Cintai Aku Om

Cintai Aku Om
Mengibarkan bendera perang


"Om," Panggil Kanaya.


"Apa?!" Sahut Reyhan yang masih merasa gerah.


"Kenapa Om mau nikah sama Kanaya?"


Pertanyaan Kanaya membuat raut muka Reyhan berubah. Wajah yang tadinya kesal kini berubah sendu dan tegang, ada kebimbangan yang pria itu rasakan. Dia sudah dipaksa bersumpah oleh Oma Eni agar merahasiakan urusan mereka dengan Kanaya.


"Bukannya kita menikah karena wasiat Oma Eni, kenapa kau masih bertanya," jawab Reyhan tanpa menoleh, pria itu tidak pandai berbohong. Dia tidak ingin Kanaya melihat matanya saat dia gugup seperti ini.


"Iya tahu, tapi dari mana Om kenal Oma? Aku nggak pernah liat Om sebelumnya, aneh aja tiba-tiba ada Om terus kita nikah, lucu ya kayak cerita novel," Kanaya berkata sambil menyandarkan tubuhnya.


"Aneh aja nggak ada ujan nggak ada angin, tau-tau kita nikah karena wasiat, Om sama Oma sebenernya ada hubungan apa sih? Boleh tau nggak?" Cerca Kanaya sama menatap sang suami penuh tanya.


Kanaya menghentakkan nafasnya kasar, karena pria yang sedang menyetir itu tak menghiraukan. Reyhan melirik sekilas sang istri yang masih sibuk dengan es potong yang hampir meleleh. Kanaya yang tadinya ceria dan terus mengoceh seperti burung beo, sekarang tampak sedih dan pasrah.


"Lalu kenapa kau mau menikah denganku?"


"Ya karena cintalah," Jawab Kanaya dengan semangat.


"Cinta," ulang Reyhan yang langsung diangguki cepat oleh sang istri.


Reyhan menggelengkan kepala karena tak percaya dengan jawaban Kanaya, bagaimana gadis itu bisa mengatakan kalau dia menikah dengan Reyhan karena cinta. Padahal mereka bertemu tak lebih dari tujuh hari, dan setelah itu menikah. Bahkan selama pengajian almarhum Oma Eni mereka juga tidak bertegur sapa, bagaimana Kanaya bisa mengatakan cinta?


"Om nggak percaya ya?"


"Nggak."


"Om harus percaya, cinta pada pandangan pertama itu ada. Kanaya dulu juga nggak percaya, tapi... Setelah ketemu sama Om, Naya percaya lho. Saat pertama kali liat Om, Naya langsung jatuh cinta. Jadi Naya mau deh nikah sama Om Reyhan, apalagi ini wasiat Oma. Naya yakin Oma nggak akan salah menilai orang untuk menjadi imam Kanaya," Jawab gadis itu panjang lebar.


Reyhan hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Kanaya, jawaban naif dari seorang remaja yang jatuh cinta.


"Jodoh juga kali ya Om, lihat deh nama kita kan cocok banget. Reyhan, Kanaya, Kanaya Reyhan. Tuh kan cocok banget, fix kita emang jodoh," Cerocos Kanaya panjang lebar.


"Terserah kamu."


Reyhan tak bisa lagi berkata-kata mendengar ocehan Kanaya yang satu ini. Biarlah yang penting dia senang, begitu mungkin pikiran Reyhan.


Kanaya pun tetap bercerita panjang lebar, meski Reyhan tidak begitu merespon. Tanpa terasa mereka pun sampai di rumah sederhana milik Reyhan.


Wajah ruang Kanaya berubah masam melihat seseorang yang berdiri di teras rumah Reyhan sambil membawa rantang makanan.


Setelah mobil terparkir di sebelah rumah, Reyhan segera turun dan membukakan pintu untuk sang istri. Melihat itu Pratiwi semakin sebal tetapi ia berusaha untuk menutupinya.


Berjalan beriringan Reyhan dan Kanaya menghampiri Pratiwi yang sedang berdiri menunggu kedatangan mereka.


"Ada apa Wi? Apa motor kamu rusak lagi?" Tanya Reyhan dengan ramah.


"Nggak kok Mas, aku cuma mau nganter ini aja buat Mas," ujar Pratiwi sambil mengangkat rantang yang ada di tangannya.


Set


Kanaya langsung mengambil rantang itu sebelum sampai ditangan sang suami.


"Pratiwi, Nay," jawab Reyhan sambil melihat heran pada tingkah Kanaya yang tiba-tiba manja seperti itu.


"O iya, Mbak Tiwi. Nggak apa-apa kan kalau aku panggil seperti itu?"


Pratiwi tersenyum kaku, berusaha untuk menyembunyikan cemburu yang sudah bergemuruh dalam hatinya.


