Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
31. Berpisah


Mulutku bisu saat bertemu Anthony Lung di dermaga. Berdiri mendekati Garrick, ku rasa pilihan paling baik. Aku cukup berdiri diam, dan Garricklah yang akhirnya berbicara.


"Elsi.., Aku ingin bicara denganmu, sebentar.." Anthony Lung mendekatiku, namun aku hanya diam menunduk, tak ingin bicara sepatahpun.


"Lung...Aku sedang buru-buru. Banyak orang mengantri. Kapalku tidak lama bersandar, stok barangku menipis. Ton sedang menunggu pasokanmu." Garrick menepuk pelan pundak Anthony Lung berkali-kali.


"Tinggalkan dia sebentar denganku, bukankah kau turun paling akhir?" Anthony Lung menepikan tangan Garrick dari pundaknya.


"Aku sangat buru-buru kali ini, Lung. Dia akan turun denganku." Garrick masih terus berusaha. Garrick menunjukku dengan dagunya.


"Seminggu lagi, aku turun. Jangan halangi aku saat itu, Rick..Sekarang, aku tak bisa meninggalkan urusanku mendadak." Anthony Lung sepertinya tidak akan melepasku begitu saja. Apakah aku telah terjebak dalam permaian Anthony Lung..? Rasa hatiku mulai tak tenang, merasa menyesal telah berurusan dengan Anthony Lung.


"Hentikan Lung.. Dia sepertinya tak ingin bicara denganmu. Harusnya kau cukup professional, lagipula kau sudah melanggar aturan. Dia bekerja padaku, jangan usik pegawaiku..." Kali ini Garrick memegangi bahu Anthony Lung nampak lekat.


Garrick memandangku, menunjuk dengan dagunya agar aku jalan duluan. Bergegas kulangkahkan kaki ke depan, meninggalkan banyak antrian di belakang. Garrick mungkin menyusul di belakangku, atau justru turun paling akhir setelah habis antrian para penumpang, secara dia adalah penanggung jawab kapalnya.


"Gadis naif, pura-pura jual mahal!! Gadis udik, kau tak paham siapa Anthony Lung..? Kau akan menyesal !" Ku tutup rasa kejutku, Dora berbicara tiba-tiba di telingaku. Mungkin Dora telah turun bersama Garrick.


"Aku tak kan pernah menyesali ! Ambil saja untukmu. Di negara Lung, perempuan poliandri itu hal biasa. Kau bisa bersama dua pria sekaligus!" Ku jawab santai perkataan Dora padaku. Ku lihat Garrick tengah bicara dengan petugas keamanan di dermaga.


"Mbak..!!" Seruan seseorang membakar rasa dinginku bersama Dora. Kulihat sopir Garrick telah berdiri di sampingku, ya..dia Anang namanya. Anang tersenyum ke arahku, dan diam sejenak memandang si Dora, lalu Anang menganggukkan kepala menyapa. Bagaimana tanggapan Dora aku tak tahu. Anang berekspresi kaku, lalu berkata mengajakku.


"Ayo mbak, itu mobilnya..Tunggu saja di sana." Anang bergerak menjauhi kami. Tak ku sia-siakan, Sebelum Dora kembali memancing serangan. Segera ku bawa barang abadiku. Ransel dan koper silver ini terlarang ku abaikan.


*********


Wanita berambut sangat lurus dan kaku, serta punya potongan poni segaris itu duduk merapat pada tuan Garrangku. Nampak sangat gembira hatinya saat tahu aku akan meninggalkan boss galakku untuk kembali bekerja di rumah. Mungkin wanita berponi garis lurus itulah penggantiku. Hu..hu..hu... Jadi kacung sepertiku, Dora tak kan mampu. Yang ada, Garrick akan memperlakukan Dora istimewa!


"Elsiiiii..!" Ku dengar panggilan lirih, tapi aku mengenali. Iya..Sariiiiii..Resepsionist hotel Garju yang menemaniku beli baju, bahkan pilihan bajunya sempat ku pakai sebelum dinner bersama Lung, dan tersesat setelahnya.


"Sariiiiiiiii....Miss Yuuu, Sariiiiiiii....!" Sari yang sedang di luar membawa nampan, berjalan lambat menuju lobi.


Tapi berhenti dan lirih memanggil demi melihat wajahku yang menyembul di kaca jendela mobil. Tapi juga... rasa ceria lenyap seketika, terpatah karena pandangan garang Garrick pada Sari. Ibarat daun putri malu yang menguncup, Sari berlalu dengan menunjuk muka kecutnya padaku.


Hanya tinggal aku dan Anang dalam mobil. Anang, sopir pribadi Garrick yang dulu mengantar, kini datang menjemput. Garrick telah turun dari mobil, hanya melirikku sekilas saat aku benar-benar menatapnya. Beban abadiku, koper silver itu telah berada dalam pegangan tangan Garrick. Tuan Garang menarik koper, bersama Dora berjalan bersama menuju lobi hotel. Apakah mereka akan tinggal seatap di rooftop? Seharusnya aku tak perlu lagi peduli. Tapi... Aku termehek-mehek membayangkan!


