Cintai Aku Om

Cintai Aku Om
Untuk siapa?


Mantan duda itu menghentikan motornya didepan sebuah warung nasi padang, ia pun lekas turun dan melangkah masuk.


"Wi, nasinya dua ya. Di bungkus," pesan Reyhan pada si empunya warung.


"Iya Mas, lauknya apa? Masih lengkap lho."


"Apa ya, ayam aja deh."


"Siap," janda muda bernama Pratiwi itupun segera membuat pesanan Reyhan dengan cekatan.


"Ini Mas, ada tamu ya Mas?"tanya Pratiwi sambil memberikan dua bungkus nasi yang sudah ia masukan y kantong plastik.


"Nggak kok," Reyhan menjawabnya dengan singkat. Ia pun membayar pesanannya dan bergegas pulang.


Ia khawatir dengan keadaan Kanaya, Pratiwi merasa aneh melihat Reyhan yang pulang dengan terburu-buru, biasanya Reyhan akan duduk sejenak dan makan siang di warung Pratiwi. Hampir tidak pernah laki-laki tampan itu membungkus makanan, karena memang dia hidup seorang diri setelah sang istri meninggal tiga tahun yang lalu.


Reyhan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, agar bisa segera sampai di rumah. Setelah memarkirkan motor di teras, Reyhan melangkah masuk menghampiri kamar yang Kanaya tempati.


"Ka-,"


Reyhan yang hendak memanggil nama sang istri terhenti saat mendengar rintihan lirih kesakitan dari dalam.


"Sssh ..."


Laki-laki berjambang tipis itu menempelkan telinganya di pintu agar bisa mendengar lebih jelas.


"Aduh ... Ssshh, perih. Hiks."


Mendengar suara sang istri yang sangat kesakitan, Reyhan pun membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dulu.


"Kanaya Kamu!"


"Aaaahh....!" Kanaya yang hanya memakai handuk sebatas dada dan paha, menjerit keras melihat Reyhan yang tiba-tiba masuk.


Reyhan pun tak kalah terkejut, tetap tubuhnya kaku tak mau bergerak. Tersepona oleh indah pemandangan yang ada di hadapannya.


"Om Reyhan! Ngapain?"


"Nggak sopan!" Teriak Kanaya sambil menyilangkan tangan, menutupi aset kembar yang sedikit menyembul keluar dari handuk.


Reyhan mengerjapkan mata, ia berrdehem untuk menutupi rasa canggung.


"Hem, aku kira terjadi sesuatu padamu, jadi aku langsung masuk," ujarnya sambil memalingkan muka.


"Sssh ...."


******* Kanaya membuat Reyhan kembali menoleh, Kanaya yak lagi berdiri. Gadis itu duduk di tepi ranjang. Mata Reyhan tertuju pada luka yang ada di lengan gadis itu, terlihat merah menganga.


"Kenapa dengan lenganmu ?" Tanya Reyhan dengan cemas.


Gadis berambut panjang itu gelagapan, ia tidak ingin suaminya itu tahu tentang luka bakar itu. Kanaya memiringkan tubuh, berharap Reyhan tidak melihat luka itu.


"Emh ... On bawa apa? Makanan siang ya? Kebetulan banget, Naya lapar. Kita makan sekarang ya Om," ujar Kanaya berusaha untuk mengalihkan perhatian sang suami.


Alis Reyhan menyatu, dia merasa ada yang janggal dengan sikap Kanaya yang sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.


"Cepat pakai bajumu, setelah itu kita makan."


"I-iya Om."


Reyhan melangkah keluar meninggalkan Kanaya yang hanya berbalut handuk. Gadis itu bernafas lega karena Reyhan tidak mencecar nya dengan pertanyaan mengenai luka itu.


Luka yang diderita Kanaya cukup parah, kulit yang terbakar menghitam dan mengembung. Saat Kanaya mandi gelembung itu sengaja ia pecahkan untuk mengeluarkan cairan yang ada di dalamnya, rasa nyeri bercampur panas ia rasakan saat luka itu terbuka.


Ia pun memutuskan untuk mengunakan kemeja panjang untuk menutupi lukanya. Sementara Kanaya bersiap, Reyhan sudah menata makan siang di meja, dia duduk menunggu Kanaya dengan cemas.


Tak berapa lama Kanaya keluar dari kamar, wanita yang kena terlihat sangat ceria hari ini menjadi pendiam.


