
Karena wanita tua yang begitu mengasihi dia, Catur menyimpan dendam itu rapat. Tetapi sekarang Eni telah tiada, tak ada lagi yang bisa meredam bara yang membara dalam hati pria itu.
Sejak kecil ia diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi oleh ketiga kakaknya, hanya karena dia bukan saudara kandung mereka. Tak cukup dengan dengan memperlakukan dia seperti kacung, bukan bukan kacung lebih tepatnya Catur di perlakuan seperti budak oleh mereka.
Di depan orang-orang saja Catur diperlakukan layaknya keluarga, saat mata lain tak lagi melihat jangan tanyakan lagi dimana letak prikemanusiaan ketiga orang itu. Bahkan anjing jalanan lebih baik daripada Catur. Eni dan suaminya sibuk bekerja. Mereka jarang sekali di rumah, kedua orang itu berkerja keras di ladang agar bisa memberi kehidupan yang lebih baik. Tetapi mereka lupa, uang gak bisa memenuhi semua. Mungkin perut mereka kenyang, tapi bagaimana dengan hati? mereka hanya kenyang, tapi tak punya hati.
"Hehehe... Kenapa kak, takut?" Tanya Catur dengan seringai menakutkan.
Tubuh Mujianto gemetar, saat melihat Catur memungut kembal palu yang sempat ia gunakan untuk melukai Astuti dan Wisnu. Mujianto menggeleng pelan, dengan tatapan ketakutan dia mengiba agar Catur tidak lagi menyiksanya.
"Tidak mau palu ini?"
Mujianto menggeleng.
"Ok." Catur melemparkan benda tumpul itu ke lantai, dia manggut-manggut melihat ke sekeliling tempat itu.
Sebuah benda yang bersandar dipojok ruangan membuat Catur tersenyum senang, dia pun melangkah ringan menghampiri benda itu.
"Kau tidak mau palu kan? bagaimana dengan ini? pasti akan menyenangkan. Hahahaha .... sangat menyenangkan."
Dengan membawa lingis Catur kembali menghampiri Mujianto dan langsung menghujamkan besi panjang itu ke area intimnya. Pria itu memekik kesakitan, Catur tertawa terbahak-bahak melihat darah segar yang mengalir deras dari ************ pria yang lebih tua darinya itu.
"Itu bayaran kare kau dulu mau memperkosa Kanaya, ciuh ...! kau lebih biadab dari pada anjing!" Catur meludahi wajah pria itu dengan marah.
Besi panjang itu ditariknya hingga terlepas dari tubuh Mujianto, kemudian dengan cepat ia mengayunkan benda itu pada kepala sang kakak angkat. Laki-laki itu jatuh tersungkur bersama kursi yang diikat bersamanya. Nafasnya telah terhenti, nyawa Mujianto sudah terlepas dari raganya. Namun, Catur belum puas melampiaskan amarahnya. Dipukulnya lagi dan lagi Pria yang tergeletak dengan masih terikat kursi.
Darah kembali menggenang, baju Catur kembali basah oleh cairan pekat beraroma khas itu. puas melihat tubuh Mujianto yang sudah tak lagi berbentuk catur melemparkan lingis itu ke lantai. Cangkul yang ia gunakan unt mengubur kedua kakaknya dia ambil lagi.
Gudang penyimpanan cengkeh milik Eni itu menjadi saksi bisu, Keganasan seorang yang di aniaya sejak kecil, iblis yang bangkit untuk membalas dendam pada orang-orang yang dulu sering menyakiti dia.
Catur membuat sebuah lubang lagi di lantai. Dia ingin menempatkan jasad Mujianto di tempat yang paling sering di injak orang. Hal yang paling sering pada Catur.
"Sebentar lagi giliran kamu Kanaya," Gumam Catur sambil terus mencangkul tanah untuk mengubur jasad Mujianto.
.
.
.
.
Matahari sudah meninggi saat Reyhan dan Kanaya pulang dari rumah sakit setelah menganti perban. Kanaya harus kontrol setiap hari untuk menganti perban, karena Kanaya tak mau di rawat inap.
