi untuk menahan kantuk, dia terlelap masih dalam posisi yang sama. Saling berbagi kehangatan dalam sebuah pelukan, membawa keduanya dalam mimpi indah di penghujung malam. Rintik hujan mulai turun membasahi bumi di sepertiga malam, hawa dingin yang masuk melalui cela ventilasi membuat sepasang pengantin baru itu tanpa sadar mengeratkan pelukan mereka.


Adzan subuh berkumandang, membangunkan Reyhan yang masih mendekap Kanaya. Pria itu menggeliat, tangan kirinya mati rasa karena terus di tindih Kanaya. Tidur dengan setengah duduk, menyandar pada tembok sambil memeluk Kanaya, membuat tubuh Reyhan sakit.


"Nay, bangun kita sholat subuh bareng." Reyhan sedikit mengguncang tubuh Kanaya yang masih lelap.


"Emh," Kanaya bergumam kecil, mata sembab milik gadis itu masih tertutup rapat.


"Kanaya, -"


Reyhan menghentikan ucapannya, ia baru ingat kalau sang istri sedang datang bulan. Dia pun tak lagi menganggu tidur Kanaya, dengan sangat hati-hati ia pindah tubuh Kanaya ke ranjang. Disingkirkannya anak rambut yang menutupi wajah cantik Kanaya.


Tetapi cepat-cepat Reyhan memalingkan wajah, ia tidak ingin melihat paras ayu Kanaya terlalu lama. Setelah menyelimuti tubuh mungil itu dia pun bergegas pergi untuk menunaikan kewajibannya.


Setelah mengambil air wudhu Reyhan melaksanakan sholat subuh di rumah, selesai sholat pria itu masih duduk bersimpuh mengangkat tangan untuk bermunajat pada Sang Pemilik kehidupan.


"Ya Allah hamba mohon ampuni hamba, karena belum bisa mencintai istri hamba Kanaya. Hati ini masih miliknya, hamba belum bisa mengantikan dia dengan orang lain. Hamba tau ini salah, tetapi sumpah yang sudah hamba ucapkan untuk Mariam tidak bisa hamba ingkari begitu saja," lirih Reyhan dalam do'anya.


Reyhan begitu mencintai mendiang istrinya Mariam irawati. Seorang yang rela meninggalkan segala kemewahan yang dia miliki untuk menikah dengan Reyhan. Seorang yatim piatu yang hanya berkerja sebagai montir di sebuah bengkel.


Dengan khusyuk ia kirimkan dia untuk sang istri dan juga kedua orang tua yang sudah meninggalkan dia sejak remaja. Setelah puas menumpahkan segala keluh kesah pada Sang Pencipta, Reyhan melipat sajadah dan menggantungnya dibelakang pintu.


Matahari sudah mulai menampakkan sinar, Reyhan memutuskan untuk pergi membeli sarapan sementara Kanaya masih terlelap.


Dengan berjalan kaki pria itu pergi sebuah warung nasi pecel yang hanya buka pada pagi hari. Reyhan menghirup udara pagi yang masih terasa sejuk, seketika itu rasa rindu menyusup dalam relung hatinya, memori kebersamaan dia dan Maria melintas di benak Reyhan.


Setiap pagi, setelah menunaikan solat subuh berjamaah. Dia dan Mariam akan berjalan-jalan menikmati indahnya pagi, disaat matahari belum sepenuhnya terbit seperti hari ini. Kaki Reyhan mengayun pelan, meresapi tiap momen yang telah ia nikmati dulu bersama orang yang paling ia cintai. Tanpa terasa ia sudah sampai di depan warung sederhana yang ia tuju.


"Assalamu'alaikum," ujar Reyhan sopan.


"Waalaikumsalam," Sahut seorang wanita yang memakai kebaya dengan kain lawas motif bunga besar dan rambut di sangul.


"Lho Mas Reyhan, tumben sekali. Mau sarapan di sini apa di bungkus Mas? ' tanya wanita yang usianya hampir menginjak enam puluh lima tahun itu.


Reyhan tersenyum sopan, ia duduk di bangku yang terbuat dari bambu yang disediakan pemilik warung. Jika saja ada yang ingin makan di tempat.


"Di bungkus Mak Sopah, dua."


"Baik, kalau begitu tunggu sebentar ya Nak. Mak lagi bungkus sepuluh pesanan Bu RT," Sahut wanita itu, tangannya dengan cekatan mengambil nasi dari termos besar.