Cintai Aku Om

Cintai Aku Om
Kunjungan


Keduanya mampir ke pasar grosir yang buka pada sore hari untuk mengisi kulkas, beberapa macam sayur, buah dan ikan mereka beli. Hari hampir sore saat mereka selesai belanja, sepanjang perjalanan pulang Reyhan lebih banyak diam, sedangkan Kanaya dia seperti radio rusak yang terus mengoceh.


Mobil sedan lawa milik Reyhan berbelok memasuki pelataran rumahnya. Tiba-tiba kanaya terdiam, bibir gadis itu terasa kelu, tangannya mencengkram kuat lengan Reyhan dengan mata yang menatap lurus ke depan.


Reyhan seketika menoleh, ingin dia bertanya pada Kanaya kenapa dia memegangi lengannya begitu kuat. Namun, ia urungkan karena melihat ketakutan yang teramat di wajah sang istri. Reyhan mengikuti kemana mata Kanaya melihat, seorang pria berdiri memunggungi mereka. Belum jelas siapa, tetapi kenapa Kanaya melihat dengan begitu takut.


Kuda besi Reyhan berhenti di garasi, pria asing itu masih tidak menoleh meski mendengar deru mesin mobil. Reyhan bergegas turun tetapi Kanaya semakin mengeratkan pegangannya di lengan Reyhan.


"Hey, kenapa? Ayo turun. Ada tamu yang sedang menunggu kita," Ujar Reyhan.


Takutnya pria asing itu adalah pelanggan bengkel Reyhan, meski mantan duda itu tidak yakin. Kanaya menggeleng cepat. "Jangan Om, kita di sini saja."


Kanaya memohon dengan sangat, wajahnya memperlihatkan ketakutan yang teramat. Reyhan menepuk punggung tangan Kanaya.


"Nggak boleh gitu Nay, ada tamu yang sedang menunggu. Kita tidak boleh mengabaikannya."


Kanaya tak bisa lagi membantah, dengan terpaksa dia turun dari mobil mengikuti langkah Reyhan yang sudah lebih dahulu turun. Suaminya itu sudah berjalan sangat dekat dengan pria asing yang masih berdiri di teras rumah mereka itu.


"Maaf Mas, -"


Ucapan Reyhan terhenti saat laki-laki itu membalikkan badan. Reyhan terpaku, seluas senyum manis tersinggung dibibir pria yang berusia lebih muda darinya itu.


"Catur?"


Laki-laki itu mengangguk sopan. Sekilas ia melirik Kanaya yang bersembunyi di belakang tubuh Reyhan.


"Maaf mengangguk, saya ingin bertemu dengan Kanaya. Ada hal yang harus saya sampaikan," ucapnya dengan sopan.


"Oh, em tentu saja. Maaf membuat kamu berdiri di luar seperti ini. Saya dan Kanaya pergi belanja tadi."


"Saya tahu."


"Hem?" Alis Reyhan menyatu, mendengar ucapan Catur.


"Maksud saya, tidak apa-apa saya juga belum lama datang," Catur langsung meralat ucapnya dengan cepat.


Reyhan menoleh, ia heran dengan Kanaya yang bersembunyi di belakangnya. Gadis itu terlihat sangat tidak ingin bertemu dengan pamannya. Padahal menurut Reyhan, Catur adalah orang yang paling baik jika di banding Paman dan bibi Kanaya, bahkan dibandingkan dengan ayah Kanaya sendiri.


"Nay, salim dulu. Jangan seperti ini, tidak sopan," ujar Reyhan lirih pada sang istri.


"As-Assamuallikum Paman," Ucap Kanaya tanpa memperlihatkan diri.


"Bukan seperti ini Nay."


"Sudah Mas, tidak apa-apa. Saya dan Kanaya memang tidak terlalu dekat, mungkin Kanaya tidak nyaman dengan keberadaan saya di sini," tutur Catur dengan senyuman yang menawan, siapa saja yang melihat pasti tidak akan menyangka jika ada jiwa pembunuh dibalik senyuman itu.


Reyhan hanya bisa tersenyum canggung, ia merasa sikap Kanaya terlalu kekanak-kanakan. Tidak seharusnya dia bersikap tidak sopan seperti ini, apalagi dengan pamannya.


Reyhan melangkah dan segera membuka pintu yang terkunci, Kanaya pun bergegas mengikuti Reyhan. Catur hanya tersenyum sinis melihat Kanaya yang begitu dekat dengan pria yang baru di kenalnya itu.


