Cintai Aku Om

Cintai Aku Om
Menghindar


Pak Broto menyeruput kopi hitam kental yang selalu menemani pagi sebelum ia pergi ke kantor. Hari ini dia masih santai berada di rumah karena pemuda yang ada dihadapannya, Reyhan.


"Bagaimana kabar kalian sebulan ini, maaf aku tidak sempat berkunjung ke rumahmu," ujar pria yang sudah berumur lebih dari setengah abad itu.


"Baik, terima kasih," jawab reyhan singkat.


Matanya masih memperhatikan dua buku kecil yang ada ditangannya. Buku yang sama yang pernah ia punya sebelumnya, tak pernah terpikir oleh pria itu untuk menikah secepat ini. Jika saja pernikahan ini bukan bagian dari kesepakat dia dan Oma eni tentu Reyhan masih setia menduda sekarang.


"Apa semua sudah siap Pak?" Tanya Reyhan dengan serius, pria berjambang tipis itu menyimpan buku nikahnya dalam tas kecil yang ia bawa.


"Saat Kanaya lulus semuanya akan siap, apa kau yakin dengan ini Rey? Apa kau tidak mau menyisakan satu untukmu?"


Reyhan menggeleng cepat."Tidak Pak, semua akan saya kembalikan pada pemilik yang seharusnya."


Broto bangkit, ia menepuk pelanggan bahu Reyhan. Pemuda itu tidak pernah berubah sejak mereka bertemu, selalu memegang amanah dan jujur, itulah salah satu alasan Oma eni menitipkan Kanaya padanya


"Baiklah,kalau itu keputusanmu. Maaf tapi aku harus pergi ke kantor sekarang," ujar Broto sambil membenarkan jas yang ia pakai.


Mengerti dengan maksud sang empunya rumah, Reyhan pun bangkit dan segera berpamitan. Pria berkemeja biru itu meninggal rumah Broto, memacu mobilnya untuk pergi ke tempat peristirahatan sang istri.


Saat melihat sebuah gapura bercat hijau Reyhan memelankan laju mobilnya, hingga mobil lawas itu benar-benar berhenti disamping tembok pagar yang mengelilingi makam umum.


Harum aroma bunga kamboja menyambut tapak kaki Reyhan, menyusuri tempat peristirahatan terakhir para penghuni. Sampai langkah pria itu terhenti, bibirnya tersenyum seraya berjongkok duduk di samping makam sang istri.


"Apa kabar Sayang, maaf sudah lama aku tidak kemari." Reyhan meletakkan buket mawar berwarna merah kesukaan Mariam saat wanita itu masih hidup, diusapnya batu nisan bertuliskan nama sang istri dengan sayang.


Dengan khusuk Reyhan memanjatkan doa untuk sang istri, menuntaskan rindu lewat lantunan doa pada Sang Pencipta.


"Aku sudah menikah sekarang, apa kau masih ingat dengan Oma Eni. Wanita yang membantu kita," ucap Reyhan sambil menatap baru nisan sang istri.


Pria berjambang tipis itu mengambil nafas dalam sebelum bicara. "Aku menikah dengan cucunya, dia masih remaja Sayang. Baru genap 18 tahun bulan depan, ternyata Oma Eni ingin aku menikahi cucunya itu. Padahal dia dulu bilang hanya akan menitipkan dia padaku. Nyatanya dalam surat wasiat dia menyuruh aku untuk menikah, maaf."


"Maaf, aku terpaksa setuju. Aku sudah berjanji dengan dia akan setuju dengan apapun yang dia tulis dalam surat wasiat, ya seperti janjiku saat dia juga berjanji akan menolong kita sampai akhir. Kau tau Sayang, dia sebenarnya gadis yang manis tetapi kadang sangat menjengkelkan, sering membuat ku darah tinggi karena perkataannya yang vulgar, dia juga tidak bisa masak. Astaga apa kau tau, dia bahkan membuat satu penggoreng hangus gara-gara ingin membuat satu telur ceplok untukku."


Tanpa Reyhan sadari dia bercerita tentang Kanaya dengan senang, senyum di bibir laki-laki itu melebar. Setelah puas bercerita pada sang istri tentang istri barunya Reyhan berpamitan.


