
Bulan berganti, tanpa terasa pernikahan Kanaya dan Reyhan sudah berjalan lebih dari enam bulan. Kebun yang di wariskan oleh sang Oma untuk Kanaya masih di jalankan oleh Reyhan dan beberapa orang kepercayaan yang di pilihkan oleh pak broto. Reyhan kewalahan jika harus mengurusinya sendiri karena dia juga harus membuka bengkelnya.
"Om, Naya pengen roti bakar," rengek Kanaya saat sang suami tengah mengerjakan motor pelanggannya.
"Iya, nanti sore aja ya," sahut Reyhan tanpa menoleh.
"Mau sekarang," rengek Kanaya.
Gadis itu duduk berjongkok di samping Reyhan. Dian menopang dagu dengan kedua tangannya," Om nggak bisa sekarangkah? Naya pengen banget."
Reyhan menghentikan sejenak pekerjaannya, ia menoleh dan terkejut melihat mata Kanaya yang berkaca-kaca.
"Kenapa kamu menangis? iya kita beli nanti sekarang masih siang kan, mana ada yang jual roti bakar jam segini," ucap Reyhan mencoba menjelaskan.
Bukannya mengerti air mata Kanaya malah jatuh dengan deras, tanpa kata gadis yang sudah tidak perawan itupun bangkit. Dengan sedikit berlari Kanaya kembali masuk ke rumah, Reyhan hanya menggeleng pelan melihat tingkah Kanaya, ia pun memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Istrinya kenapa Mas Rey?'" tanya seorang pria paruh baya yang motornya sedang di perbaiki Reyhan.
"Lagi sensitif Pak Johan, sudah beberapa hari seperti itu," jawan Reyhan tanpa menoleh, pria itu asik membenahi motor keluaran tahun 1990 milik Pak johan itu.
"Suka minta makanan yang nggak jelas gitu nggak Mas Rey? Random? Sering nangis nggak jelas? Marah -marah nggak jelas?"
"Wah Pak johan udah Kayak dukun aja, bisa tahu semuanya," sahut Reyhan dengan alis yang menyatu karena semua yang di tanyakan pria itu sepenuhnya benar.
"Cepet bawa ke bidan aja Mas Reyhan, gejala hamil itu," ujar Pria itu.
Mendengar ucapan sang pelanggan Reyhan terkejut, matanya melebar tak percaya.
"Yang bener Pak?"
"Dibilang nggak percaya, anak saya udah empat lho Mas, saya hapal yang begitu itu."
"Kalau begitu saya beresin motornya besok ya Pak."
Reyhan bangkit dan merogoh sakunya. Pria berjambang tipis itu bejalan kearah Johan dengan senyum lebar.
"Ini, Pak johan pake motor saya dulu. Besok kalau motor Pak johan selesai saya antarkan ke rumah."
"Siap Mas."
Setelah membereskan bengkel Reyhan segera masuk ke rumahnya. Reyhan mencari keberadaan sang istri kecil yang ternyata sudah terlelap, Reyhan tersenyum bahagia. Ia pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari keringat dan oli.
"Om," Panggil Kanaya yang terganggu mendengar suara lemari yang dibuka Reyhan.
"Iya Sayang," sahut Reyhan, ia melangkah mendekati Kanaya sambil memakai kaos yang baru ia ambil dari lemari.
"Om mau kemana, kok rapi banget?"
Kanaya hendak bangkit dan dengan sigap Reyhan membantunya.
"Katanya pingin roti bakar, kita berangkat yuk."
"Sekarang? "
"Iya sekarang."
"Tapi sama boba karamel boleh?"
"Boleh, untuk istriku yang paling cantik apa sih yang nggak boleh."
"Kamu siap-siap ya, aku mau panasin mobil dulu."
"Nggak pake motor aja Om?" Tanya Kanaya sambil menatap sang suami yang menatapnya lekat.
"Pake mobil aja, kasihan nanti kamu kepanasan kalau pake motor."
Pria itu mengecup kening Kanaya sebelum berlalu. Tak membutuhkan waktu lama untuk Kanaya bersiap, dengan memakai celana jeans dan kaos oblong favoritnya Kanaya menghampiri sang suami yang sudah ada di dalam mobil.
"Ayo Om," ajak Kanya saat ia sudah berada dalam mobil.
Reyhan menoleh, melihat penampilan Kanaya dari atas sampai bawah. Mata Kanaya pun mengikuti kemana sang suami menatap.
