
Hari semakin siang, tetapi Kanaya tak berniat beranjak dari tempat tidur. Rasa sakit masih ia rasakan meski sudah sedikit berkurang, Reyhan yang merasa cemas pun memutuskan untuk melihat keadaan sang istri.
"Masuk Om," sahut Kanaya saat mendengar pintu kamarnya di ketuk.
Reyhan mendorong pintu perlahan, ia melangkah masuk dan berdiri di samping ranjang, melihat Kanaya dengan iba.
"Masih sakit?"
Kanaya mengangguk pelan, wajah gadis itu masih terlihat pucat. Dia duduk dengan kaki selonjoran sambil memegang kantong kompres hangat yang ia letakkan di bawah pusar.
Reyhan menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba menjadi pabrik kutu. Suasana menjadi hening dan canggung, Reyhan yang belum begitu mengenal Kanaya bingung mencari topik pembicaraan, begitu pun Kanaya. Saat seperti ini, dia tidak punya topik pembicaraan yang bagus.
"Nay."
"Om."
"Emh ... Kamu duluan."
Kanaya tersenyum. " Om nggak buka bengkel?"
"Libur dulu Nay," jawab Reyhan singkat.
Reyhan berjalan ke arah jendela, membuka ventilasi udara itu lebih lebar. Laki-laki itu juga memeriksa kebersihan meja dengan ujung jarinya.
"Maaf ya agak berdebu, nanti aku bersihkan lagi," ujarnya sambil melangkah kembali mendekat ke ranjang.
"Nggak apa-apa kok Om, santai saja. Maaf Naya ngerepotin Om."
Reyhan tersenyum, tangannya terulur mengacak-acak rambut Kanaya dengan gemasnya." Ngerepotin apa, kamu kan istriku."
Deg
Rasanya seperti es krim yang di letakkan dibawah terik matahari cinta, meleleh hati Kanaya mendapatkan serangan double dari Reyhan. Senyum dan menawan dan sentuhan gemas di rambut Kanaya, sukses membuat rasa cinta Kanaya tumbuh semakin besar.
"Nanti siang pengen makan apa?"
"Terserah Om saja, Kanaya nggak pernah pilih-pilih makanan kok Om, semua aku suka," jawab gadis itu dengan mata berbinar.
"Ok, kalau begitu Om tinggal dulu ya. Kamu istirahat saja dulu." Kanaya mengangguk.
Kanaya menghentakkan kakinya setelah Reyhan menutup pintu, gadis itu menutup wajah yang memerah karena malu. Mati-matian Kanaya menahan diri agar Reyhan tidak ilfil padanya.
Sementara itu di rumah besar.
Astuti sudah membereskan barang-barang. Ia harus segera pulang, diseretnya koper besar menuju ruang tamu, melihat hal itu Mujianto tersenyum. Ia berdiri sambil bersandar di tembok melihat Astuti dengan tatapan meremehkan.
"Liat Mbak mu, Wisnu. Sudah dapet barang jarahan yang langsung pergi," sindirnya.
"Iya Cak, dia baru selesai bongkar kamarnya Emak. Pasti banyak harta karun yang dia bawa," sahut Wisnu.
Keduanya menatap wanita paruh baya yang sedang menaikkan barang-barang ke atas mobil pickup. Mereka tak perduli dan tak mau ingin sedikitpun membantunya, perebutan harta warisan memang bisa membuat orang gelap mata, hubungan antara saudara menjadi renggang dan asing.
"Duh, capek. Tapi lumayanlah aku bawa semua ini buat orang di rumah." Astuti menyeka keringat di kening.
Benar dugaan Mujianto, Astuti sudah mengacak-acak kamar Eni, menjarah barang-barang yang menurutnya berharga. Baju, selimut, perhiasan kecil, barang-barang elektronik dan apa saja yang bisa ia bawa. Tentu saja ia tidak sendiri, ada seseorang yang membantu Astuti melakukan itu diam-diam.
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Wahyu, membuat benda pipih di sakunya bergetar. Mata pria berkumis tipis itu membeliak lebar saat melihat sebuah foto yang ada dalam pesan itu.
"Wong Edan, rakus nya minta ampun!" Pekiknya geram.
"Kenapa kamu?" Tanya Mujianto yang dengan alis menyatu.
