Cintai Aku Om

Cintai Aku Om
Pagi


Semua kebahagiaan, gelak tawa di rumah sederhana itu tak luput dari Catur, lelaki itu sungguh terobsesi untuk memiliki Kanaya. Gadis itu, hanya gadis itu yang pernah tersenyum dengan tulus pada Catur tanpa meminta imbalan apapun.


"Belum saatnya, sebentar lagi, tunggu sebentar lagi Kanaya. Kau akan aku jadikan milikku yang paling cantik," gumam Catur dibalik helm full face yang ia kenakan.


Bersiul dengan riang, Catur memacu sepeda motor menjauh dari tempat ia biasa mengawasi rumah Reyhan. Pria itu pergi saat acara syukuran di rumah Reyhan telah usai, dan orang-orang mulai keluar dari rumah itu.


Sebulan berlalu, Reyhan masih tak mengizinkan Kanaya untuk satu kamar dengannya. Dengan alasan Reyhan belum siap, aneh sebenarnya tetapi Kanaya juga tidak ingin berdebat dengan sang suami. Meski rasa ragu untuk memiliki Reyhan perlahan mulai pudar.


"Om."


"Apa?"


"Lihat sini."


Reyhan pun menoleh dari wajan yang sedang ia aduk isinya. Kanaya tersenyum lalu menunjukkan bentuk hati kecil yang ia buat dengan jempol dan ujung telunjuk. "Sarang e."


"Hem, makasih," jawab Reyhan singkat. Pria berjambang tipis itupun kembali mengaduk nasi di penggorengan.


"Ish kok cuma gitu sih Om," Rengek Kanaya sambil menghentakkan kakinya.


"Terus?"


"Ya jawab balik kek," ujar Kanaya sambil cengar-cengir.


"Aku tidak bisa bahasa Korea," tukas laki-laki itu dengan ketus.


"Kalau begitu I Love you."


"Aku tidak bisa bahasa Inggris."


"Aku cinta Om, nggak mungkin Om nggak bisa bahasa Indonesia kan?" goda Kanaya sambil menaik turunkan alisnya.


"Aku sibuk," tukasnya ketus.


"Hais, nasib punya suami kayak kulkas lima pintu. Mau di sayang aja susah amat, tapi nggak apa-apa, Om Reyhan ku tersayang tidak usah galau, cemas, ataupun bimbang, Kanaya bakalan tetep sayang dan cinta sama Om. Meski Om kayak beruang kutub. "


"Nggak usah ngelantur pagi-pagi, cepat sarapan, sudah jam berapa ini. Kau bisa telat," tutur Reyhan sambil meletakkan dua nasi goreng buatannya di atas meja.


Kanaya menarik kursi dan duduk sambil meletakkan kepalanya di meja, gadis itu terlihat lemah dan tak bertenaga.


"Kayaknya Naya sakit deh Om," ujarnya tiba-tiba lesu.


Reyhan langsung menarik kursi mendekat pada Kanaya, meski wajah gadis itu tidak terlihat pucat, Reyhan meletakkan tangan di dahi Kanaya.


"Tidak panas, apa perutmu sakit lagi? Apa pusing?" tanya Reyhan dengan cemas, tetapi Kanaya malah tersenyum tipis.


"Kita kedokteran sekarang."


Reyhan yang hendak bangkit dari duduknya terhenti karena tangan Kanaya. Gadis itu tersenyum melihat Reyhan yang panik, alis Reyhan menyatu menatap tajam pada sang istri yang tersenyum lebar memamerkan giginya.


"Hiiii... Naya bercanda kok Om," ujar Kanaya tanpa rasa bersalah.


Reyhan tampak begitu marah, dia menghempaskan tangan Kanaya hingga terhempas.


"Jangan bercanda seperti itu Kanaya, aku tidak suka!" bentak Reyhan dengan murka.


Pria itu pergi kemudian pergi begitu saja, meninggalkan Kanya yang terpaku. Reyhan memilih untuk menjauh, meredam emosinya sendiri. Kanaya yang merasa bersalah sudah membuat Reyhan marah lekas mengejar langkah sang suami yang pergi ke teras.


"Om.. Om Reyhan maafin Kanaya, Naya janji nggak akan gitu lagi. Please O, maafin Kanaya."


Kanaya meraih tangan Reyhan berusaha untuk menghentikan langkah pria itu. Namun, langkah lebar dan tenaga pria itu sungguh tak sebanding dengan Kanaya. Gadis mungil itu terseret langkah Reyhan.


