Cintai Aku Om

Cintai Aku Om
Makan siang


Setelah mengantarkan Kanaya ke kamar untu beristirahat, Reyhan membuka bengkelnya. Sudah sedikit siang dari jam buka, beberapa pelanggan sudah menelpon Reyhan beberapa kali.


Seorang pria datang dengan membawa motor gede miliknya, ia pun menghentikan motor berwarna putih itu di tempat yang biasa Reyhan gunakan untuk mengeksekusi motor yang perlu di servis.


Sementara sang suami sibuk berkerja, Kanaya sibuk mencari resep masakan yang bisa ia masak. Dia tidak mau kalau si bibit ulat keket itu terus mengirim makanan pada Reyhan, Bila-bila kena pelet si ulet keket. Tidak, Kanaya tidak akan membiarkan hal itu. Dia harus bisa memasak lebih enak daripada Pratiwi.


"Ikan bandeng asam manis, Tumis kangkung, gurami.. Apa nih? Gurami terbang, huh? Abis di masak bisa terbang gitu?" Gumam Kanaya bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Aduh masak apa sih yang enak sederhana, cepet mateng nggak pake ribet, huft... Nasib cuma bisa masak mie instan." Kanaya merebahkan tubuhnya di ranjang.


Gadis itu menatap langit-langit kamar yang ia tempati. Entah kapan di aja di istri yang sesungguhnya bagi Reyhan, bisa satu kamar dengan pria tampan itu. Di manja, di perlakuan seperti wanita sesungguhnya.


Kanaya menghentakkan nafasnya. Memiringkan tubuh kesamping dengan hati-hati agar tidak menindih lengan yang sakit. Angan Kanaya melayang, membayangkan bagaimana Reyhan bereaksi saat mendengar nama itu di sebut ulet keket. Masih terlihat jelas jika Reyhan sangat mencintai istrinya yang telah tiada.


"Mariam, sungguh beruntung dirimu mendapatkan cinta yang begitu besar dari seorang laki-laki yang begitu baik, hemh.... Aku tidak ingin mengantikan posisimu di hati Om Reyhan karena aku tahu aku tak akan mampu. Tapi aku akan mencari tempatku sendiri di celah hatinya, jika kau mencintai Om Reyhan bantulah dia untuk mengikhlaskan cintamu," Gumam Kanaya lirih.


Takdir Tuhan mempertemukan Reyhan dan Kanaya, menjadikan mereka menjadi suami istri di saat hati Reyhan masih belum ikhlas melepaskan hati.


Kanaya perlahan bangkit dari ranjang, ia memutuskan untuk melihat bahan yang ada di kulkas. Dengan langkah riang gadis berkuncir itu sampai di dapur, membuka lemari pendingin. Bibir bagian bawah Kanaya manyun lima centi saat melihat kondisi kulkas yang kosong bagaikan hatinya.


"Ck, mau masak apa? Masak angin. Makan angin, kembung dong. Hais..." Kanaya berjongkok di depan kulkas yang terbuka lebar. Tangannya memangku dagu Kanaya yang lancip.


Reyhan yang baru menyelesaikan perkerjaanya, masuk untuk mengambil air dingin. Pria tampan itu mengerutkan kening melihat sosok wanita yang berjongkok di depan lemari pendingin.


"Mau apa Om?" Tanya Kanaya tanpa menoleh.


"Apa yang kau lakukan di depan kulkas seperti itu?! Cepat tutup, kau bisa membuat tagihan listrik membengkak bulan ini!" Seru Reyhan sambil mengambil sebotol air dari sisi pintu kulkas.


"Om mau makan siang apa?" Tanya Kanaya balik, dia tidak berbuat sama sekali untuk menggubris perkataan Reyhan soal tagihan listrik.


"Makan itu, sepertinya cukup untuk kita berdua," Reyhan menjawab dengan sangat enteng, setelah menenggak sebotol air mineral sampai habis.


"Nggak! Kanaya nggak mau makan itu, Om juga nggak boleh!" Tegas Kanaya yang langsung berdiri tegak di hadapan Reyhan.


"Kenapa? Kemarin siang kamu suka kan nasi padang yang aku beli di warung Pratiwi. Kenapa sekarang mau?"


'Itu sebelum aku tau Om beli nasi si warung ulet keket.'


Kanaya melipat kedua tangan di dada tetapi tidak jadi karena tangannya masih sakit, jadi gadis itu hanya berkacak sebelah pinggang dengan mata menyorot tajam pada sang suami.


"Ya pokoknya nggak mau, Kanaya pengen makan yang lain. Om juga, tidak diperbolehkan untuk menyentuh isi rantang itu!"


