Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
42. Pintu Petaka


Aku yang mulanya di belakang punggung Zayn, kini menyempil sejajar jalan di sampingnya. Ada was-was jika Juan tetiba jalan di lorong belakangku, lalu hanya punggungku saja yang akan jadi objek pandangan. Jika berdua dengan Zayn, setidaknya fokus pengamatan matanya terbagi-bagi.... Lebay? Tidak!


Lorong yang kami lewati, berlawan arah dengan tangga manual yang pernah ku kayuh dengan Garrick saat listrik padam di Batam. Mungkin Zayn akan guna lift luncur yang berjauhan letak dari tangga emergency, bukan lift yang juga pernah ku naiki bersama tuan garang di lobi. Ah..,pasrah dah.Tata hotel, Zayn jauh lebih tahu segalanya dariku. Dia adiknya. Coba tak buruk sangka saja dengannya!


"Kau kenapa,El..?" Zayn memperlambat langkah dan menolehku.


"Memang kenapa, Zayn..?" Ku angkat dua alisku memandangnya. Setelah menghabiskan lorong panjang dan berbrlok sedikit, Zayn berhenti di hadapan pintu besar dari kaca. Aku tidak ingin berhenti....


"Kau tak biasa, El.. Jalanmu tegang sangat, curiga padaku?" Zayn ikut sepertiku, mengangkat dua alisnya. Jika aku..Mengendur rasa tegang dengan menaikkan dua alis, mengambil nafas sepenuh dada..dan menghembuskan dengan cepat.


"Iya Zayn, aku curiga. Setahuku, tangga emergency dan lift ada di dekat lobi sana, terus kita di mana?" Ku jawab asal saja.. Padahal was-was juga jika Zayn lalu berubah mengikuti kataku. Berbalik, melangkah kembali ke lobi.. ibarat gantung diri saja kan, aku..?


"Kita....?Kita mau ngamar, El..!" Zayn tiba-tiba mendekatiku, dan berbicara tepat di telingaku sangat cepat. Ku pandang wajahnya yang telah kembali menjauh. Wajah diam itu tiba-tiba cengengesan. Mulut ember plastiknya memang suka kelewatan. Tapi rasa sebal geramku begitu cepat menghilang. Bocah yang suka memainkan perasaan.Itulah Zayn!


"Nggak sopan kau Zayn...! Cepetan, Zayn. Aku ingin segera keluar dari sini!" Ku tinggal bocah usil itu dan ku dahului membuka pintu di depan.


"El.., tungguin ! Nggak sabar banget ingin ngamar!" Zayn mungkin sebentar lagi akan terpelanting, akibat pintu yang terlepas dan setengah ku banting. Hih...syukurin !


"El, pintunya rusak!" Alamak..! Benarkah? Cepat ku balik badanku, jika ucapan si bocah betul.. pingsan sajalah, aku!


Ada Garrick ..! Tuan garangku telah memegangi pintu yang tadi ku pentalkan, dengan Zayn yang masih berdiri di belakang. Bocah itu mengulum senyum di bibir. Tuan garang memandang diriku dalam diam dan tanpa ekspresi yang berarti,.. kenapa juga aku harus kaget sendiri. Dia kan bukan Juan... Jika pintu itu rusak benar-benar.. Masak di suruh menukar..? Kan ada banyak technician di hotel...Ku coba bertenang...


"Hai, Tuanku..Senang berjumpa denganmu..Apa kabar?!" Akulah kacung sksd, sok kenal sok dekat. Harap-harap tak didamprat. Boleh kan genit sedikit..?


"Hati-hati dengan propertiku, El..! Jangan membuatku rugi !" Ngeeeekk... Sedikit bengek ku rasa di dada. Ditepikan sapaku, diutamakan menghardikku. Itulah memang sejatinya tuanku. Sekali lagi, aku hanya pembokat, kacung dan babu. Tak ada apapun yang bararti dariku..Apa aku sekedar hanyut di indahnya mimpi karena hokiku?


Ku redup mataku menatapnya, sungguh hanya Doralah yang pantas dengannya. Menyesal sangat ikut Zayn ke sini, merasa diri tak dihargai. Biar ku relakan saja honor privatku, hanya sekali saja pun. Apakah benar pahlawan tanpa tanda jasa itu masih dipegang para guru? Jika hanyalah mitos, ku pahami kenapa. Guru..Bisa jadi profesi yang menguras emosi jiwa raga, tapi bisa juga sebaliknya. Tergantung pribadi orangnya!


"Yuk, El.." Tersadar dengan panggilan lembut Zayn padaku. Bocah itu berjalan melewatiku dan berhenti tak jauh di belakang menungguku. Bocah itu sangat mengerti perasaan hatiku. Seperti bukan bocah saja dia rasanya!


"Zayn..! Sisakan tempat untukku!" Teriakan si garang di belakangku. Aku ikut berhenti, saat Zayn berhenti menoleh si garang.


"Ku usahakan, bang, tapi tak janji !" Zayn kembali berjalan ke depan dengan ku ikuti.


Ternyata, pintu petaka tadi adalah pintu belakang bagian hotel, bukan jalan keluar untuk umum. Hanya orang-orang dalam dan pegawai hotel sajalah yang boleh menggunakannya. Ku ekori Zayn yang berjalan menuju sebuah gedung megah samping hotel. Banyak orang-orang berjalan masuk ke sana dari arah berlainan. Mungkin merekalah teman-teman Zayn. Tapi ada acara apa di sana? Kenapa Zayn mengajakku ke sana?