
"Di bungkus Mak Sopah, dua."
"Baik, kalau begitu tunggu sebentar ya Nak. Mak lagi bungkus sepuluh pesanan Bu RT," Sahut wanita itu, tangannya dengan cekatan mengambil nasi dari termos besar.
Reyhan mengangguk, warung itu masih sepi. Mungkin karena memang masih sangat pagi, orang-orang baru saja turun dari masjid. Desa tempat Reyhan tinggal masih asri, banyak penduduk di daerah itu menjadi petani kopi atau cengkeh. Walaupun jauh dari kota, tetapi desa itu sudah cukup maju segala fasilitas sudah terpenuhi, seperti sekolah ataupun rumah sakit.
Jaraknya cukup jauh dari desa tempat tinggal Kanaya. Walaupun mereka masih dalam satu kabupaten yang sama.
Beberapa orang mengangguk menyapa Reyhan. Kemudian seorang laki-laki memakai peci putih dan sarung hitam dan sajadah yang tersampir rapi di bahunya berjalan mendekat ke warung Mak Sopah.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam," Sahut Reyhan dengan senyuman.
"Mas Reyhan, kebetulan sekali ketemu di di sini." Ujar laki-laki bernama Ali Sadikin itu.
"Kebetulan, memangnya ada apa ya Pak?" Tanya Reyhan dengan heran, ia sedikit menggeser duduk agar laki-laki paruh baya itu bisa duduk di sebelahnya.
"Begini Mas, maaf sebelumnya kalau tempat dan waktunya kurang tepat." Ali tersenyum manis.
Meskipun bukan hal yang bersifat aib. Namun, tetap saja kurang pantas jika membicarakan hal seperti ini di warung, tetapi Ali memutuskan untuk tetap bicara dengan Reyhan. Karena menurutnya lebih cepat lebih baik.
"Tidak apa-apa Pak, silakan saya tidak keberatan," Tutur Reyhan membalas senyuman sang ketua RT.
"Begini Mas, saya mendapatkan laporan kalau di rumah Mas Reyhan ada seorang wanita asing, apa dia saudara Mas Reyhan?" Tanya Ali dengan serius.
Reyhan cukup terkejut mendengar pertanyaan Ali, baru dua hari Kanaya di ada di sana, dan berita tentang dia sudah menyebar luas. Pria berjambang tipis itu tersenyum tipis.
"Dia bukan saudara saya Pak, dia adalah istri saya," jawab Reyhan pasti, bagaimanapun perasaan Reyhan pada Kanaya, yang pasti gadis itu memang sudah menjadi istrinya. Dia tidak bisa menutupi atau menyangkal hal itu.
Ali terdiam, sedikit menarik wajahnya menjauh karena terkejut. Ada setitik rasa kecewa di hati pria paruh baya itu, pasalnya dia ingin menjodohkan Reyhan dengan salah satu dari anaknya yang baru menjadi janda dua bulan yang lalu.
Reyhan sosok laki-laki yang bertanggung jawab, perkerja keras dan juga tampan. Ali tersenyum untuk menutupi rasa kecewa yang menyusup secara tiba-tiba.
"Wah selamat ya Mas atas pernikahannya. Tapi kenapa Mas Reyhan ini tidak lapor ke saya? Seharusnya kan lapor dulu, biar tidak jadi fitnah dan salah paham di kampung ini Mas," tutur Ali dengan bijaksana.
"Maafkan kelalaian saya soal itu Pak, rencananya memang hari ini mau ke rumah Pak RT, tapi malah keduluan ketemu Pak RT di sini." Ali manggut-manggut mendengar jawaban dari salah satu warganya itu.
"Iya Mas, tidak apa-apa. Namanya juga manusia, wajar kalau lupa. Yang penting sekarang saya sudah tahu siapa ada di rumah Mas Reyhan, kalau begitu saya permisi. Saya tunggu kedatangan Mas sama istrinya ke rumah, " Ujar Ali seraya bangkit dari duduknya saat melihat Mak Sopah berjalan keluar sambil menenteng dia plastik besar berisi nasi bungkus pesanannya.
"InsyaAllah nanti sore saya ke sana. "
"Baik, saya tunggu."
