
Dengan satu tangan Kanaya membawakan secangkir kopi untuk sang suami. Perlahan gadis yang memakai kemeja berwarna lavender itu, menghampiri suaminya yang sedang memperbaiki motor matik milik seorang wanita yang tidak ia kenal. Seharusnya Kanaya tidak boleh cemburu dengan pelanggan Reyhan, tetapi hati Kanaya mengatakan wanita itu berbahaya.
"Mas," panggil Kanaya, yang langsung membuat Reyhan dan Pratiwi menoleh.
Reyhan segera bangkit, mengelap tangannya yang kotor dengan kain yang biasa ia gunakan untuk lap. langkah Kanaya terhuyung hampir terjatuh
"Kamu ngapain sih Nay? aku menyuruhmu istirahat bukan keluyuran kayak gini!" ujar Reyhan dengan nada tegas.
"Kanaya pengen nganterin ini buat Mas," jawab Kanaya dengan suara lembut dan mendayu.
Dahi Reyhan mengkerut mendengar kanaya memanggilnya dengan "Mas" biasanya gadis itu memanggilnya Om. Pratiwi mengamati cara Reyhan memperlakukan Kanaya, gadis itu seperti bukan orang biasa bagi Reyhan. Apalagi gadis itu memanggil Reyhan dengan sebutan Mas, siapa dia sebenarnya.
Reyhan mengambil kopi dari tangan sang istri."Diem di sini."
Kanaya mengangguk patuh dengan perintah sang suami, bibir gadis itu tersenyum tipis melihat wanita yang duduk tidak jauh darinya sedang memperhatikan Kanaya dengan seksama.
" O, maaf saya tidak tau kalau ada pelanggan datang," ujar Kanaya sambil melangkah hendak menghampiri Pratiwi yang duduk di bangku kayu yang ada di sana.
Karena terburu-buru Kanaya tersandung kakinya sendiri, Reyhan yang menyadari al itu dengan sigap menangkap tubuh sang istri sebelum menyentuh tanah.
"Aku sudah bilang diem, bandel banget sih kamu!'" Reyhan sedikit membentak Kanaya,membuat gadis itu menunduk dengan wajah yang di tekuk masam.
"maaf," lirih Kanaya dengan wajah yang ia buat memelas.
Mantan duda itu berdecak, ia memapah sang istri untuk duduk. bukan di bangku kayu panjang tempa Pratiwi duduk, melainkan di bangku plastik yang memiliki sandaran. bangku itu biasa Reyhan gunakan untuk duduk sambil menuggu pelanggan.
Hal itu membuat Pratiwi semakin bertanya-tanya, siapa sebenarnya gadis itu. Reyhan tidak pernah mengistimewakan seseorang seperti itu selain mantan istrinya yang sakit-sakitan dulu. lalu siapa gadis itu?
Melihat rivalnya yang terus memperhatikan dia dan sang suami, Kanaya tersenyum tipis penuh arti.
"aku menyuruhmu istirahat, kenapa masih berkeliaran? Apa kau tidak mau cepat sembuh , hem?"
"Naya cuma mau nganterin kopi buat Mas,"jawab Kanaya lirih dengan wajah sedikit menunduk.
"Nggak usah repot-repot, aku akan membuatnya sendiri jika aku mau. kau istirahat saja. Dan lagi sejak kapan kau memanggilku Mas?"tanya Reyhan dengan sedikit berbisik di ujung kalimatnya.
"Sejak tadi, nggak apa-ap kan?"Kanaya balik bertanya dengan wajah polos tanpa dosa.
"Terserah kamu."
"Ma acih."
" Hem, sekarang kamu mau di sini atau balik ke kamar?"
"Disini aja a deh Mas, bosen di kamar terus. perut Kanaya juga masih sakit," rengek gadis itu dengan manja.
"Duduklah, aku akan melanjutkan ini dulu," ujar Reyhan dengan mengarahkan dagunya pada motor matik milik Pratiwi. kanaya mengangguk patuh.
Reyhan tersenyum tipis, ia melangkah menjauh dari tempat Kanaya duduk. Pria dengan kaos warna biru yang sudah bau oli dan minyak rem itu pun meraih bangku kayu kecil, untuk duduk di samping motor yang akan ia kerjakan.
"Maaf ya Wi, buat kamu nunggu," ujar Reyhan tanpa menoleh pada Pratiwi yang duduk tak jauh di belakangnya.
