
Setelah menghabiskan makan siang, mereka pergi ke rumah sakit dengan menggunakan mobil.
"Siapa wanita itu? Kenapa dia keluar dari rumah Mas Reyhan?" Gumam Pratiwi saat tanpa sengaja melihat Reyhan keluar dari pintu rumah bersama Kanaya.
Pratiwi bahkan menghentikan motornya, agar bisa melihat Kanaya. Ia geram melihat bagaimana Reyhan membukakan pintu mobil dan memperlakukan gadis itu dengan manis, tanpa sadar Pratiwi meremas kuat stir motor. Hatinya terasa panas melihat kedua orang itu, mata janda muda itu memelototi sedan lawas yang melaju meninggalkan pelataran rumah Reyhan.
Sepanjang perjalanan tak ada kata yang terucap, sesekali Kanaya mendesis kesakitan sambil mengipasi lengannya dengan tangan kiri. Reyhan hanya dia sesekali ia melirik sekilas pada sang istri yang meringis kesakitan. Tak sekalipun dia merengek padanya, padahal Reyhan bisa mendengar Kanaya merintih kesakitan saat di kamar sendirian tadi.
Setelah cukup lama perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sakit yang cukup besar. Reyhan memang sengaja mengajak Kanaya ke rumah sakit dengan penanganan medis yang lengkap.
Setelah memarkirkan mobilnya, Reyhan turun dan membukakan pintu mobil untuk Kanaya dengan wajah dingin.
"Terima kasih Om," ucap Kanaya, setelah turun dari mobil. Reyhan hanya mengangguk ucapan sang Istri.
Mereka pun masuk ke rumah sakit, mendaftar ke poli khusus untuk. Setelah menunggu antrian akhirnya Kanaya di panggil.
"Sejak kapan luka ini?" Tanya dokter dengan keheranan.
"Kemarin sore Dokter," jawab Kanaya sambil meringis saat dokter menggunting sisa kulit lengan Kanaya yang menghitam.
"Tidak di beri obat sama sekali?"
Kanaya menggeleng lemah, Reyhan hanya diam memperhatikan. Setelah selesai menyingkirkan kulit mati Kanaya, dokter mengoleskan salep berwarna putih yang terasa dingin kemudian membungkus luka itu dengan perban.
"Jangan sampai kena air, sebaiknya Nona di rawat agar mempermudah untuk merawat luka bakarnya. Meskipun tidak parah tetapi cukup besar, dan perban harus di ganti sehari sekali," tutur dokter itu seraya duduk dan menuliskan resep obat untuk Kanaya.
"Tidak Dok, saya rawat jalan saja. Ini nggak apa-apa kok, saya akan berhati-hati," tukas Kanaya cepat, wajahnya terlihat panik dan ketakutan.
Reyhan dan Dokter muda itu melihat Kanaya dengan heran.
"Apa nggak se,-"
"Nggak Om, Kanaya mau pulang. Kita pulang ya, kita pulang. Kanaya nggak mau di rumah sakit," gadis itu memotong ucapan suaminya dengan cepat.
Dengan wajah memohon Kanaya menatap sang suami dengan lekat.
"Tidak apa-apa, rawat jalan juga bisa. Tolong di jaga saja jangan sampai kena air dan minum obatnya teratur ya." Dokter itu menyodorkan resep yang sudah ia tulis pada Reyhan.
"Baik, terima kasih," ucap Reyhan menerima resep itu.
"Terima kasih Dokter," Kanaya pun ikut berucap sambil mengangguk.
"Sama-sama, semoga lekas sembuh."
Keduanya pun mengangguk, setelah mengantri obat. Mereka pun pulang, Reyhan masih bersikap dingin dan tidak bertanya apapun pada Kanaya. Gadis itu pun sama diam seribu bahasa.
"Duduklah, aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu," ujar Reyhan saat mereka sudah ada di ruang tamu.
Kanaya mengangguk dan duduk di kursi rotan yang ada di ruangan itu. Posisi keduanya saling berhadapan, Reyhan menatap Kanaya dengan dingin, hingga membuat gadis itu merasa ketakutan.