"Om Kanaya boleh minta itu nggak?" Tanya gadis itu sambil memperhatikan seorang penjual es potong yang mangkal di luar pagar tempat parkir rumah sakit.
"Beli saja kalau kau mau."
"Uangnya Om." Kanaya menengadah tangan di depan Reyhan yang sedang mencari kunci mobil di saku.
Reyhan berdecih, ia kemudian mengeluarkan uang pecahan dia puluh ribu.
Reyhan menggeleng, merasa lucu dengan tingkah sang istri kecil. Definisi momong istri yang sebenarnya, pria itu masuk ke dalam mobil. Mengendarai kuda besi itu menghampiri Kanaya yang sudah berada di luar area rumah sakit.
Senyum cerah gadis itu sungguh indah, siapapun pasti akan tertarik dan ingin memiliki Kanaya. Seorang gadis cantik, berkulit putih bersih dengan rambut panjang hitam terurai bebas dibelai lembut sang angin, lesung di pipi menambah keindahan ciptaan Tuhan yang sudah mendekati sempurna itu.
Tin.
Reyhan menyalakan klakson mobilnya, Kanaya yang sedang asik memperhatikan pria paruh baya penjual es itu terjingkat kaget.
"Apa sih Om!" Seru Kanaya menoleh dengan bibir yang sudah manyun karena kesal.
Sangat menggemaskan, Reyhan menahan diri untuk tidak tertawa melihat ekspresi wajah Kanaya yang lucu.
"Cepatlah, aku harus buka bengkel," sahut pria tampan itu datar tanpa ekspresi.
"Iya, sebentar. " Kanaya kembali memutar kepalanya.
Setelah Kanaya berbalik, Reyhan tak bisa lagi menyembunyikan senyuman tipis menawan miliknya. Setelah selesai membeli es potong, Kanaya segera masuk mobil.
"Buat apa beli sebanyak itu?" Tanya Reyhan tanpa menoleh.
"Di makanlah Om, emang buat apa? Om mau nggak. Enak lho." Kanaya mengambil satu es lalu mengulumnya dengan nikmat.
Reyhan melirik sekilas pada Sang istri yang sedang menikmati cemilannya.
"Jangan sampai itu mengotori mobilku!" Tegas Reyhan.
"Siap Om."
Sepanjang perjalanan pulang Kanaya sudah menghabiskan hampir separuh es yang ia beli. Gadis itu terus mengoceh menceritakan tentang teman, sekolah, dan kegiatan yang ia lakukan saat bersama mereka. Awan yang sedikit mendung, penjual es potong yang punya tahi lalat kembar di wajahnya, bahkan kupu-kupu yang sempat ia lihat saat perjalanan pun ia jadikan bahan ocehan.
"Langit biru ya Om, sayang ada awan mendung yang menutupi jadi nggak cerah. Sama kayak Om Reyhan yang nggak senyum. Nggak kayak orang yang jual es tadi, penuh senyum walaupun ompong, meskipun dia jual es tapi dia nggak dingin."
"Eh ada kucing lucu banget sih, Om berhenti bentar deh. Aku mau kucing itu, lucu banget," ujar Kanaya dengan memelas, kucing kampung calico atau tiga warna yang ia lihat di emperan sebuah toko mencuri perhatiannya.
"Aku tidak suka kucing," Tukas Reyhan.
"Kenapa kucing kan lucu Om, kalau Om sibuk kan bisa nemenin Kanaya. Kan aku masih nggak bisa sekolah, boleh ya Om, boleh ya... Please Om boleh ya.... "
"Bisakah kau diam, Kanaya?! Kau terus mengoceh seperti burung yang kelaparan!"Pekik Reyhan yang sudah tidak tahan dengan Kanaya.
"Kanaya sebenarnya pengen diem, tapi kalau Kanaya diem, Om juga diem mobilnya jadi sepi. Kan lumayan Kanaya ngoceh buat menghibur Om," Cerocos Kanaya tanpa dosa.
"Tolong diamlah, sebelum mulutmu aku lakban!" Ancam Reyhan dengan dingin.
Kanaya melotot sambil menutup mulut dengan satu tangan.
"Om," Panggil Kanaya.
"Apa?!" Sahut Reyhan yang masih merasa gerah.