"Ini Pak RT, pesanan Bu RT. Sepuluh bungkus nasi pecel," ucap Sopah sambil menyodorkan apa yang ia bawa.
"Terima kasih Mak, jadi berapa semuanya? "
"Sudah dibayar lunas sama Bu RT kok Pak."
"Waalaikumsalam," jawab Reyhan dan Sopah hampir bersamaan.
"Pesanan Kamu juga sudah selesai kok Le." Wanita itu masuk sebentar dan kembali membawa dua bungkus nasi yang Reyhan pesan.
Sopah segera memberi plastik warna biru itu pada pelanggannya. Reyhan tersenyum, seraya mengangguk kecil pada si pemilik warung.
"Semoga sakinah mawaddah warohmah ya Le, rumah tangganya. Maaf tadi Mak nggak sengaja dengar obrolan kamu sama Pak RT," ujarnya sambil terkekeh.
"Tidak apa-apa Mak, toh bukan sesuatu yang harus di rahasiakan juga. Terima kasih atas do'anya, kalau begitu saya permisi." Reyhan tersenyum sambil bangkit dari duduknya.
"Iya-iya silahkan. Istri kamu pasti sudah menunggu."
Reyhan hanya tersenyum sambil mengangguk kecil menanggapi ucapan Sopah. Ia pun mengayunkan langkah menjauh dari warung itu,
Berita begitu cepat menyebar di kampung, bukan Reyhan tidak ingin orang lain tahu tentang pernikahan dia dengan Kanaya. Tetapi status Kanaya yang masih seorang pelajar menjadi pertimbangan tersendiri untuk Pria itu.
Kanaya perlahan mengerjapkan matanya yang masih terasa berat, panggilan alam memaksa gadis belum genap berusia delapan belas tahun itu berusaha bangkit dengan satu tangan. Dengan susah payah Kanaya berhasil duduk di tepi ranjang, matanya terbelalak saat melihat noda sprei.
"Astaghfirullah bocor lagi." Kanaya menepuk jidatnya.
Kebocoran seperti ini memang hal yang biasa bagi Kanaya, dia mungkin tidak akan merasa tidak enak jika di rumah lama, tepatnya rumah Oma Eni. Kanaya bangkit dan segera melepaskan sprei warna biru muda yang sudah ternoda oleh Kanaya.
"Haduh susah banget sih." Kanaya mencoba menarik ujung sprei yang menyangkut diujung ranjang yang terhimpit tembok.
"Ah!"
Kanaya memekik kesakitan, dengan mengerahkan seluruh tenaga gadis itu menarik kain yang menutupi kasur. Hingga kain itu terlepas dan Kanaya jatuh tersungkur, luka bakar Kanaya terbentur.
Dengan menahan sakit Kanaya bangkit membawa kain kotor itu ke kamar mandi belakang.
Reyhan yang baru saja datang langsung masuk dengan mengucapkan salam lirih. Setelah menutup pintu depan, ia lekas meletakkan nasi di atas meja dan pergi ke kamar sang istri.
Pria itu melongo dengan dahi berkerut. Kamar itu terlihat berantakan, dan Kanaya tidak ada di sana.
"Naya... Kanaya!" Teriak Reyhan menggema memanggil istri kecilnya.
"Naya!"
"Kanaya!" Teriakan Reyhan terdengar semakin kencang, karena Kanaya tak kunjung menjawab.
Ia mencari gadis itu ke dapur dan ruang tengah, tetapi tak ia temui Kanaya. Bunyi pompa air dari arah belakang rumah menarik perhatian Reyhan. Walaupun ia berkata tidak mungkin, tetapi tidak ada orang lain di rumah ini selain dia dan gadis itu.
Reyhan pun bergegas melangkaoh ke belakang, tempat yang biasa ia gunakan untuk mencuci baju. Tempat itu adalah kamar mandi lama sekaligus tempat mencuci yang terpisah dari rumah, saat Reyhan menikah dia membangun kamar mandi di kamar utama yang ia tempati sendiri sekarang.
"Apa yang kamu lakukan!" Pekik Reyhan saat melihat Kanaya yang tengah berjongkok tempat mencuci.
Kanaya menoleh, ia nyengir memamerkan jajaran gigi putih yang terjajar rapi. Reyhan melangkah lebar menghampiri Kanaya.