Cintai Aku Om

Cintai Aku Om
Trauma


"Kalian penganggu! mau apa ke sini heh?!" Catur bukan lagi pria sopan santun dan lembut, yang Reyhan hadapi sat ini adaah Catur yang lain.


"Brengsek!" Reyhan langsung menyerang Catur dengan berbekal dahan pohon sebagai senjata, Catur tersenyum miring melihat reyhan yang dengan marahnya mulai menyerangnya.


Brugh


Reyhan mengayunkan dahan yang ia bawa, tetapi dengan mudah Catur menangkis benda itu dengan tangan. Seolah tak ada rasa sakit saat pukulan Reyhan mengenai lengannya.


Mereka yang datang bersama Reyhan tak tinggal diam, mereka mulai mengelilingi Catur, bersiap menyerang.


"Cih, beraninya keroyokan. Lemah!"


Reyhan tak mengindahkan ucapan Catur, mereka memulai serangan dan berhasil melumpuhkan Catur,tujuh lawan satu hasilnya sudah sangatlah jelas.


Reyhan mengambil Kanaya yang terkulai lemas dalam gendongan salah satu pengawal yang melepaskan ikatan Kanaya. Luka sayatan dan memar menghiasi tubuh gadis itu, Reyhan mengecup kening Kanaya yang membiru seperti terbentur benda dengan keras.


"Maafkan aku ... maafkan aku," gumam Reyhan dengan penuh penyesalan.


" Hahahaha ... kau mau apa dengan mainanku! aku baru saja akan menggantikanmu memberi nafkah batin untuk kesayanganku itu!" Tawa Catur menggelegar seolah mengejek Reyhan.


"Diam!" hardik salah seorang pengawal dan langsung menghadiahi Catur bogem mentah.


Kanaya yang tidak sadar segera di bawa ke rumah sakit, Michi terus menangis melihat kondisi sang sahabat yang sangat mengenaskan. Reyhan mendekap tubuh Kanaya yang terasa dingin, rasa sesal menyelimuti hati pria itu.


sinar mentari lembut menyapa bumi, membangunkan gadis manis yang sedang terbaring lemah di ruangan serba putih. Mata lentik nya mulai terbuka. Mata Kanaya membeliak lebar saat melihat sekelilingnya, gadis itu segera memberingsut mundur, tanpa perduli tubuhnya yang masih lemah.


Tangan Kanya yang lepas dari genggaman tangan Reyhan membuat pria itu terbangun. "Kau sudah bangun?"


Reyhan mengangkat kepala yang tadinya tersandar di tepi ranjang. Kanaya tak menjawab, bola matanya terus bergerak liar mengamati sekeliling dengan raut wajah ketakutan. Reyhan yang tadinya merasa senang karena sang istri sudah bangun dari tidur panjang merasa bingung dengan perubahan sikap Kanaya.


"Kau kenapa? Ada apa?" tanya Reyhan dengan tangan terulur hendak menyentuh Kanaya. Namun, gadis itu segera menepisnya kasar.


"Pergi!"


"Pergi!"


"A-aku tidak mau ikut! Pergi!" Kanaya berteriak histeris, membuat Reyhan panik.


"Naya ... ini aku om reyhan, suamimu. Jangan takut ini aku," ujar Reyhan dengan lembut, ia adar satu hal. Kanaya seolah takut pada sesuatu, mungkin sang istri merasa trauma atas kejadian yang menimpanya dua hari yang lalu.


"Om Reyhan ... Om Reyhan ..." gumam Kanaya lirih.


"Iya, aku Om Reyhan, jangan takut." Reyhan perlahan menyentuh pipi Kanaya.


Gadis yang tadi menatap lurus ke depan dengan mata yang bergerak liar, seketika menoleh saat merasakan sentuhan hangat Reyhan.


"Om Reyhan," panggilnya lagi, kali ini dia menatap Reyhan yang sedang menatapnya sendu.


Untuk seperkian detik mereka diam dengan saling menatap sendu, seolah sadar dengan siapa yang ada di hadapannya. Kanaya langsung berhambur memeluk Reyhan, tangannya erat mencengkram baju kusut yang sudah Reyhan pake sejak kemarin malam.


"Om Naya nggak mau di sini, Naya mau pulang! Naya mau pulang!" pekik Kanaya, dalam tangis yang tumpah dalam pelukan Reyhan.


