
Reyhan menurut saja di mana Kanaya ingin makan, walaupun harus menempuh jarak yang lumayan jauh hanya untuk semangkuk mie ayam. Dan sesuai permintaan Kanaya mereka berkencan palung mariana, sebuah pasar tradisional yang jauh dari peradapan.
"Masih ada pasar kayak gini ya Om?" Tanya Kanaya sambil melihat sekeliling dengan antusias.
"Masihlah, ini buktinya." Reyhan maju selangkah berjalan mendahului Kanaya.
Satu cermin berbentuk oval yang cukup besar dengan ukiran unik disekelilingnya membuat Kanaya tertarik, ia pun berjalan menghampiri lapak yang memajang cermin itu. Reyhan terus melangkahkan kakinya tanpa ia sadari Kanaya sudah tak lagi berjalan mengikuti Reyhan.
"Jangan jauh-jauh dariku, kalau tidak mau aku tinggal sendiri di sini," Ujar Reyhan tanpa menoleh.
"Naya, kamu dengar nggak?"
Reyhan merasa aneh karena tak ada sahutan dari sang istri menoleh, mata membeliak lebar saat tak melihat Kanaya dibelakangnya.
"Naya!"
"Kanaya!" Pekik Reyhan memanggil sang istri yang hilang dari pandangan.
Pria itu kembali menyusuri jalan yang ia lewati bersama Kanaya, matanya tak lengah melihat sekeliling diantara orang yang berlalu lalang di pasar loak itu. Reyhan memang mengajak Kanaya ke salah satu pasar loak tempat jual beli berbagai macam barang bekas, termasuk onderdil motor. Rencananya pria itu akan mencari sesuatu pesanan pelanggan bengkel yang datang tadi pagi.
"Kanaya!" Pekik Reyhan lagi, ia tak perduli dengan orang-orang yang mulai melihat di dengan aneh.
Gelak tawa seorang wanita menghentikan langkah Reyhan yang tergesa-gesa, ia menoleh dilihatnya seorang wanita yang memakai kaos oversize dan celana jeans sedang bercengkerama dengan seorang pria paruh baya di salah satu lapak. Dengan langkah lebar Reyhan berjalan cepat mendekat.
"Kanaya!" Pekik Reyhan sambil menarik kembali lengan sang istri dengan kasar, Kanaya sontak terkejut karena seseorang tiba-tiba menarik lengannya.
"Om kenapa?"
"Kau yang kenapa? Aku sudah bilang jangan jauh-jauh dariku, tapi kau malah, -"
"Ciee.... Om khawatir kehilangan aku ya, bener kan Pak yang saya bilang suami saya itu cinta banget sama saya. Jadi nggak keliatan sebentar saja langsung marah-marah," ucap Kanaya pada pria empunya toko.
Pria itu pun hanya manggut-manggut mendengar ucapan Kanaya, beda halnya dengan Reyhan yang langsung menepuk jidat.
"Kamu ngapain di sini?" Tanya Reyhan lirih.
"Naya pengen beli itu Om," jawab Kanaya sambil menunjuk cermin oval yang ia inginkan.
"Memang berapa harganya?"
"Nggak tau, Naya belum tanya sama Bapak ini."
"Lha dari tadi kamu ngapain, sampe ketawa kayak gitu?" Tanya Reyhan dengan alis menyatu.
"Ngomongin Om," Sahut Kanaya sambil tersenyum lebar.
Reyhan menggelengkan kepala sambil berdecak heran, bisa-bisanya Kanaya bergibah tentang dia dengan orang asing. Pria paruh baya si empunya lapak hanya tersenyum melihat pasangan beda usia yang lucu itu.
"Kamu beneran pengen beli itu?" tanya Reyhan dengan, Kanaya mengangguk pasti.
"Di kamar Naya kan nggak ada cermin Om, cermin yang di meja rias udah retak kan," jawab Kanaya.
"Boleh saya lihat barangnya dulu Pak? "
"Oh, tentu silakan." Pria itu mundur dua langkah untuk memberi ruang Reyhan masuk kedalam lapaknya yang sempit.
Sebenarnya lapak itu cukup besar, tetapi penuh dengan furnitur lawas yang sudah di perbaikan dan siap pakai tanpa khawatir rusak. Reyhan melihat cermin itu, menyentuhnya dengan hati-hati kemudian melihat Kanaya, gadis itu terlihat sangat menginginkan benda itu.