Reyhan berkacak pinggang dengan kepala yang sedikit di miringkan ke kanan, dia menatap Kanaya dengan heran. Sebenarnya Reyhan sudah tahu apa yang ada dalam pikiran sang istri. Gadis itu sedang cemburu pada Pratiwi, tetapi sumpah demi apapun, Reyhan tidak pernah berpikir untuk menjalin hubungan seperti itu dengan Pratiwi.


Bagi Reyhan Pratiwi hanya seorang adik dan tidak akan pernah lebih, apalagi Pratiwi juga mantan istri sahabat baik Reyhan, Agung yang baru setahun yang lalu meninggal dunia karena sakit.


"Terus kita mau makan apa? Nona manja?" Tanya Reyhan dengan sedikit menyindir.


Jam sudah menunjukkan pukul setelah dua belas siang, jujur saja perut Reyhan sudah sangat lapar saat ini.


"Masak? Bukannya kau hanya bisa masak mie instan," ejek Reyhan. Pria itu menarik kursi meja makan lalu mendudukinya.


"Ish, kan Naya bisa belajar Om, nggak percaya banget sih!" Kanaya menghentak-hentakkan kakinya kesal.


Reyhan mengangkat bahunya acuh. Pria itu berdiri dan berjalan melewati Kanaya begitu saja.


"Cepat ganti baju, kita makan siang diluar!" Seru Reyhan sebelum menutup pintu kamarnya.


Kanaya yang tadinya merasa kesal karena Reyhan mengacuhkan dia, langsung tersenyum senang.


"Siap Om!" Teriak Kanaya dengan sengaja.


Kanaya bergegas pergi ke kamar untuk mengganti baju rumahan yang ia kenakan dengan baju yang lebih pantas. Kanaya memang hanya memakai celana pendek dan kaos oversize saat di dalam rumah.


Setelah selesai memakai celana panjang dan memoles wajahnya dengan sedikit make-up. Kanaya duduk di ruang tamu untuk menunggu sang suami yang sedang membersihkan diri dalam kamar.


Tak membutuhkan waktu lama untuk Reyhan bersiap, pria itu tampak segar setelah mandi. Bau oli dan minyak berganti dengan harum aroma mint dari sampo yang ia pakai. Celengan pendek berbahan jeans dan kaos berkerah warna hijau sungguh membuat Reyhan berkali-kali lebih tampan, Kanaya sampai tertegun melihatnya.


"Jadi makan nggak? Atau kamu mau di rumah sambil makan makanan itu?"


"Eh... Iya kita makan di luar," Sahut Kanaya gelagapan.


"Yuk Naya sudah siap kok Om. Nanti sekalian kita belanja ya Om, bolehkan?" Pinta Kanaya penuh harap.


Reyhan hanya mengangguk pelan, Kanaya tersenyum dan berhamburan memeluk lengan Reyhan.


"Nggak usah peluk-peluk gerah!" Reyhan sedikit mendorong Kanaya menjauh.


Bukannya menjauh, gadis itu malam mempererat lilitan tangan di lengan sangat suami. Dengan terpaksa Reyhan oun membiarkan Kanaya melakukan apa yang ia suka, keduanya berjalan seperti itu sampai ke teras rumah.


"Sesekali kek Om, romantis dikit sama istri. Ya minum gandengan tangan kek, walaupun nggak di kelonin," Tutur Kanaya tanpa filter.


"Masih kecil udah mesum kamu, sekolah dulu yang pinter. Jauhkan pikiran seperti itu dari otakmu." Reyhan menekan kening Kanaya dengan telunjuk.


"Mesum kan ada musuhnya Om," rengek Kanaya sambil mengusap keningnya.


"Udah lepasin dulu, aku mau keluarin mobil."


"Pake mobil Om? Kenapa nggak naik motor aja? Emang kita mau makan siang di mana? Jauh kah? Atau jangan-jangan Om mau kasih kejutan buat aku? Om mau kencan... Ah Om Reyhan, nggak usah begitu langsung bilang aja kalau mau nge-date sama Naya, nggak usah pake alasan makan siang di luar," Cerocos Kanaya sambil senyum-senyum tidak jelas.


"Ya kita akan kencan, sambil nyari bayem sama ikan asin di pasar kampung sebelah. Ok!" Sahut Reyhan yang lansung membuat senyum Kanaya menghilang.


"Ok lah kalau sama Om, mau ke Palung mariana huhu Kanaya jabanin kok kalau sama Om!" Kanaya membuka pintu mobil yang sudah siap berangkat.


Reyhan menggelengkan kepala mendengar sahutan Kanaya yang begitu percaya diri.