"Duduk."


Kanaya mengangguk, dengan wajah yang menunduk ia menarik kursi dan mendudukkan dirinya di sana. Ia tidak berani menatap mata Reyhan yang seolah ingin mengulitinya.


Tanpa bicara sepatah katapun Reyhan bangkit, ia mengambil gunting besar yang ada di laci dapur. Tanpa permisi, ia menarik lengan kemeja yang istrinya pakai, menggunting kain bermotif kotak-kotak itu dari baru hingga ke pergelangan tangan Kanaya.


Kanaya tak bisa melawan, rasa ngilu pada lengan kanannya membuat Kanaya tak mampu untuk melawan.


"Apa ini Naya?" Tanya Reyhan dengan marah.


Kanaya terjingkat, ia menunduk menyembunyikan wajah yang ketakutan.


"Jangan diam saja, Jawab!" Reyhan meletakkan gunting di meja dengan kasar hingga menimbulkan bunyi.


"Ka-kanaya kena air panas Om," jawab Kanaya dengan terbata-bata.


"Kapan?"


"Pas di rumah Oma, sebelum kita pulang," jawab Kanaya masih dengan menunduk.


Reyhan mengusap wajahnya kasar. Ia marah karena Kanaya tidak jujur dengan keadaannya, meskipun belum mencintai Kanaya tetapi tetap saja gadis itu adalah istrinya, tanggung jawab yang harus ia jaga. Apalagi Almarhum Oma Eni sudah menyerahkan Kanaya untuk dia jaga bahkan sebelum beliau meninggal.


"Cepat makan Setelah itu kita kerumah sakit," ujar Reyhan dengan tegas


Laki-laki itu kembali menggunting sisa kain yang ada di lengan Kanaya. Kini satu sisi kemeja itu bener-bener tanpa lengan, luka bakar di lengan itu terpampang begitu jelas. Sebagian masih tertutup kulit yang gosong, sebagian lagi sudah terlihat memerah, itu pasti sangat sakit. Reyhan merasa heran, bagaimana Kanaya bisa bertahan semalaman dengan rasa sakit itu.


"Tapi Om, ini hanya luka kecil."


"Diam dan cepat makan!" Tegas Reyhan dengan mata tajam yang mengintimidasi.


"I-iya Om," jawab Kanaya dengan pasrah, ia tidak ingin membuat suaminya itu semakin marah.


Reyhan makan dengan cepat, melampiaskan rasa marahnya pada butiran nasi yang sudah bercampur dengan kuah sayur nangka dan sambal ijo. Berbeda dengan Kanaya, ia berusaha untuk menahan rasa nyeri. Susah payah ia memegangi sendok, tetapi jatuh dan membuat nasi berceceran di meja.


Reyhan langsung mengambil nasi milik sang istri, tanpa banyak bicara ia menyuapkan nasi ke mulut mungil sang istri.


"Buka mulut!"


Kanaya dengan patuh membuka mulutnya, membiarkan sang suami menyuapkan nasi masuk ke dalam mulutnya.


"Om Reyhan tambah ganteng deh kalau marah," gombal Kanaya.


"Bisa diem nggak, jangan bikin aku tambah emosi," ujar Reyhan berusaha untuk fokus menyuapi sang istri.


"Kalau Om tambah marah itu artinya cinta Om makin besar buat Kanaya, kalau nggak cinta nggak mungkin Om cemas kayak gini. Iya kan Om."


Reyhan meletakkan sendok dan menyisihkan piring mereka sedikit ketengah. Pria tampan itu mennyungar rambut kebelakang, menatap Kanaya dengan intens.


"Kanaya, cinta atau tidak, tidak ada hubungan dengan ini. Kamu tinggal denganku, kamu itu tanggung jawabku. Aku sudah berjanji dengan Oma Eni akan menjagamu," Reyhan mencoba menjelaskan dengan panjang lebar.


"Cinta juga nggak apa-apa kok Om, kan Om suami Kanaya."


"Sarang e, Om!" Seru Kanaya sambil memberikan bentuk hati kecil pada Reyhan.


"Sudah cepat habiskan makanannya, dan kau harus menjelaskan apa yang membuatmu sampai terluka seperti ini.x


Kanaya mengangguk dengan mulut yang manyunkan bibirnya. Dia kira Reyhan akan lupa setelah mendengar gombalan darinya.