Cintai Aku Om

Cintai Aku Om
Menyatakan


Kanaya menunduk semakin sedih. Ia terkejut saat Reyhan tiba-tiba menyatukan kening mereka, deru nafas manta duda itu terasa hangat menyapu wajah Kanaya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang Kanaya? Aku benar-benar jatuh cinta padamu, dan tak mungkin lagi aku melepakanmu."


Deg


Deg


Jantung Kanaya seolah terhenti mendengar ungkapan cinta dari suaminya. Mimpi? apa ini mimpi? semua seolah tak begitu nyata bagi gadis itu. Baru saja Reyhan menjelaskan asal mula mereka dijodohkan, sekarang dia malah mengatakan kalau dia mencintai Kanaya, ini sungguh hal yang ah, kanaya bahkan tidak tahu harus berbuat apa saat ini.


Reyhan menarik wajahnya sedikit menjauh, agar bisa lebih jelas ia melihat wajah Kanaya yang sedang kebingungan.


"Aku menceritakan ini semua padamu agar kau bisa berpikir jernih saat aku mengatakan ini."


Kanaya hanya diam, dia masih belum bia mencerna apa yang di ucapkan oleh suaminya itu. Melihat wajah Kanaya yang hanya melongo membuat Reyhan semakin meras gemas, tetapi pria itu menyentuh Kanaya.


Reyhan menggenggam tangan sang istri , perlahan berjongkok di hadapannya. Mata teduhnya menatap lekat Kanaya yang juga sedang menatap dia. Ada cinta yang begitu besar di mata elang yang sedang menatap Kanaya, cinta yang dulu tak pernah Kanaya lihat.


"Semua sudah aku kembalikan padamu, aku sekarang hanya seorang Reyhan yang tak punya apa-apa, hanya rumah sederhana ini dan bengkel kecil tempat aku mencari nafkah, aku tidak punya harta yang melimpah atau jabatan yang tinggi yang bisa ku banggakan. sebenarnya uang untuk membeli sepeda motor dan ponsel barumu adalah uang dari hasil kebun Oma Eni yang sekarang jadi milikmu, jadi bisa di bilang aku membelinya dengan uangmu Nay, tapikan ini."


Reyhan mengeluarkan sebuah dompet kecil berwarna biru dengan logo jangkar kapal, di keluarkan bungkusan warna putih seperti nota pembelian , lipatan kertas itu dibuka. Sebuah kalung emas dengan sederhana dengan bandul RK yang menggantung di sana membuat Kanaya terkejut.


Gadis itu menutup mulutnya yang terbuka lebar karena terkejut. Air matanya kemabli menetes karena haru."Maaf Aku hanya bisa memberikan ini."


"Kanaya Thabita maukah kau menerimaku aku yang sederhana ini,aku tidak bisa menjanjikan apa- apa padamu, tapi aku akan berusaha membuatmu bahagia sepanjang sisa kehidupan kita,"ujar reyhan sambil meletakkan kalung yang ia beli dari uang tabungannya sendiri.


"Om jahat banget sih, suka banget liat Kanaya nangis," protes gadis itu sambil mengusap iar mata yang kembali membanjiri pipinya.


Reyhan tersenyum, ia pun mengusap sudut mata Kanaya dengan ujung jempolnya.


"Tangan Om bau bawang!" pekik Kanaya, Reyhan tertawa.


"Iya maaf-maaf," ucap Reyhan seraya bangkit dan memeluk Kanaya.


Reyhan lupa mencuci tangan saat mengejar Kanaya tadi.


"Jadi bagaimana? Apa aku di terima?" tanya Reyhan tanpa melepaskan pelukannya.


"Naya pikir-pikir dulu deh Om."


Reyhan segera melepaskan pelukannya,menetap Kanaya dengan penuh tanya. "Kenapa di pikir, langsung jawab dong. Jangan gantung gini."


"Ih kenapa nggak boleh, Om aja Kanaya lama banget. Masa Kanaya nggak boleh pikir-pikir dulu," goda Kanaya, sebenarnya dia sangat bahagia sekarang tetapi Kanaya merasa gemas melihat wajah Reyhan yang gugup dan cemas seperti ini.


"Mana ada aku gantung kamu, aku tuh lagi nahan diri Naya."


Reyhan sebenarnya sudah sadar akan raa cinta yang mulai tumbuh untuk Kanaya. Ada cinta yang kembali bersemi setelah sekian lama ia jaga untuk almarhumah istrinya.