"Kenapa sih Om, gitu banget lihatin Naya. Pasti Om mikir mesum ya ..." tebak Kanaya sambil menoel ujung dagu sang suami.
"Mana ada, lain kali jangan pake celana jeans, pale rok tatu celana kain yang longgar," tutur Reyhan, laki-laki itu mulai melajukan mobil meninggalkan halaman rumahnya.
"Tumben Om protes, biasanya Om nggak perna komen Naya pake baju apa aja.'
"Ya kan kasihan dedek bayinya, Sayang."
"Ba-bayi, bayinya siapa?!" tanya Kanaya dengan raut wajah bingung.
"Bayi kitalah, masa bayinya tetangga. Kamu merasa aneh nggak dengan sekap kamu belakangan ini, terus seimgatku kau belum datang bulan kan , udah tanggal berapa sekarang hayo."
Kanaya menutup mulutnya yang terbuka lebar. Mendengar apa yang di katakan sang suami membuat kanaya sadar, bahkan bulan lalu dia juga belum mentruasi. Apakah itu artinya benar jika dia sedang mengandung, Kanaya menatap lekat sang suami yang terlihat sangat bahagia meskipun dia belum tentu hamil.
Setelah dua puluh menit perjalanan mereka pun sampai di sebuah rumah sakit swasta. Tangan Kanaya terus menggenggam tangan sang suami untuk menghilangkan rasa takutnya pasa rumah sakit. Trauma Kanaya yang akan rumah sakit memang belum sepenuhnya sembuh, tetapi dengan Reyhan ada di sampingnya, Kanaya mampu mengatasi rasa trauma itu.
Tidak muda baginya menghapus ingatan berdarah yang Catur praktekan langsung. Kala itu Catur membuat Kanaya melihat bagaimana ia memutilasi kucing dan meninggalkan Kanaya bersama bangkai kucing dengan tangan terikat di ranjang, Catur melakukan itu semua di sebuah bangunan rumah sakit yang terbengkalai.
Setelah selesai menjalani tes urin dan USG, Kanaya dinyatakan positif hamil. Bahkan janinnya sudah menginjak tifa bulan. Hal itu tentu saja membuat Reyhan teramat sangat bahagia, hal yang paling ia impikan akhirnya terwujud, meskipun ia belum pernah mengutarakan hal itu pada sang istri. Namun jauh dalam lubuk hatinya, dia sungguh memimpikan seorang anak.
Berbeda dengan sang suami, Kanaya justru terlihat cemas. Sepanjang perjalanan pulang wanita itu mengusap perutnya dengan tatapan kosong ke depan. Reyhan yang menyadari hal itu, langsung menggenggam tangan sang istri dan mengecupnya lembut.
"Ada apa hem? kenapa bidadariku terlihat murung?"
Kanaya menghentakkan nafasnya kemudian bersandar di bahu sang suami. "Apa naya bisa jadi ibu Om?"
"Tentu saja bisa Sayang, kau adalah wanita yang hebat jangan pernah meragukan dirimu sendiri, ok."
"Tapi Kanaya takut, takut kalau nanti nggak bis ngurus dedek bayi dengan baik, gimana kalau dedek nggak suka sama naya? gimana kalau naya nggak bisa mandiin, nggak ngerti nanti kalau dia nangis gimana?" tanya Kanaya dengan polosnya.
"Kita belajar bersama, ini juga kali pertama untukku menjadi seorang ayah. Kita jalani ini bersama, Ok. Jangan terlalu khawatir, ada aku yang akan selalu nemenin kamu, kita akan selalu bersama menjalani ini semua. Sekarang kita fokus sama kamu sama dedek yang masih dalam kandungan, ibu cantik nggak boleh stres, nggak boleh banyak pikiran. Sayang mau makan apa?kita beli sekalian."
"Em ... nggak pengen apa-apa, pengen pulang aja rebahan di kasur sama Om," sahut Kanaya lemah.
Dia memang gampang capek akhir-akhir ini, apalagi tadi dokter juga bilang jika tekanan darah Kanaya cukup rendah.
"Nggak pingin roti bakar, boba?"
Kanaya menggeleng, yang ada dalam otaknya sekarang hanya tidur di kasur empuk sambil di kelonin sama suami.
"Kalau begitu kita beli buah aja ya, buat kamu sam dedek."
"Terserah Om aja."