Sebenarnya dia sadar, senyum Kanaya sudah mulai mengisi hatinya. Tetapi perasaan bimbang masih menyelimuti hati mantan duda itu, Kanaya masih begitu muda jika dia menjadikan Kanaya istri seutuhnya, maka. Tidak, Reyhan tidak bisa melakukan itu, dia tidak boleh egois.


"Seharusnya Pak Broto tidak perlu terburu-buru membuat buku itu, setidaknya Kanaya tidak perlu menganti buku ini saat kami bercerai nanti," gunan Reyhan dengan senyuman getir.


.


.


.


.


Waktu ujian kelulusan Kanaya semakin dekat, dan dua pasutri itu masih tidur terpisah. Seberapa keras Kanaya mencoba, Reyhan masih menutup pintu kamarnya dengan rapat. Bahkan pria itu menganti kuncinya karena Kanaya sempat menduplikasi kunci kamar Reyhan agar bisa menyelinap masuk saat malam hari. Apes bagi Kanaya, dia ketahuan sebelum rencana terlaksana.


"Om, kenapa Om nggak mau nyentuh Kanaya sih? Apa Om Reyhan jijik dengan bekas luka di lengan ini?" tanya gadis itu saat mereka selesai makan malam.


Tangan Reyhan yang hendak menyuap nasi kedalam mulutnya terhenti.Ia menoleh, menatap Kanaya yang menunduk. Gadis itu hanya mengaduk makan malam yang Reyhan masak, cemas dan kecewa tercetak jelas di wajah Kanaya,


"Jangan berpikir terlalu banyak fokus saja dengan ujianmu." Reyhan kembali melanjutkan makan malamnya.


Kanaya mendorong kursi yang ia duduki dengan kasar, bangkit dan membanting sendok. Gadis itu melangkah cepat ke kamar, menyembunyikan tangis agar Reyhan tidak melihatnya.


Reyhan mendesah nafas kasar mendengar Kanya yang membanting pintu kamar. Pria itu pun bangkit dan menyusul sang istri yang sedang merajuk.


"Naya, buka pintu. Aku ingin bicara!" seru Reyhan setelah mengetuk pintu kamar Kanaya.


"Naya nggak mau bicara sama Om Rey!" teriak Kanaya.


"Jangan seperti anak kecil, buka pintunya sekarang!"


"Aku memang anak kecil dimata Om, jadi aku kan menjadi anak kecil seperi yang Om mau! Aku nggak perduli, aku nggak akan buka pintu itu!"


"Kanaya!"


Tidak ada sahutan lagi dari dalam, Reyhan terus mengetuk pintu dan memanggil nana sang istri. Namun, Kanaya yang merasa sangat kesal tak ingin menjawab panggilan Reyhan. Dia meringkuk dalam selimut sambil menutup kedu telinganya.


Brakk


Kanaya terjingkat saat mendengar suara keras dari pintu. Reyhan mendobrak pintu kamar Kanaya, khawatir istri kecilnya itu melakukan hal yang berbahaya.


Laki-laki itu bernafas lega saat melihat gundukan di atas kasur. Bisa di pastikan jika itu adalah Kanaya yang sedang meringkuk di sana. Gadis itu bisa merasakan pergerakan di sisi kanan ranjang.


"Apakah hal itu sangat penting untukmu?" tanya Reyhan dengan tatapan kosong kearah jendela yang tertutup rapat.


Kanaya tentu saja merasa terkejut dengan apa yang sang suami katakan, bukankah itu salah satu kewajiban suami dan hak seorang istri. Bukankan tujuan pernikahan salah satunya adalah untuk itu, lalu kenapa Reyhan masih bertanya apa itu penting?


"Kau masih begitu muda Kanaya, kita menikah dengan terpaksa, yang kau rasakan padaku bukanlah cinta yang sebenarnya. Itu hanya rasa kagum saja, karena kita terbiasa bersama, karena aku orang asing yang kebetulan ganteng dan merawat kamu di sini."


"Jangan salah artikan rasa kagum menjadi cinta dan menyesal pada akhirnya," imbuh Reyhan kemudian.


Kanaya membuka selimut yang menutupi tubuhnya, gadis itu menatap Reyhan dengan nyalang. Mata beningnya masih meneteskan air mata, bahu kanaya bergerak naik turun karena sesegukan.