"nggak apa-apa kok, Mas. Aku juga kebetulan lagi nggak sibuk, " sahut Pratiwi dengan senyuman manis walau Reyhan tidak melihatnya.
Pratiwi menatap punggung Reyhan dengan penuh arti, pria itu sudah sejak lama wanita itu menyukai Reyhan. Dia juga sudah mencoba mendekati Reyhan, tetapi sayang pria tampan itu selalu memberi jarak pada hubungan mereka , meskipun mereka berteman sejak kecil.
"Ehm .." Deheman Kanaya berhasil membuyarkan lamunan Pratiwi, wanita gelagapan dan segera membuang pandanganya ke sembarang arah.
"Apa mbak haus?mau saya ambilkan minum?" tanya Kanaya basa-basi.
Pratiwi menoleh ke arah Kanaya, dia menunjuk dirinya sendiri. Kanaya mengangguk membenarkan kalau dia sedang bertanya dengan Pratiwi.
"Tidak usah, saya tidak haus kok," jawab Pratiwi dengan senyuman manis.
"nggak apa-apa lho Mbak, sebagai istrinya yang punya bengkel ini saya wajib melayani pelanggan suami saya dengan baik," ujar Kanaya dengan senyum lebar.
Mata Pratiwi melebar, jantung nya berdetak cepat. Seolah di sambar petir di siang bolong, istri? Sejak kapan? Tidak mungkin? Ini hal yang mustahil.
Reyhan pun sama dengan Pratiwi, ia tidak menyangka jika Kanaya akan mengatakan hal itu. Bukannya tidak boleh, tapi setatus mereka yang masih siri dan umur Kanaya yang masih di bawah umur, hais tentu saja ini akan menjadi masalah tersendiri buat Reyhan. Apalagi dia juga belum sempat ke RT setempat untuk melapor.
"Istri?" Pratiwi bertanya dengan wajah pucat saking kagetnya.
Kanaya tersenyum lebar sembari mengangguk, dagunya sedikit terangkat menyuarakan kemenangan atas Reyhan.
"Kok Mas Reyhan nggak ngomong-ngomong?" Pratiwi tersenyum getir, sebisa mungkin dia tidak menunjukkan rasa sakit hati, hancur sudah rasa cinta yang selama ini dia simpan.
"Hem," Kanaya mengangkat baju dengan senyuman lebar penuh arti.
"Rencananya mau syukuran tapi Kanaya lagi sakit, jadi kami tunda dulu acaranya," kilah Reyhan cepat.
Kanaya bagai di atas angin mendengar ucapan Reyhan. Mau tidak mau Reyhan harus berkata seperti itu, dia juga tidak bisa menyangkal bahwa Kanaya adalah istrinya. Meskipun baru istri siri saja, bagaimanapun mereka telah menikah.
Meskipun Reyhan merasa terlalu cepat untuk memberitahu pada orang lain tentang mereka.
Hati Pratiwi benar-benar remuk redam mendengar pembenaran dari Reyhan. Tadinya dia masih berharap gadis itu hanya bergurau, Pratiwi mengira kalau gadis itu adlah keponakan atau saudara jauh Reyhan yang sedang berkunjung. Ternyata dia adalah istri Reyhan.
Bagaimana bisa Reyhan menikahi gadis yang usianya jauh terpaut dengannya?
"Jadi kalian benar sudah menikah?" tanya Pratiwi memastikan lagi, hatinya masih menolak untuk percaya.
"Iya Mbak cantik" sahut Kanaya sengaja menggoda, sedang Reyhan mengangguk cepat.
"Selamat ya kalau begitu, semoga pernikahan kalian langgeng,"ucap Pratiwi walau dengan setengah hati.
"Aamin, doakan semoga kami lekas di kasih momongan ya Mbak."
"Uhuk," Reyhan tersedak udara, doa Kanaya itu seolah menyindir dia yang belum menyentuh Kanaya sejak malam pertama mereka.
Kanaya tersenyum, ia memang sengaja mengatakan hal itu agar Reyhan tahu dia ingin pernikahan yang utuh.
"I-iya," sahut Pratiwi dengan terbata.Reyhan mengerjakan motor Pratiwi dengan cepat.
Setelah motornya selesai wanita itu pun bergegas pulang dengan membawa luka.