"Berapa Pak?" Reyhan memutuskan untuk membeli setelah melihat keada cermin yang cukup baik, tak ada goresan berarti di permukaan cermin, kayu ukir yang menjadi bingkainya juga masih terlihat sangat baik.
"Tujuh ratus ribu saya, Mas," jawab sang pedagang.
"Hi, mahal banget. Naya kira dua ratusan aja!" Seru Kanaya terkejut.
"Mana boleh Non, bingkainya saja kayu jati asli, barangnya juga masih sangat bagus. Tujuh ratus ribu itu sudah murah, sudah saya kasih potongan. Biasanya saya bakal saya tawarin 1 juta."
Raut wajah Kanaya terlihat bimbang, dia memang menginginkan cermin itu, tetapi dia juga tidak ingin membebani Reyhan. Uang tujuh ratus ribu pasti sangat banyak untuk pria itu, bukan Kanaya meremehkan tetapi pekerjaan Reyhan sebagai montir di bengeknya sendiri Kanaya juga tidak tahu bisa mendapatkan berapa banyak uang dalam sehari.
"Om nggak jadi deh cerminnya," ucap Kanaya pada sang suami yang baru keluar dari lapak itu.
Reyhan tidak menjawab Kanaya, pria itu malah berjalan menghampiri si empunya. Dia pria itu tampak berbincang serius, tak berapa lama mereka saling mengeluarkan ponsel seperti sedang saling bertukar nomor. Setelahnya mereka berjabat tangan dan Reyhan melangkah menjauh menghampiri Kanaya.
"Ayo," ajak Reyhan sambil melangkah mendahului Kanaya.
Kanaya mengangguk, ia melangkah tanpa bertanya. Meskipun banyak barang yang menarik perhatian gadis itu, Kanaya memilih diam. Dia takut barang-barang itu mahal seperti cermin tadi, tadinya Kanaya beranggapan kalian barang di pasar loak seperti ini akan murah, tetapi ternyata tidak.
Sisa perjalanan mereka di pasar loak itu hanya Kanaya habiskan dengan mengekor pada sang suami. Sesekali pria itu berhenti dan bertanya pada lapak yang menjual onderdil motor.
"Kenapa kamu diam? Sariawan?" Tanya Reyhan sambil melangkah lebih pelan agar bisa berjalan sejajar dengan Kanaya.
Kanaya menggeleng pelan. "Nggak apa-apa kok Om, lagi mikir aja nanti mau masak apa," kilah gadis itu sambil tersenyum.
"Jadi kamu yakin mau masak?" Alis Reyhan sampai hampir menyatu saking herannya.
"Iyalah, Om nggak percaya banget sih sama Naya. Pokoknya Kanaya mau belajar masak, sampai bikin Om ketagihan sama masakan Naya."
"Terserah kamu, tapi belajar masak kalau lengan kamu sudah sembuh."
"Hem, nggak mau. Nanti boros kalau kita beli makanan diluar terus, kasihan Om. Udah capek-capek kerja uangnya cuma habis buat makan Naya," tutur Kanaya dengan tulus.
Langkah Reyhan terhenti, seulas senyum tipis tersungging di bibir pria itu. Dia tidak pernah menyangka jika Kanaya berpikir seperti itu. Ia kira Kanaya hanya gadis manja yang suka membeli apapun sesuka hati tanpa berpikir dari mana uang itu berasal, secara Oma Eni sangat berkecukupan. Reyhan tidak tahu jika, Kanaya sendiri tidak tahu jika almarhum Oma Eni punya harta yang banyak.
Selama hidupnya Kanaya diajak hidup dalam kesederhanaan oleh Oma Eni, mereka makan dan minum seadanya. Meskipun Kanaya tidak bisa masak, mereka jarang beli makan diluar. Bukan Oma memanjakan Kanaya, tetapi karena memang Oma Eni menyuruh Kanaya untuk fokus belajar.
Kanaya gadis yang polos Rey, jaga dia untuk Oma. Oma tidak meminta kamu untuk mencintai cucu Oma itu,atau mengganti posisi Mariam untukmu, cukup jaga dia sampai dia bisa menghadapi dunia ini.
Ucapan Oma Eni tiba-tiba kembali terngiang dibenak Reyhan. Sungguh Kanaya memang seperti yang Oma katakan.
Kanaya juga menghentikan langkahnya, saat sadar Reyhan berhenti di belakang. Sepoi angin membelai rambut panjang yang terurai, diantara manusia di sana, Kanaya berdiri bak bidadari. Sejenak Reyhan tertegun, melihat wajah manis yang sedang melambaikan tangan memanggilnya.