Cintai Aku Om

Cintai Aku Om
Kebenaran


Kanaya akhirnya dirawat di rumah, dokter dan suster datang setiap hari untuk memeriksa keadaan Kanaya. Dia juga ke psikiater untuk mengobati trauma yang ia alami. Dua pekan sudah kejadian yang begitu kelam itu berlalu. Kini keadaan gadis itu jauh lebih baik, apalagi mendapatkan dukungan dari sang suami dan para sahabatnya yang selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah Reyhan.


"Om, masak apa?" tanya Kanaya yang baru keluar dari kamarnya dengan memakai kaos warna putih oversize dan celana pendek gemas yang hanya menutupi separuh pahanya.


reyhan menoleh, susah payah ia menelan ludah melihat pemandangan indah di hadapannya. Wajah Kanaya yang begitu polos dan menggemaskan dengan rambut yang acak-acakan membuat hasrat pria itu berkobar.


"Om, ditanya kok malah diem sih?" Kanaya menggaruk rambut membuat kaosnya sedikit naik dan memperlihatkan paha mulus yang tidak tercover celana gemasnya.


"Ehm ... kamu pengen sarapan apa?" tanya Reyhan untuk menutupi rasa gugup yang tiba-tiba menerpa.


"Mie instan boleh?" suara Kanaya terdengar serak dan manja, membuat jantung Reyhan semakin tidak sehat.


"Jangan, aku akan membuat sesuatu untukmu," jawab Reyhan tanpa menoleh. Pria itu berusaha fokus pada bawang merah yang sedang ia iris.


"Em... em ... tapi naya udah lama nggak makan mie," rengek Kanaya, sambil menyandarkan dahi pada punggung Reyhan, Kanaya tidak tahu jika hal itu membuat suaminya semakin sesak nafas.


Nafas reyhan semakin berat kala ang istri malah dengan senangnya menngusap-ngusapkan wajahnya di punggung pria itu. Kanaya memang suka melakukan itu, menghirup aroma sang suami yang begitu khas untuknya.


Tentu saja Reyhan semakin kelabakan, dan membuatnya tanpa sengaja melukai jari yang sedang memotong bawang.


"Om kenapa?" tanya kanaya dengan panik saat mendengar reyhan mendesis sambil mengibaskan jarinya.


"Tidak apa-apa, hanya luka kecil," jawab Reyhan, ia segera menyalakan kran air di tempat cuci piring dan mencuci ujung jempol yang terluka.


Sialnya Kanaya langsung menarik dan mengulum ujung jarinya. Mata reyhan melebar tanpa bisa mengelak, apa yang di lakukan Kanaya membuat fantasi liar Reyhan semakin menjadi. Reyhan pun memaksa Kanaya melepaskan tangannya.


"Aku sudah bilang ini hanya luka kecil! pergilah!" bentaknya pada sang istri.


Kanaya terpaku,tanpa bicara Kanaya pergi ke kamarnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sial!" runtuk Reyhan pada dirinya, Reyhan hanya takut tidak bisa mengendalikan drinya, jujur saja keinginan dia untuk menyentuh Kanaya semakin besar. Tetapi dia masih takut, jika ia malah menyakiti sang istri.


Dengan langkah lebar Reyhan segera menyusul Kanaya,ia segera masuk melihat pintu kamat Kanaya yang sedikit terbuka. Gadis yang menjadi istrinya itu duduk dengan kaki yang ia naikan ke kursi rias yang ada di kamar itu, duduk membelakangi pintu menghadap jendela yang terbuka lebar.


"Kanaya," panggil Reyhan dengan lembut. namun istrinya itu tidak menyahuti.


Reyhan segera melangkah dan bersimpuh di depan sang istri yang sudah berderai air mata, Kanaya membuang muka tak ingin menatap Reyhan.


"Maaf, aku tadi tidak bermaksud membentak mu, aku hanya ..."


"Bukan seperti itu."


"Lalu apa?!" kali ini Kanaya menatap Reyhan dengan nyalang.