"Mbak..Gimana mbak....? Asyik nggak berlayar?!" Anang membuyarkan lamunanku. Pemuda yang mungkin masih di bawah umurku itu cengar-cengir padaku di kaca spion dalam mobil.


"Asyik, mas..Asyik banget..! Boss kita itu garang sangat!" Aku tersenyum lebar pada Anang.


"Hua..ha..ha...Jujur banget kamu, mbak! Cocok...dah !!" Anang juga sama apa adanya denganku.


*Boss... Boleh tidak saya lambat kembali ke rumah sebentar?* Ku kirim pesan wa untuk Garrick. Mungkin lama dibalas, mengingat si Dora bersamanya.


Drrrttt .... Dibalas..! Sangat cepat!


*Kenapa?* Satu kata pun melegakan, daripada banyak kata tapi berisi larangan!


*Beli buah tangan! Diantar Anang.. Saya sedang banyak uang! Boleh, boss?* Ku desak Garrick agar memberi lampu hijau untukku.


*Kau akan foya-foya?* Aduh...Apakah Garrick hanya menganggapku kacung tanpa ada cita-cita? Setelah mendapat uang, kemudian jadi lupa? Aku sudah kata padanya, ingin punya usaha meski hanya pada skala remahan kerupuk dan rempeyek saja baginya.


*Tidak, boss... Hanya coklat..! Boleh?* Ya..ya..ya..Coklat, ku rasa itu buah tangan pilihan yang tepat. Hampir bisa diterima semua orang, dan ringkas, tidak makan banyak tempat !


*Liburlah. Hari ini !* Haaahh..?! Tak salah?! Oh, Garju... Ku syukuri kemurahan hatimu !


*Terimakasih sangat dalam untukmu, bossku!* Ku tutup ponselku. Kutatap Anang, sopir pribadi tuan garangku.


"Masss..!!" Nyaring ku sebut nama sopir di depanku.


"Eh.. Mbak! Ngagetin aku, kau itu mbak!!" Anang memang terkejut, mobil ini terasa sedikit bergetar. Kami baru melewati sebuah hutan pendek setelah dari pelabuhan Nongsa.


"Mas.., minta tolong antar aku beli coklat..yang macem-macem gitu, di mana ya?" Aku dan Anang saling memandang lewat kaca di spion.


"Wah, asyik tuh mbak..yuk kita ke Nagoya aja ya..!" Anang langsung membelokkan mobil mengambil lajur kiri. Ada tanda panah ke kiri bertulis ' Nagoya ' di tengah simpang jalan. Sungguh kebetulan. Sedang rumah Garrick berada di tujuan Batam Center, itulah yang Anang bilang.


Anang membawaku ke Nagoya Hill Shopping Mall, Lubuk Baja, kota Batam. Orang-orang Batam lebih suka menyebut kecamatan Lubuk Baja sebaga Nagoya. Nama Nagoya mengingatkan sebuah kota besar di negara Jepang kan? Aku pun begitu... Tapi memang ada hubungan tentang keberadaan orang Jepang di Lubuk Baja pada jaman dahulu. Itulah yang ku tahu... Jangan tanya detail..aku tak tahu..


Berbelanja bersama Anang di Mall, membuatku tak nyaman. Anang terus menguntitku ke manapun. Bahkan keinginan membeli baju dalam pun ku urungkan.


Aku sempat gembira bersamanya saat berbelanja coklat di salah satu gerai oleh-oleh di Nagoya Hill itu. Aku dan Anang sibuk memilih coklat berbagai merek, bentuk, warna dan ukuran. Ku bebaskan Anang untuk ikut menentukan.


Tapi setelahnya, aku jadi kurang bersemangat. Jalan dengan pria di Mall tanpa hubungan, rasanya tidak nyaman. Berbeda jika masuk hutan naik gunung, adanya teman lelaki, perjalanan jadi tenang dan aman. Aku mulai sibuk mencari alasan agar Anang meninggalkanku.


Drrrttttt... Getar ponsel di saku baju, sangat kuat terasa. Pesan dari tuan garang!


*Suruh Anang ke mobil, aku ingin bicara. Kau belanjalah sendiri. Tapi jangan kabur, dokumen dan kontrakmu ada padaku, El !*


Oh, Garju..Apapun isinya, pesan darimu datang tepat waktu! Segera ku tunjuk isi pesan dari Garrick pada Anang. Ponsel Anang ditinggalnya di mobil.


*Done boss,..!* Ku balas pesan Garrick. Anang telah pergi, dan aku kini sendiri. Berjalan sesuka hati, keluar masuk gerai semauku. Membeli keperluan terdesakku yang harus ku beli. Rasanya senang sekali, sudah lama tidak berbelanja seperti ini.