Cintai Aku Om

Cintai Aku Om
Mula pembalasan


"Apa yang kamu lakukan!" Pekik Reyhan saat melihat Kanaya yang tengah berjongkok tempat mencuci.


Kanaya menoleh, ia menyengir memamerkan jajaran gigi putih yang terjajar rapi. Reyhan melangkah lebar menghampiri Kanaya. Dengan wajah dingin, Reyhan mengangkat tangan Kanaya dari dalam bak.


"Om sakit!" Pekik Kanaya saat Reyhan menarik dia dengan kasar.


Dengan langkah terseret Kanaya terseok-seok mengikuti langkah lebar Reyhan. Dalam hati Kanaya merasa takut, kilasan masa lalu seolah kembali terjadi. Kejadian yang sama persis seperti ini, pernah ia alami sebelumnya.


Dengan lembut ia mendudukkan Kanaya di kursi ruang makan. Padahal Kanaya sudah memejamkan mata ketakutan. Derap langkah sang suami yang terdengar menjauh, membuat Kanaya memberanikan diri untuk membuka mata.


Tetapi tak lama Reyhan kembali datang, pria tampan itu membawa handuk besar. Masih dalam diam, dia mengusa rambut Kanaya yang basah di bagian ujungnya. Kanaya ikut terdiam, gadis cantik itu bagai patung yang tidak bergerak. Takut jika Reyhan marah, wajah suaminya itu terlihat kaki dengan sorot mata yang dingin.


"Ganti bajumu," Titah Reyhan tak terbantahkan.


"Tapi Om, -"


"Ganti," Suara Reyhan terdengar mengerikan bagi Kanaya, gadis itu pun segera bangkit dari duduknya berjalan tanpa berani menoleh.


Kanaya segera mengganti bajunya yang basah dengn yang baru, perban Kanaya juga basah terkena air tanpa ia sadari. Setelag selesai mengganti kemeja yang ia pakai kemarin dengan kaos longgar, ia pun pergi ke ruang makan menemui sang suami. Reyhan duduk dengan tatapan kosong dengan dagu yang bertopang pada kedua tangan yang ia satukan.


Tanpa bicara Reyhan memberikan isyarat pada Kanaya untuk duduk, gadis itu pun mengerti dan langung mengikuti arah mata Reyhan.


"Apa kamu benar-benar tidak ingin sembuh, hem?"


Kanaya nenunduk sambil menggeleng pelan. Reyhan menoleh, memberikan tatapan tajam pada sang istri yang tengah ketakutan.


"Terus apa? bukankah dokter sudah memberitahumu, jauhkan lukamu itu dari air. Lalu apa yang kau lakukan tadi?!"


Kanaya terjingkat kaget, karena nada bicara Reyhan yang meninggi.


"Maaf Om, naya cuma pengen nyuci. Sprei nya kotor kena darah kanaya," jawab gadis itu takut-takut.


"Itu bukan alasan, kau bisa mengatakannya padaku Naya!"


"Tapi itu kotor Om, Naya malu,"lirih Kanaya, merunduk dan menyusutkan dirinya menjauh.


"Terus kau pikir siapa yang membersihkan noda di sofa ruang tamu, hem?"


"Om," jawabnya sambil membuang muka karena malu.


"Itu tau, kenapa malu. Itu sesuatu yang wajar, jangan lakukan itu lagi. Bagaimana kalau nanti lukamu itu semakin parah," suara Reyhan terdengar melembut, ternyata pria itu khawatir dengan keadaan Kanaya.


"Tapi Om,-"


Kanaya tidak menjawab, dia hanya menggangguk. Gadis belia itu sedang mencoba untuk tidak terkena serangan jantung. Mendengar Reyhan mengakui dirinya sebagai suami Kanaya membuat gadis itu mabuk kepayang. Dia kira tadi Reyhan akan marah besar dan menceraikan dia. Tetapi teryata dia marah karena mengkhawatirkan Kanaya.


Di dekatkannya satu porsi nasi pecel yang Reyhan beli untuk sarapan mereka berdua lengkap dengan teh hangat dan secangkir kopi pahit buatan pria tampan itu.


"Cepat makan, kau harus ke rumah sakit pagi ini," tukas Reyhan sambil menyendok nasi miliknya sendiri.


"Iya Om."