"Nahan dari apa?" tantang Kanaya


"Dari ini." Reyhan mendekat bibirnya pada bibir sang istri sontak Kanaya terkejut tapi juga tak menolak.


Mendapatkan lampu hijau dari sang istri Reyhan mulai menggerakkan bibirnya. Mel****nya perlahan menikmati bibir manis yang mala ia rindukan. Kanaya memejamkan matanya menikmati ciuman pertama yang begitu memabukkan.


"Emh .. Om." Kanaya memukul pelan dada Reyhan setelah Reyhan melepaskan pagutan mereka.


Reyhan menuntun tangan Kanaya untuk bertaut di lehernya, Kanaya merasakan tubuhnya melayang. Reyhan mengangkat tubuh mungil itu, mengendong sang istri seperti koala.


Nafas Reyhan memburu, semakin memperdalam ciuman dan memainkan lidahnya dengan lincah di rongga mulut sang istri. Kini mereka telah berpindah tempat ke peraduan empuk, di merebahkannya tubuh sang istri dengan lembut. Reyhan melepaskan tautan bibir mereka menatap Kanaya dengan sayu dan nafas yang terengah-engah, tak jauh beda dengan Reyhan. Nafas Kanaya naik turun seiring tarikan nafasnya.


"Bagaimana, mau dilanjutkan?"


Kanaya menggeleng, tetapi dia mengigit bibir seolah mengundang Reyhan untuk melakukannya lagi. Bukan Kanaya tidak mau, tetapi ia sungguh gugup Karena belum pernah seperti ini.


"Aku tidak menerima penolakan Kanaya," ujar Reyhan dengan suara berat, dengan liar Reyhan melahap tiap jengkal leher jenjang sang istri, menyesap dan meninggalkan jejak kepemilikan.


"Ah .. Om geli, " de****an Kanaya membaut Reyhan semakin terbakar.


Satu persatu kain yang membalut tubuh mereka terlepas, menampilkan tubuh polos keduanya. Peluh mereka menyatu dalam pacuan hasrat yang menggebu.


Ada air mata yang jatuh karena sesuatu yang terkoyak dengan sengaja, debar jantung saling bersahutan menabuhkan rasa cinta dalam hati. Lantunan suara manja membuka pagi yang begitu indah, seiring hangat mentari yang menyapa embun pagi itu.


Reyhan mencium kening Kanaya setelah mereka selesai melakukan penyatuan, didekapnya tubuh polos yang penuh peluh dan jejak merah.


"Maaf, aku sedikit kasar tadi," ujar Reyhan sambil sekali lagi mengecup kening Kanaya yang kelelahan.


Kanaya menggeleng pelan, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Reyhan yang polos. Untuk pertama kalinya pasangan suami istri itu melakukan malam pertama yang sudah lama mereka tunda.


"Om tadi kenapa bentak Naya?" tanya sang istri sambil menggambar abstrak dengan ujung jarinya di dada Reyhan.


"Kan aku sudah bilang aku lagi nahan diri buat nggak sentuh kamu," jawab reyhan sambil mencubit gemas hidung Kanaya.


"Masa, padahal Kanaya nggak ngapa-ngapain lho, orang aku cuma tanya Om masak apa."


Reyhan tersenyum tipis, gadis itu tidak sadar betapa menggodanya dia hanya dengan wajah polos itu.


"Sakit," rengek Kanaya sambil mengusap hidungnya yang memerah.


"Maaf, kau terlalu mengemaskan."


"Om, ini beneran kan? Om beneran cinta sama Kanaya kan?"


Reyhan bangkit dan sedikit mendorong tubuh sang istri agar bisa menatap wajah cantik yang kini mengisi hatinya.


"Aku tau sulit bagimu untuk percaya setelah apa yang aku katakan, tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk membuktikan cinta ini, Naya."


Digenggamnya tangan lentik sang istri.


"Kita mulai semuanya dari awal, apa kau mau?"


"Mau gimana lagi, udah bolong gini terpaksa deh mau," ucap Kanaya menggoda.


"Baguslah, kalau begitu aku bolongin lagi biar kamu nggak lari."


"Ah ... Ampun Om. Hahahahaha!"


Kanaya tertawa geli saat Reyhan menyusup dalam selimut yang menutupi tubuh mereka, mencium gemas perut Kanaya yang masih rata.