Wisnu tiba-tiba saja terlihat begitu marah setelah melihat pesan di ponselnya. Tanpa menjawab Wisnu menyodorkan benda pipih itu pada Kakak pertamanya, mata Mujianto memerah. Dadanya meletup-letup, meradang marah.
"Jancok, aku akan beri dia pelajaran. Seenak udelnya saja wanita sundel itu."
Mujianto hendak melangkah. Namun, Wisnu mencegahnya. Mujianto menoleh, menatap tajam pada sang adik yang tanp
"Tunggu Cak, biar dia pulang dulu. Aku punya rencana yang lebih baik."
Tetapi Mujianto tidak peduli dengan ucapan Wisnu, dengan langkah lebar dia keluar, menghampiri adik perempuannya itu.
"Aku mau pulang Cak, ada apa?" Tanya Astuti dengan heran, melihat Mujianto yang begitu terlihat begitu marah.
"Kembalikan barang yang kau ambil dari kamar Emak!" Perintah Mujianto.
"Apa, aku tidak mengambil barang berharga apapun dari sana. Semua sudah di bagi ratakan, tidak ada yang tersisa. Aku hanya mengambil beberapa kain yang emak simpan di lemari, kalau kau mau ambil saja," jawab Astuti dengan santai.
Mujianto mengepalkan tangannya, mata pria itu menajam menatap Astuti yang terlihat santai.
"Jangan kira aku bodoh Tuti! Kembalikan barang itu cepat, atau aku tidak akan segan padamu!" Gigi Mujianto mengerat menahan amarahnya.
"Apa yang harus aku kembalikan! Kita sudah punya bagian masing-masing, Cak,-"
Plak
Sebuah tamparan mendarat keras di pipi wanita itu, hingga membuat dia menoleh.
"Jangan membuat aku melakukan lebih dari ini, Astuti!" Telunjuk Mujianto menegang di depan wajah adiknya.
"Aku tidak akan memberikan apapun!" Tegas Astuti yang semakin membuat Mujianto geram.
"Jancok! Jangan katakan aku tega, kau yang meminta ini!"
Mujianto merampas tas yang Astuti bawa, wanita itu tentu saja mempertahankannya dengan sekuat tenaga. Tetapi tenaganya kalah dari sang Kakak, tas itu di ambil dengan paksa hingga talinya putus.
Wajah Astuti berubah pucat saat Mujianto membuka tas itu dan mengeluarkan kotak beludru berwarna hitam.
"Apa ini heh?! Apa?!"
"Kau bilang tidak mengambil apapun. Cuih!" Mujianto meludah di samping Astuti.
"Kau pikir kau bisa membohongi aku! Sini, dasar wanita serakah!" Mujianto menarik paksa rambut Astuti , menyeret adiknya itu masuk kembali kedalam rumah besar.
.
.
.
.
.
Reyhan sibuk di bengkel, ada beberapa pelanggan yang datang untuk menservis motor mereka. Bengkel Reyhan memang tidak besar, tetapi pelayanannya tidak kalah dengan bengkel besar. Perkejaan Reyhan yang cepat dan bagus selalu membuat pelanggannya puas.
"Udah Bro?" Tanya seorang pria pada Reyhan.
"Udah beres," jawab Reyhan pada si empunya motor matic.
"Jadi berapa?"
"80."
Pria itu mengeluarkan selembar uang dari dompetnya dan memberikan pada Reyhan.
"Pas aja nggak ada kembaliannya ini."
"Udah buat kamu aja," ujar pria itu.
"Oke, sering-sering yak."
"Gundul mu," sahut Pria itu sambil menaik motor yang baru saja selesai di servis.
Setelah pelanggannya pergi Reyhan segera mencuci tangan yang kotor dengan oli. Ia baru ingat dengan sang istri yang belum ia tengok sama sekali.
"Apa dia sudah makan?" Gumam Reyhan sambil melihat kearah jam dinding.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, saat Reyhan masih menduda dia tidak begitu memperhatikan jam makannya. Tetapi sekarang dia harus menjaga istri kecilnya itu, apalagi kondisi Kanaya sedang tidak sehat.
Reyhan pun memutuskan untuk membeli masakan makanan di warung yang tak jauh dari rumahnya.