"Iya nggak apa-apa kok, anggap saja aku Kakak kamu sendiri. Reyhan dan Almarhum Mariam adalah temanku sejak kecil, kami sahabat karib. Iyakan Mas?"


Reyhan hanya mengangguk pelan, raut wajah pria itu seketika berubah muram saat Pratiwi mengucapkan nama yang sangat ia rindukan. Janda itu tersenyum lebar, dia tahu sampai kapanpun Mariam adalah kelemahan Reyhan. Dan gadis yang mengaku sebagai istri Reyhan, Pratiwi yakin Kanaya tidak akan mampu mengantikan posisi Mariam di hati sang mantan duda itu.


Kanaya yang menyadari perubahan pada suaminya segera berpikir cepat, bukan cemburu karena Reyhan masih memikirkan sang mantan istri. Tetapi Kanaya tidak ingin melihat Reyhan murung seperti itu.


"Aduh, ssshh....!" Pekik Kanaya dengan sengaja, ia juga sengaja menyenggol tubuh Reyhan agar pria itu sadar dari lamunan.


Berhasil, pria itu tersadar dan segera menoleh dan melihat keadaan lengan Kanaya."Masih sakit?"


Reyhan sedikit menunduk melihat lengan yang mbaru diganti perban baru tadi.


"Sedikit," jawab Kanaya sambil meringis seolah menahan sakit yang teramat.


Tak tega melihat sang istri yang kesakitan, reyhan pun segera mengandeng kanaya untuk masuk ke dalam rumah. Pratiwi yang merasa tidak di perhatikan tentu saja merasa kesal setengah mati.


Tak ingin image-nya sebagai wanita baik hati jatuh di depan Reyhan, dia berusaha menahan geram yang sangat membuatnya gerah.


"Kanaya kenapa?" Pratiwi berjalan masuk tanpa permisi, mengekor pada sepasang suami istri yang baru memasuki rumah mereka.


"Aku ambilkan air ya Mas?" tawar Pratiwi setengah hati.


reyhan memapah Kanaya untuk duduk di kursi ruang tamu itu mengangguk kecil, wanita yang mengenakan blouse bermotif bunga-bunga itupun segera melangkahkan kakinya ke dapur. Namun, terhenti karena Kanaya.


"Kanaya nggak mau minum, Mas. Cuma perlu istirahat sebentar aja kok," kilah Kanaya, dia tidak ingin melihat Pratiwi berseliweran dengan leluasa di rumah Reyhan, seberapa dekat pun Reyhan dan Pratiwi.


"Beneran, hanya perlu istirahat. Apa kita perlu kembali ke rumah sakit?" tanya Reyhan dengan serius. Kanaya menggeleng pelan.


Reyhan mengambil rantang yang di bawa Kanaya dan meletakkan benda itu d meja ruang tamu. Pria yang memakai kemeja polos berwarna biru itu duduk di sebelah yang istri. Pratiwi bertambah gera tetapi juga tidak bisa berbuat banyak.


"Mas bisa tolong ambilin tas Naya nggak? ketinggalan di mobil,"ujar Kanaya dengan wajah super imut.


"Ck, dasar pelupa." Reyhan segera bangkit dan melangkah keluar.


"Mbak Tiwi maaf ya, saya tidak bisa melayani tamu dengan baik. Nggak saya buatin minum, nggak saya persilahkan masuk, maaf ya Mbak. Keadaan saya tidak memungkinkan seperti ini, kata dokter saya harus banyak istirahat nggak boleh capek-capek dulu. Apalagi capek ribet sama urusan orang, itu akan menambah beban saya Mbak. Jadi pikiran, nanti saya nggak sembuh-sembuh. Maaf ya Mbak," cerocos Kanaya sambil menatap Pratiwi dengan wajah polos tanpa dosa.


Ada makna yang tersirat dibalik ocehan Kanaya yang terdengar tidak jelas, tetapi sangat jelas bagi Pratiwi jika bocah kemarin sore itu mengusir dan memberi peringatan agar Pratiwi tidak mencampuri urusan rumah tangga Kanaya dan Reyhan.


"Nggak apa-apa kok, aku ke sini karena aku perduli sama kalian. Kamu kan lagi sakit, pasti nggak bisa masak kan buat Mas Reyhan? Jadi aku kirim makanan ini, Mas Reyhan pasti suka, dia langganan lho di warung nasi padang punyaku," sahut Pratiwi dengan jumawa, dia mersa Kanaya pasti tak bisa mengalahkan dia dari urusan dapur.


Cih, langganan?liat saja setelah ini. Apa Om Reyrey masih mau makan di warung kamu, dasar gatel.


Kanaya tersenyum untuk menutupi rasa tidak sukanya, begitupun Pratiwi wanita itu melakukan hal yang sama.


Tak selang berapa lama Pratiwi pun pamit. Setelah mengibarkan bendera perang pada Kanaya.