
Dua minggu berlalu sejak kunjungan dari Catur, kini Rumah Reyhan terlihat sangat cantik dengan dekorasi pita dan kertas warna-warni yang Kanaya tempel di beberapa sudut ruang tamu. Hari ini sangat spesial bagi Kanaya, sore nanti akan ada syukuran di rumah itu. Dimana Kanaya akan diperkenalkan sebagai Nyonya Reyhan pada semua orang yang hadir.
"Sudah Nay, mau kau buat bagai mana lagi ruang tamu ini!" Pekik Reyhan sambil berkacak pinggang.
"Bentar Om, tinggal nempelin ini aja. Om bantuin napa, jangan cuma berdiri di situ," sahut Kanaya tanpa menoleh.
Gadis itu menaiki sebuah kursi agar bisa menempelkan huruf K dan R inisial dia dan sang suami. Reyhan hanya bisa pasrah saja saat Kanaya mengatakan ingin mendekorasi ruang tamu saat acara syukuran, dia berusaha mengerti keinginan sang istri.
Reyhan memang tidak bisa memberikan pesta pernikahan yang mewah dan megah untuk Kanaya, pernikahan mereka yang begitu mendadak membuat Reyhan tidak memiliki persiapan apapun. Lagipula toh pernikahan ini tidak akan berlangsung lama, itu juga salah satu alasan Reyhan tidak menyentuh Kanaya sampai saat ini.
Kursi kecil yang dipijak Kanaya sedikit mulai oleng, karena Kanaya terus bergerak.
"Eh... Eh... Hua!"
Brugh.
Kanaya terjatuh, tapi anehnya dia tidak merasakan sakit. " Cepat berdiri Nay!"
Kanaya membuka matanya, ternyata Reyhan sudah menolongnya. Saat Kanaya akan jatuh dengan sigap Reyhan langsung pasang badan, hingga tubuh Kanaya tak membentur lantai melainkan jatuh di atas tubuhnya.
"Eh, Om Reyhan ngapain di bawah?" Tanya Kanaya dengan polosnya.
"Jangan banyak bicara, cepat bangun dulu Naya!"
Kanaya menggeleng cepat, baru kali ini dia bisa sedekat ini dengan Reyhan. Mantan duda itu selalu saja menghindar saat Kanaya berusaha mendekat, tanpa sungkan Kanaya memeluk leher sang suami dengan erat.
"Apa kau mau membunuhku! Cepat bangun!"
"Nggak mau, salah Om sendiri jadi kasur di sini. Nggak salah dong kalau Naya curi kesempatan."
Kanaya semakin mengeratkan pelukannya, dan mengusap-usapkan wajah di dada bidang yang berbalut kaos berwarna putih. Reyhan tersenyum dalam hati, tingkah Kanaya semakin mengemaskan setiap harinya. Ada rasa takut jika suatu saat Reyhan benar-benar jatuh cinta pada gadis itu.
"Nggak mau bangun ya?!"
"Nggak!"
"Kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan," ucap Reyhan sambil menyeringai.
Dua tangan kekar itu pun mulai merambat, dan menggelitik pinggang sang istri. Kanaya tergelak, sekuat tenaga ia berusaha tidak melepaskan tangan dari leher Reyhan.
"Hahahaha... Ampun Om, geli!" Peliknya sambil menggeliat seperti cacing.
Suara tawa Kanaya menggema, seiring tangan Reyhan yang bergerak lincah tanpa henti di perut dan pinggang Kanaya. Tanpa Reyhan sadari ia pun ikut tertawa melihat Kanaya yang tertawa lepas bersamanya.
"Ah... Om, cukup. Naya nyerah!" ujar Kanaya, tetapi tidak melepaskan tangannya dari leher Reyhan.
"Nyerah tapi tetep nempel, hem. Dasar nakal."
Tawa mereka terdengar sangat nyaring sampai keluar rumah. Seorang wanita terpaku melihat kemesraan tak sengaja Kanaya dan Reyhan. Keduanya bergelut di lantai dengan mesra, Kanaya tak lagi duduk di atas perut Reyhan melainkan ada dalam pelukannya.
"Ehem! Cieee yang pengantin baru!" Seru seorang gadis bermata sipit yang muncul dari belakang Pratiwi yang sedang memperhatikan Reyhan.