"Om, maafin aku!" Kanaya pun memeluk Reyhna dari belakang, membuat langkah pria itu benar-benar berhenti.


"Lepaskan!"


"Nggak sebelum Om maafin Naya!"


"Lepaskan atau aku semakin marah!"


Takut Reyhan semakin marah, Kanaya pun melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang sang suami. gadis itu memberanikan diri untuk maju, berdiri di depan pria yang sedang menatapnya dengan tajam.


"Maafin Kanaya Om," lirih gadis berseragam putih abu-abu itu.


Lagi-lagi Reyhan mengambil nafas dalam, dia juga salah, terlalu terbawa emosi. Dua tangan kekar pria yang memakai kemeja polos berwarna hijau, itu memegang pundak sang istri kecil.


"Jangan mengulanginya lagi, aku tidak suka."


Kanaya mengangguk mengerti, meski Kanaya merasa Reyhan sedikit berlebihan tetapi dia berusaha untuk mengerti.


"Om jadikan nganterin Naya sekolah?" Kanaya memberanikan diri untuk bertanya.


"Sebenarnya aku ada janji pagi ini dengan seseorang," jawab Reyhan yang langsung membuat Kanaya tertunduk kecewa.


Meskipun Reyhan sudah membelikan dia sepeda motor matik model terbaru, dua minggu yang lalu. Tetap saja Kanaya lebih suka diantar oleh sang suami.


"Baiklah, cepat ambil tas mu. Kita berangkat sekarang."


"Iyes!" Kanaya melompat kegirangan, dengan langkah riang gadis itu masuk untuk mengambil tas sekolah.


Dengan memakai mobil lawas miliknya Reyhan mengantar Kanaya ke sekolah yang terletak cukup jauh dari rumah Reyhan. Seperti bias Kanaya akan menjadi radio dalam perjalanan mereka.


"Om mau ketemu siapa sih? Kanaya boleh tau nggak?" cerca Kanaya, tidak biasanya Reyhan menemui seseorang sepagi ini.


Biasanya pelanggan Reyhan akan datang sendiri ke bengkel, bukan dia yang mendatangi pelanggan.


"Pak Broto," jawab Reyhan tanpa menoleh.


"Pak Broto? Untuk apa?"


"Ssst... Anak kecil nggak boleh usil urusan orang dewasa."


"Siapa bilang aku anak kecil?! Aku udah dewasa kok, udah bisa bikin anak malah. Om aja yang nggak mau bikin, makanya nyebut aku anak kecil terus," cerocos Kanaya dengan nada ketus.


Gadis itu melipat tangannya di dada dan melemparkan pandangan keluar jendela. Reyhan melirik sekilas pada Kanaya yang sedang merajuk, ia mengambil nafas dalam sebelum mulai bicara.


"Semalam Pak Broto memberi kabar kalau surat nikah kita sudah selesai," jawab Reyhan yang tidak ingin Kanaya semakin merajuk.


"Surat Nikah Om?"


Mata Kanaya berbinar bak sinar matahari, rasa sebal la ada sans suami langsung hilang menguap begitu saja. Reyhan hanya menjawab pertanyaan Kanaya dengan anggukan.


Senyum Kanaya melebar, tak ada sepatah kata yang terucap. Tetapi wajah gadis itu jelas mengisyaratkan kebahagiaan yang teramat.


"Sesenang itu ya?" tanya Reyhan saat mereka sudah hampir sampai di sekolah Kanaya.


"Tentu dong, kalau ada surat nikah berarti Om sama Naya sudah resmi di mata hukum dan agama. Tinggal secara anu aja belum, kapan Om kita resmikan?" Tanya Kanaya dengan mengedipkan satu matanya.


"Sekolah yang bener, nggak usah mikir aneh-aneh!"


"Iye, iye sekolah. Kanaya juga ngerti kalau itu, tapi kan kita udah sebulan lebih Om jadi suami istri, masa Om nggak pengen gitu manjain Kanaya, di nina boboin kalau malam, di elus, di puter, di jilat, di celupin kayak biskuit," ucap Kanaya dengan mata berkedip centil.


"Kanaya!" pekik Reyhan pada angin, karena gadis itu sudah mengambil langkah seribu. Saat mobil Reyhan sudah berhenti di depan gerbang sekolah.