Reyhan membalas pelukan sang istri yang sedang menangis histeris, di dekapnya erat dengan penuh rasa penyesalan.


"Nanti kita pulang saat kau benar-benar sembuh," ujarnya lembut setengah berbisik pada sang istri.


"Nggak mau!Kanaya mau pulang sekarang Om, sekarang pokoknya!" kekeh Kanaya.


Reyhan menarik sedikit tubuh sang istri dalam pelukannya, agar bisa melihat wajah Kanaya dengan jelas. Wajah Kanaya yang tertunduk ia angka sedikit dengan dua jari, di usapnya air mata yang membanjiri pipi Kanaya.


"Kita pulang nanti, kamu masih sakit. Kalau kamu sudah sembuh kita pulang, aku akan selalu menemani kamu di sini, Ok," bujuk Reyhan yang langsung di gelengi keras oleh Kanaya.


"Pulang! Pulang sekarang!"


"Ssh ... iya kita pulang nanti." Didekapnya tubuh kanaya lagi, tapi gadis itu memberontak.


Tubuh Reyhan di dorong keras, matanya kembali bergerak liar dan terhenti pada infus yang tertancap dipunggung tangannya. Dengan kasar Kanaya menariknya, darah segar menyembur keluar bersama jarum yang ditarik paksa.


"Kanaya!" pekik Reyhan terkejut.


Kanaya tak perduli dengan Reyhan, dia berusaha turun dari ranjang. Pria berjambang tipis itu berusaha menahan Kanaya yang memberontak dengan liar, tak berapa lama seorang dokter datang dengan dua orang perawat dan seorang laki-laki yang mengekor dibelakang mereka dengan langkah tergopoh-gopoh.


"Maaf kami akan mengambil alih pasien," ujar sang Dokter meminta izin pada Reyhan. Reyhan mengangguk pasrah, ia sendiri sudah merasa kewalahan dengan Kanaya.


Dua perawat itu mulai memegang tangan Kanaya, gadis itu menjerit histeris saat mereka berusaha berusaha membaringkanya. Dokter segera me menyuntikkan obat penenang pada kanaya. Gadis itu berangsur-angsur melemah, mata Kanaya kembali terpejam dan tertidur.


"Rey, aku ingin bicara sesuatu padamu," ujar Broto, Reyhan mengangguk dia juga ingin bertanya banyak hal pada pria tua itu.


Reyhan, Dokter dan Broto duduk di sofa yang ada di ruang rawat Kanaya. kanaya memang di rawat di kamar VIP atas permintaan Reyhan, dia ingin yang terbaik untuk kanaya. meskipun hal itu tidak bisa menebus rasa bersalahnya pada sang istri.


"Kanaya punya Trauma pada rumah sakit, jika hanya berobat saja tidak masalah tadi jika dia terbaring di ranjang seperti itu, seperti yang kau lihat dia akan ketakutan dan histeris," ujar Broto menjelaskan.


Reyhan pun ingat waktu dia mengantarkan kanaya berobat untuk mengobati luka bakar, gadis itu bersikeras untuk rawat jalan padahal dokter menyarankan dia untuk rawat inap.


"Kenapa Pak? apa pernah terjadi sesuatu pada Kanaya di rumah sakit?" tanya Reyhan dengan serius.


Broto menggeleng. "Aku juga tidak tau, Eni juga tidak tahu. Kanaya tidak mau bercerita padanya, dia selalu ketakutan . Tapi satu hal yang pasti, dia seperti ini setelah hilang seharian penuh , entah kemana dan apa yang terjadi pada Kanaya saat itu, dia pulang dalam keadaaan linglung. Dia hanya diam dan tidak mau bicara sampai dua hari," tutur Broto lagi.


Reyhan cukup terkejut dengan penuturan Broto, apa hilangnya Kanaya waktu itu ada hubungannya dengan Catur, manusia biadab yang sudah membunuh banyak orang dengan cara yang sadis. Pria itu mengakuinya sendiri, saat polisi menginterogasinya. Dia bahkan terlihat bangga saat menceritakan kronologi tiap pembunuhan yang ia lakukan dengan detail.


Reyhan menatap sendu sang istri yang sedang tertidur karena efek obat tidur, rasa bersalah menyusup semakin dalam di hati Reyhan. Dia begitu tidak berguna, karena tidak bia melindungi Kanaya dengan baik.