Reyhan dan Kanaya seketika membeku, wajah Kanaya memerah karena malu.
"O, emh iya."
Reyhan melepaskan tangannya yang melingkar di perut Kanaya, kedua manusia itu perlahan bangkit dengan wajah canggung. Seperti maling ayam yang ketahuan warga, Reyhan menggaruk kepada tidak jelas sementara sang istri mengayukan tangan ke kanan kiri.
"Aku masuk dulu." Kanaya mengangguk.
Dengan langkah lebar Reyhan melangkah masuk, Michi dan Tanti yang datang atas undangan Kanaya menyerobot masuk begitu saja, sedangkan Pratiwi masih terpaku sorot matanya terlihat sendu dan tak percaya. Nanar kedua mata bening wanita itu masih menatap kemana Reyhan berlalu.
"Ciie yang habis di anu suami," ledek Michi sambil menyenggol sang sahabat.
"Duh jadi pengen nikah juga kalau bisa begitu tiap hari sama ayang," timpal Tanti sambil mengigit selempang tas yang nangkring di bahunya.
"Cari calonnya dulu Tanti."
"Susah meren, kalau ada pesen satu kayak punya kamu Nay."
"Dih, nggak ada ya. Suami Kanaya tuh limited edition," tukas Kanaya yang membuat ketiganya tergelak.
Saat mereka tertawa, sekilas Kanaya sadar jika Pratiwi sedang memperhatikan mereka dengan sangat tidak suka. Dia pun melangkah menghampiri wanita itu.
"Mbak Tiwi masuk yuk, maaf masih brantakan. Masih proses dekorasi," ujae Kanaya sambil menyengir.
"Nggak usah, saya cuma mau bilang kalau pesanannya sudah bisa di ambil. Maaf saya tidak bisa nganterin ke sini, warung saya tidak ada yang jaga," ucapnya dengan ketus.
"Nggak ada yang jaga tapi bisa ngelayap ke sini," gumam Kanaya hampir tak terdengar.
"Apa kamu bilang?"
"Saya bilang Mbak Tiwi seharusnya bisa kirim pesan ke Mas Reyhan saja, kalau memang sedang repot," sahut Kanaya.
"Saya sekali lewat tadi," kilahnya dan langsung berbalik pergi tanpa mengucapkan salam.
Kanaya hanya bisa terkekeh pelan melihat Pratiwi yang pergi dengan kesal.
"Siapa tuh Nay?" tanya Michi yang sekarang berdiri di samping Kanaya.
"Calon pelakor, tapi udah gue skak duluan hehehe. Udah yuk bantuin ngedekor," sahut Kanaya sambil merangkul sahabatnya.
Ketiga gadis itu pun mulai mendekorasi ruang tamu dengan lebih heboh, Michi bahkan memesan beberapa bunga segar dari toko bunga langganan keluarganya. Dia turut bahagia dengan pernikahan Kanaya, Michi tahu sahabatnya itu sangat mencintai laki-laki yang sekarang menjadi suaminya.
"Udah nih, berbakat juga kita jadikan dekor. Bisalah buat nambahin uang jajan," Kelakar Tanti yang puas melihat hasil karya mereka.
"Makasih ya gaes, cantik banget," ucap Kanaya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ulu-ulu udah dong jangan mewek, inikan hari bahagia kamu. Nggak boleh cengeng," tukas Michi.
Kanaya merentangkan keduanya, Tanti dan Michi pun langsung meringsek dalam pelukan gadis yang masih prawan itu. Bagi Kanaya, Michi dan Tanti lebih dari sekedar sahabat.
Reyhan tersenyum melihat kedekatan ketiga gadis itu, terselip rasa khawatir dalam hati jika dia dengan tega menyentuh Kanaya, maka berarti dia merenggut masa depan Kanaya yang masih sangat panjang. Keputusan Reyhan sudah benar, dia harus menjaga Kanaya dan melepaskan gadis itu suatu saat nanti.
Acara syukuran berlangsung dengan baik, meski beberapa mata memandang Kanaya dengan tak suka. Karena gadis itu telah memikat hati duda pujaan seluruh desa. Kanaya yang berbalut gamis warna biru muda senada dengan kemeja yang di pakai Reyhan. keduanya duduk bersisian menyambut pada tamu yang datang.