"Aku tidak akan bertanya bagaimana kau bisa mendapatkan luka itu, jika kau memang tidak ingin mengatakannya. Tapi ingat satu hal Kanaya, kau adalah tanggung jawabku sekarang. Beri tahu aku jika kau punya masalah atau kau butuh bantuan, aku tidak mau di cao sebagai seorang laki-laki yang tidak bisa merawat anak kecil sepertimu!"
Kanaya terdiam, ia takut pada kemarahan Reyhan. Namun, ia lebih takut jika sampai Renyah terluka karena dia, Kanaya tidak ingin Reyhan berurusan dengan orang berbahaya itu.
"Ma-maf Om, Kanaya ceroboh," jawab Kanaya menunduk.
Reyhan berdecak kesal, ia meninggalkan Kanaya sendirian di ruang tamu. Reyhan berjalan cepat untuk membuka bengkelnya lagi, sementara Kanaya berjalan gontai ke kamar. Ada rasa bersalah juga bimbang dalam hati gadis itu, ingin rasanya ia mengadu, tetapi dia juga takut Reyhan akan menjadi sasaran orang itu jika dia tahu.
Selama ini hanya Oma Eni saja orang yang mampu melindungi Kanaya. Dan sekarang, sang Oma telah berpulang. Kanaya kembali dalam ketakutan. Tak ada lagi tempat untuk berlindung selain Reyhan, jangan tanyakan tentang Mujianto.
Pria itu memang bapak kandung Kanaya, tetapi tak pernah sedikitpun menganggap Kanaya sebagai putri kandungnya. Kehidupan Kanaya sangatlah miris, saat masih hidup bersama ayah dan ibu tirinya.
Kanaya adalah anak yang tidak di harapkan oleh Mujianto, pernikahan dia dengan Latifah, seorang wanita cacat akibat kecelakaan motor sungguh bukan pernikahan yang bahagia. Mujianto selalu menyiksa istri secara lahir dan batin, ia bahkan membawa Yayuk pulang ke rumah mereka saat Latifah hamil besar.
Latifah meninggal saat melahirkan Kanaya. Bayu itu di rawat oleh Mujianto dengan terpaksa karena Eni, Eni sangat menyayangi Latifah, dia adalah wanita dan menantu yang baik. Pernikahan Latifah dan Mujianto tak lepas dari Eni, dialah yang memaksa anaknya untuk menikahi Latifah. Dia merasa Latifah adalah gadis yang sempurna untuk Mujianto, dia berharap sikap Mujianto yang kasar dan sembrono bisa di taklukkan oleh Latifah.
"Mas bisa benerin, motor ku nggak?" Tanya seorang wanita yang tak lain adalah Pratiwi.
"Eh kenapa motornya Wi?" Reyhan meletakkan obeng yang ia pegang.
Pria tampan itu baru saja anak membongkar mesin sepeda motor milik salah satu pelanggannya. Ia bangkit dan menghampiri Pratiwi, membantu wanita muda itu menuntun motornya.
"Nggak tau nih Mas, tiba-tiba mati pas di ujung jalan tadi," jawab Pratiwi sambil mengusap keringat yang membasahi dahi dan lehernya.
"Aku periksa dulu, kamu duduk sini bentar."
"Maaf ya Mas, aku ngerepotin kamu," Pratiwi menjawab dengan malu-malu, pipinya bersemu merah.
"Nggak apa-apa kok, santai aja."
Pratiwi tersenyum. Tanpa di sadari keduanya, Kanaya melihat mereka dari jendela rumah.
"Siapa? Kayaknya akrab banget sama Om Reyhan," gumam Kanaya sambil terus menatap pada dua insan itu.
"Apa aku kesana saja? Tapi ngapain? Masak nggak ngapa-ngapain ke sana? Nanti Om Rey tambah marah sama aku."
Ragu, tapi juga tak sanggup mata Kanaya melihat sang suami begitu akrab dengan wanita lain. Apalagi wanita itu terlihat begitu cantik, sesekali Reyhan tersenyum pada wanita itu, membuat Kanaya semakin tidak suka.
Gadis cantik itu tersenyum kecil, sebuah ide terlintas dalam pikirannya. Ia pun berjalan menuju dapur, membuat sesuatu untuk sang suami.