
Punggung yang dulu kurus dan sekarang mengembang itu telah hilang dari pandangku. Duduk termangu dengan kolam ikan di depan, seperti merekatku untuk terus melekat di bangku.
Sambil merenung dengan apa yang baru kubincang. Zayn datang meminang beserta hamparan hartanya. Seperti pengajuan proyek bangunan dengan proposal tanpa rangka di tangan. Sekilas menggiurkan dan cukup mamabukkan. Tapi kemudian hanya cemas keresahan yang ada.
Rasa risau pada apa yang akan Zayn buat padaku, saat kukatakan jujur akan penolakanku. Apa Zayn akan terus mengejar dan memaksa.. Seperti yang Juan pernah lakukan padaku.. Dan akhirnya, apa Zayn terus nekat memperkosaku?! Seperti ucapan sablengnya barusan... Tapi dia kata tak akan tega melakukan. Tapi juga jika nafsu telah meraja, siapalah yang tau! Hu..hu..hu..., jadi merinding bulu tengkukku.
Duh..Maaaak..! Kaget sangat ku rasa, ular hitam yang lama tak ku nampak, tetiba menyembul. Melingkar cepat di patung hias angsa yang ada di tepian kolam di seberang. Kepalanya menjulur melongok seperti sedang menyapa. Bergegas kulangkah kaki menuju ke kamar. Menghindar pada mitos kurang bagus yang dipercaya ada bersamanya.
Dengan kaki, tangan, dan wajah yang basah karena air yang ku basuh, kembali kusambung tidur yang sempat terputus. Telah ku lepas jaket tebal dan celana pelapisku. Hanya baju tidur terawang dengan setali tanpa lengan yang kupakai. Batam gerah malam ini.
Tentang Zayn, telah jadi putusan dengan segala resikonya. Aku ingin mendapat nyaman dalam tidur. Kupanjat ayat tidur ulang kali bersama pejaman di mata.
Dalam hening malam di kamar, samar ku dengar getar ponsel di almari. Antara ingin peduli dan malas. Maka, lelah jiwa ragalah yang menang. Abaikan dan lewati, meski getar itu kian gencar terdengar. Tunggu saja, siapa yang bertahan...Lega ku rasa, getar itu tak lagi ku dengar.
Ku harap, panggilan itu bukanlah dari ibu. Berharap, tak ada kabar penting buatku. Berharap, tanpa kabar duka dari kampung halamanku. Berharap, jangan ada yang mengumpat karena abaiku. Lalu, apa itu tuan garangku? Berharap, dia pun tak murka padaku. Sebab harap-harap, sepertinya mata ini mulai lelap. Dan lama-lama..hilanglah sadarku..Oh nikmatnyaaaaa..........
Tok..! Tok..! Tok..! Tok..! Tok..!
Ngek..! Terkaget-kaget..Bengek melanda di dada. Haaaaahhhh..! Aku sangat lelah dan tengah terseret dalam tidur. Ingin menangis saja rasanya. Aku sangat tertekan! Ku tarik selimut, kubenamkan diriku hingga ujung kepala. Seluruh tubuh telah tenggelam di dalam. Berharap, tak ku dengar lagi ketukan.
Tok..! Tok..! Tok..! Tok...!Tok..!
Kembali terdengar. Ketukan nyaring di pintu, ku tahu itu siapa. Tentu saja si garang! Apa maksudnya? Ini telah sangat malam, tak bisakah besok saja?! Aku sangat geram dengannya!
Tok..! Tok..! Tok..! Tok..! Tok..!
Senyap, samar terdengar langkah kaki menjauh. Hah.., leganyaa...Ku singkap cepat selimut tebalku...Panas! Kini ngantuk di mata telah hilang sama sekali. Meloncat ku ambil ponsel di almari. Ku buka sambil rebahan, ada pesan dan panggilan..
Panggilan banyak kali dari Garrick.
Ada juga dari Zayn...
Ku baca pesan-pesan...
*El, buka pintu. Aku sedang menuju kamarmu.* Zayn sableng...
*Bersiaplah. Aku hampir sampai. Jawab, El. * Si garang..
*Kau mengabaikan pesan dan panggilanku.* Si garang..
*Kau bersama Zayn.* Si garang..
Garrick memang datang...Tapi melihat aku berbincang bersama Zayn? Kapan... Apa si garang akan sangat marah? Melihat si adik yang malam-malam berdua denganku di temaram?
Sebenarnya apa salahku? Rasanya sangat lelah. Ku rasa, jalan paling tepat adalah mundur. Aku resign saja! Tak ingin seperti ganggang, si pengganggu hubungan manis antara Zayn sableng dan si garang.
Apa itu....?! Seperti langkah kaki mendekati kamarku. Siapa? Apa Garrick kembali ke sini? Untuk apa datang lagi? Aku cemas menatap pintu..
Sepertinya orang itu telah berhenti di depan pintu kamar. Tak ada pergerakan... Siapa itu? Meski pintu terkunci rapat, tetap saja ku rasa was-was yang meningkat!