Setelah mereka bertiga masuk, Reyhan mempersilakan Catur untuk duduk sementara dia menyiapkan minuman di dapur. Kanaya pun mengekor pada sang suami seperti anak ayam.


"Kamu kenapa sih Nay, dia itu Paman kamu. Temani dia, jangan bertingkat seperti anak kecil seperti ini!"


Kanaya hanya dia menunduk mendengar ben takkan Reyhan, dia belum mampu untuk menceritakan pada Reyhan tentang Catur yang sebenarnya.


Diamnya Kanaya membuat Reyhan semakin sebal, pria itu pun membawa sendiri nampan dengan tiga teh manis dan segera membawanya ke ruang tamu.


"Maaf menunggu lama, silahkan. Maaf hanya bisa menyuguhkan ini padamu," ucap Reyhan sambil meletakkan teh di atas meja.


"Seharusnya saya yang minta maaf karena sudah merepotkan," sahut Catur dengan senyuman.


Reyhan pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Catur, dan Kanaya langsung duduk di sebelahnya. Catur tersenyum, ekor mata laki-laki tak lepas dari Kanaya yang sedang menunduk takut, dia sangat menyukai Kanaya yang seperti itu. Takut dan tunduk padanya.


"Ehmm, sebenarnya apa yang ingin kau bicara dengan Kanaya?"


Pertanyaan Reyhan yang sukses membuat Catur sedikit gelagapan, tetapi dia langsung mengubah ekspresi setenang mungkin. Reyhan yang sadar kalau Catur selalu memperhatikan sang istri merasa ada sesuatu yang tidak beres, tatapan Catur pada Kanaya begitu berbeda.


Catur tersenyum sebelum mulai bicara. "Begini, tempat pengolahan minyak cengkeh milik Oma butuh renovasi atapnya bocor, dan beberapa tembok juga retak. Jadi saya kemari untuk memberi tahu Kanaya soal ini."


Pria itu mengambil teh dan meminumnya, dia terlihat sangat tenang. Reyhan melirik Kanaya yang sedari tadi diam tanpa kata.


"Kenapa kamu memberitahu Kanaya?"


"Tempat itu masih satu area dengan rumah Oma yang seharusnya menjadi milik Kanaya, jadi saya rasa Kanaya berhak tahu. Dan setelah kalian pergi Cak Mujianto, Mbak Astuti dan Cak Wisnu serta saya kembali bermusyawarah, kami sepakat untuk memberikan rumah itu pada Kanaya. Karena kamu yang ada di sisi Oma selama ini, sampai akhir hayat beliau, bukan begitu Nay?"


Kanaya tak menjawab, dia mencengkam kaos oversize yang menutupi pahanya. Reyhan meletakkan tangan di atas tangan Kanaya yang mengepal kuat, sontak Kanaya mengangkat wajah menatap Reyhan yang sedikit mengangguk pelan.


Catur yang melihat kemesraan Reyhan pada Kanaya merasa geram, dia berusaha menahan diri agar tidak memecahkan gelas yang ada ditangannya.


"Sa-saya tidak mau rumah itu, saya sudah memberikannya pada kalian. Terserah kalian mau apa, mau di renovasi atau di jual lagi juga tidak apa-apa. Saya sudah nyaman dan akan tinggal di sini dengan suami saya," tutur Kanaya sedikit terbata, berkat dukungan Reyhan Kanaya mempunyai keberanian untuk bicara dengan Catur.


Catur tersenyum mendengar ucapan Kanaya, dia meletakkan teh yang sudah tinggal separuh kembali ke meja.


"Baiklah Nay, jika itu memang keputusan kamu. Saya hanya ingin memberi tahu saja, bagaimanapun kamu adalah keluarga kami. Meski Cak Muji tidak menyayangi kamu seperti anaknya, tapi aku sangat menyayangi mu, Kanaya," ujar Catur dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.


Kanaya kembali menunduk, tangannya basah oleh keringat dingin karena takut. Catur bangkit, dan melirik sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sudah sore rupanya, saya pamit dulu. Maaf menganggu waktu kalian."


"Tidak sama sekali," sahut Reyhan.


"Kanaya jika kau ada waktu mampirlah ke rumah Oma, beberapa barangmu masih ada di sana kan. Aku memutuskan untuk tinggal di sana, aku menunggu kunjungan darimu."