"Naya kira selama ini Om berubah karena Om sudah mau membuka hati Om buat naya, tapi ternyata naya salah. Om hanya kasihan padaku kan, bodohnya aku berharap Om membalas cintaku, bodoh aku memang bodoh. Maaf aku sudah menyalah artikan kebaikan dan sikap lembut Om padaku, maaf aku memang bodoh."


Tangan reyhan terulur hendak menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah kanaya, tetapi segera di tepis oleh wanita itu. "Jangan bersikap seperti ini Om, jangan biarkan Kanaya berharap lebih. Sebaiknya kita berpisah saja."


Alis Reyhan menyatu mendengar permintaan pisah dari sang istri. Tanpa mengucap sepatah kata pun Reyhan bangkit dan keluar dari kamar Kanaya. Sedih, sesak di rasakan oleh gadis yang baru saja lulus sekolah menengah atas dan harus bersiap menjadi janda itu. kanaya memeluk lututnya, menangis tanpa suara.


Tak berapa lama terdengar langkah kaki mendekat, Dengan cepat kanaya mengusap pipinya yang basah oleh air mata. Meski hatinya hancur, tetapi kanaya tak ingin terlihat lemah di mata Reyhan. Karena dia yang meminta perpisahan itu.


Reyhan berdiri di depan kanaya dengan membawa beberapa lembar map berwarna hijau. Kemudian ia memberikan itu pada kanaya.


"Apa ini Om?" tanya kanaya bingung.


"LIhat baik-baik, sebenanya aku akan memberitahu ini saat kau pulang sekolah di hari terakhirmu ujian.Tapi hal tidak terduga terjadi, jadi aku menundanya, tapi arena kau terus merengek seperti ini lebih baik aku jelaskan sekarang."


"Oma Eni membeli beberapa kebun di sini atas namaku, aku yang mengelolanya dan kelak aku harus memberikan itu pada cucunya yaitu kau. Aku hanya di minta untuk merawatnya saja, aku sudah mengubah semua tanah Oma Eni atas namamu."


Mata Kanaya terbelalak tak percaya melihat lima lembar sertifikat tanah yang cukup luas atas namanya. "Jadi apa hubungan Om dengan Oma sebenarnya?"


Kanaya menatap Reyhan dengan serius. Pria itu mengambil nafas dalam sebelum memulai ceritanya.


"Oma Eni, aku tanpa sengaja bertemu dengan dia di rumah sakit saat aku kebingungan dengan biaya pengobatan istriku di rumah sakit, mungkin Tuhan sudah menakdirkan pertemuan kami. Aku juga tidak tahu kenapa Oma eni begitu baik dan percaya sama aku, dia membantu pengobatan istriku sampai dia menghembuskan nafas terakhirnya. Oma juga menolak saat aku bilang kalau aku akan mengembalikan uang yang telah aku pakai untuk pengobatan. Dia hanya berkata jika dia meninggal suatu hari nanti aku haus melakukan apa yang ia wasiatkan dan dia berkata ingin aku merawat cucunya. Waktu itu aku mengiyakan karena aku mengira cucu Oma seorang anak kecil yang usianya tak lebih dari sepuluh tahun."


Kanaya diam mendengarkan semua cerita Reyhan. Reyhan tersenyum, ia sedikit menunduk mendekatkan wajahnya dengan sang istri.


"Teryata dia adalah seorang gadis cantik dan Oma mewasiatkan pada kita untuk menikah."


"Jadi aku pernikahan ini hanya barter hutang budi Om sama Oma?" tanya Kanaya dengan sendu.


"Ya bisa di bilang seperti itu, dulu Oma bilang aku hanya harus merawat cucunya sampai dia siap atau mungkin lebih dewasa untuk menjalani kehidupan," jawab Reyhan yang semakin membuat Kanaya menunduk lesu.


Bagaimana tidak pernikahannya hanya sebuah rasa terima kasih Reyhan pada Eni saja, pantas saja selama ini Reyhan menolak menyentuhnya. Mungkin sebentar lagi Reyhan akan menceraikan Kanaya, karena dia sudah lulus sekolah apalagi surat-surat tanah juga sudah Reyhan balik nama atas dirinya.