Tanpa banyak bicara keduanya pun menikmati sarapan dengan khidmat, sesekali Kanaya mencuri pandang pada suaminya yang begitu rupawan. Dia merasa beruntung bisa menikah dengan pria setampan dan sebaik Reyhan, sebenarnya Kanaya tidak begitu berpengalaman dalam hal cinta atau pacaran.


Namun, saat dia bertemu dengan Reyhan ia merasakan debaran aneh yang genk duda lovers nya sebut cinta. Jatuh cinta pada pandangan pertama dengan orang yang di jodohkan oleh wasiat sang Oma. Sungguh indah, meskipun Kanaya tahu Reyhan belum ada cinta untuknya. Hati Reyhan masih milik orang lain, mungkin pria itu masih mencintai mantan istrinya. Kanaya pun tak pasti, sampai sekarang ia belum pernah melihat foto pernikahan Reyhan dan sang mantan. Tak ada satupun yang terpajang di dinding rumah, mungkin saja Reyhan menyimpan semua di kamar yang ia tempati.


"Kau tidak akan kenyang dengan hanya melihatku," Sindir Reyhan tanpa melihat.


"Hehehehe.... Om tahu aja." Kanaya menggaruk rambutnya yang tiba-tiba menjadi pabrik kutu.


"Cepet makan, jadwal ganti perban lukamu jam sembilan kan, kau tidak mau terlambat. Jangan buang waktuku," Tukas Reyhan yang langsung di angguki oleh gadis cantik itu.


Kanaya pun lantas, segera menghabiskan sarapan miliknya. Dia tidak marah atau kesal mendengar Reyhan bicara dengan nada sarkas seperti itu.


Sementara pasangan suami istri menikmati sarapan mereka. Seorang laki-laki juga tampak bahagia di rumah Oma, senyum yang lebih mirip seringai tak pudar dari bibirnya. Tangan laki-laki itu sibuk mengusapkan adonan semen pada lantai yang sedang ia perbaiki.


"Lumayanlah, kalian bisa menjadi penunggu rumah ini. Kalau saja bentuk kalian bagus, aku bisa menambah koleksi ku, tapi kalian sudah bergelambir dan penuh dengan lemak, jelek, " Ujarnya dengan kesal, ia bahkan membanting sendok semen di atas adonan yang baru saja ia ratakan.


"Hais, membosankan bukan begitu Kakak pertama?" Tanyanya pada seorang pria paruh baya yang duduk tak berdaya kursi besi.


Tangan dan kakinya terikat besi tipis, mulutnya sudah tak lagi berbentuk karena bibir laki-laki itu sudah tidak ada, hanya menampilkan jajaran gigi yang terkatup rapat karena besi tipis yang menutupi mulut. Laki-laki muda yang yang tadi bertanya padanya berdiri, menghampiri dengan seringai.


"Wah kenapa kau takut Kakak, bukannya kau paling kuat, paling berkuasa, sekarang mana! Ayo bentak aku! Pukul! Ayo pukul!"


Laki-laki paruh baya itu tak bergeming, kepalanya sakit, sekujur tubuh terasa amat sakit. Jika bisa dia ingin Tuhan mencabut nyawanya sekarang, dia sudah tidak sanggup menerima siksaan dari iblis berwujud manusia yang ada di hadapannya.


"Ayo mana Mujianto yang berkuasa itu!"


Keringat membasahi kening Mujianto, mengalir melintas luka sayat di bibirnya. Pedih, tetapi buka hal itu yang membuat pria paruh baya itu menangis. Air matanya jatuh karena takut, bagaimana tidak, didepan mata Mujianto, kedua adiknya di bunuh dengan keji. Mayat mereka dipaksa muat ke dalam lubang yang berukuran 1x1 meter, tubuh yang tak lagi bernyawa itu diinjak-injak dengan bahagia oleh Catur, pemuda itu tampak sangat bahagia saat melakukannya.


"Ah aku lupa, Kakak angkat ku ini sudah tidak punya mulut, hihihi lihat saja gigimu juga sudah aku beri pagar agar tidak lari, ahahahaha... Seharusnya kau berterima kasih padaku Mujianto banjingan!"


Sorot mata Catur berubah menajamkan, menatap Kakak angkatnya itu dengan nyalang. Sudah bertahun-tahun dia menyimpan dendam pada semua Kakak-Kakaknya, karena Oma Eni Catur diam.


Karena wanita tua yang begitu mengasihi dia, Catur menyimpan dendam itu rapat.