
Garrick telah duduk manis di sofa bersama Zayn, saat ku sampai beberapa detik kemudian menyusulnya. Sengaja kuperlambat langkah kakiku agar hilang pias dan gugupku.
"El, kau kenapa? Wajahmu merah sangat, kau sakit?" Ucapan Zayn itu membuatku salah tingkah saat duduk. Garrick dan Zayn, sama-sama nanar memandangku.
"Tidak, Zayn. Aku hanya merebus air, mungkin sedikit kena uap." Duh, menipu apa lagi yang harus ku tempuh.
"Hati-hati, El. Wajahmu seperti demam, sangat merah. Tapi seperti itu, kau justru makin cantik saja, El." Pujian itu kuanggap angin lalu.
Zayn tak juga mengambil nasi, bocah tampan itu malah mengambil piring dan sendok lalu diulurkan padaku. Zayn terus memandangku dengan sandar-sandar santai di sofa. Aku tak tau apa maksud bocah itu mengulur piring padaku, bermanja atau justru memanjakan..
Kuberi piring yang telah kuisi itu pada Zayn kembali, aku ingat bagaimana ibu tiri memanjakannya.
"Bukan aku, El.., tapi kau, makanlah! Berkacalah, kau nampak kurus!" Deg, duh..ucapan calon dokter puber itu menyentilku. Kuakui, akhir-akhir ini nafsu makanku telah berangsur kurang dan menghilang.
Pantasan Ike bilang kalo aku makin seksi tiap hari, Ike tidak mengatakan jika aku mengurus. Aku dan Ike memang sering berkaca berdua bersama dan berakhir dengan tertawa bergembira. Tinggi Ike yang sebatas hidungku dengan body mengembang memang nampak lucu menggemaskan. Kami seperti angka sepuluh yang sedang menempel di kaca!
"Terimakasih, Zayn." Kupandang Zayn sekilas, segan kupandang si garang. Entah, aku malu jika saja bertemu pandang dengannya.
"Memang, apa yang kau pikir, El? Apa abangku ini memberimu kerja berat?" Zayn terus saja membahasku... Apa dia benar-benar memikirkanku?
"Tidak, Zayn. Boss Garrick tak sekalipun memberiku kerja berat." Ah, Zayn...., bagaimana reaksimu jika jujur saja kubilang, abangmu itu memang memberiku kerja berat.. Kerja berat merindunya!
"El, sampai kapan kau kerja padanya?" Saat kutoleh, Zayn tengah mengarah pandang pada si garang.
"Tak lama lagi. Kenapa, Zayn?" Zayn tak lagi sandar santai..kini duduk tegak memandangku.
"Zayn, cepatlah makan. Nanti keburu dingin!" Garrick yang telah selesai makan tiba-tiba menyeru adik tirinya.
Dan Zayn....Benarkah bocah itu juga sedang rindu? Padaku..? Seberat yang kurasakah? Zayn.., aku iba padamu. Tapi yang dirasa Zayn, pasti tak seberat yang ku rasa pada abangnya. Sebab, rasa sesal itulah pemberatku! Salahku..Ya.ya.., memang akulah yang mengawali salah dan sesal ini. Oh, Garju..,maafkan aku!
"El..!" Kutoleh pada Zayn. Sambil mengunyah makan, bocah itu kembali menyebutku.
"Habiskan makanmu dulu, Zayn. Nanti kau tersedak.." Kujawab panggilan Zayn barusan. Gemas aku, sudah berapa kali aku tersentak-sentak oleh panggilannya. Aku kan sedang makan..., dan juga sambil merana....!
Zayn sungguh manis, dia diam tak jadi bicara. Menyuap makanan dengan cepat, dan menelan seperti tak perlu mengunyahnya. Kelakuan bocah itu sungguh sableng, membuatku tersenyum menahan tawaku. Cara makan calon dokter puber itu menghiburku.
"Zayn, kau ingin mati cepat dengan lambung rusakmu?" Suara yang kembali empuk berat itu menyeru Zayn dengan lirih. Menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa sambil memandang Zayn dengan gerah.
Zayn tak menjawab. Makanan di piring telah habis. Terakhir diteguknya sekalian segelas kecil air putih.
"El.." Sepertinya Zayn benar-benar ingin bicara. Dia mengulang panggilan tertundanya.
"Iya, Zayn. Kau ingin bicara denganku?" Zayn tak pernah menyakitiku. Meski sudah larut, aku akan mendengarkannya bicara.
"Bossmu, bang Garrick. Sebentar lagi menikah. Menjadi suami orang. Sebaiknya berhenti saja bekerja padanya. Tidak baik jika kau tetap di sini dengannya. Kak Anggun pasti tidak akan menyukai hadirmu, El.."
"Kau tidak etis jika di sini terus. Kau gadis baik-baik, cantik, dan menarik, El. Bisa jadi suatu saat kau akan jadi bumerang." Zayn bicara sambil terang-terangan memandang pada si garang. Bocah itu seperti tahu dengan apa yang ada antara aku dan abangnya. Mungkinkah Zayn tahu?
"Kau ini bicara apa, Zayn?" Kali ini si garang berbicara dengan suara yang kembali terdengar agak serak.
"Aku bicara fakta, bang. Aku sarankan padamu, kembalikan saja Elsi ke rumah kita. Dia aman di sana. Atau jika dia mau. Dia bisa bekerja denganku di Singapura. Aku sanggup membayarnya. Kau percaya saja denganku, bang. Meski aku ada perasaan padanya, tapi aku bukanlah lelaki kurang ajar." Zayn berganti memandangku dengan tajam. Aku sedikit gentar jika menebak apa yang tengah dipikirnya itu ternyata memang benar.
Ku rasa peranku kali ini adalah objek bagi mereka. Seperti tak ada kesempatanku untuk berkata apa pun kali ini. Seperti aku ini tidak punya pendapat..keinginan..juga hak untukku bersuara.