Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
67. Selfie


Bocah sableng itu memainkan dua alis hitam lebatnya naik turun. Tanpa rona merah di wajah, tersenyum pada para saksi yang tertawa melihatnya. Kesan bangga akan sukses canda buatannya. Seperti lupa pada salah makna dari ucapannya untukku.


"Waduh, itu harapan yang sangat sesat lho, mas Zayn. Jangan diucapkan langsung gitu thoo.. , nanti banyak yang dengar...terus diaminkan...para saksi..aamiin, gerombolan setan lewat..aamiin, rombongan jin lewat..aamiin, iblis jalan santai...,aamiin. Jadi ya itu-itu yang ngamini, bukan malaikat.. Ya kasihan thoo, mbak Elsinya itu...Cantik begitu kok dijandakan...Uda Fahri siap menampung selamanya lho, ituuu.."


Bukannya tenang, para saksi yang hadir justru semakin riuh sebab perkataan pak naib yang kocak. Mereka semakin cekikikan tanpa segan.


"Itulah yang yang saya harap, pak penghulu. Semakin banyak yang aminkan, semakin cepat keinginan terkabulkan!!" Zayn semakin eror tak tersadarkan. Bahkan eror 404 di kepalanya akan meningkat ke eror 505.


Pak naib tersenyum ditahan, seperti paham dengan sifat Zayn yang cool dan sableng. Mic di tangan, kembali di arah ke bibir.


"Rasa sukanya Mas Zayn sama mbak Elsi ini, sudah sekonyong-konyong kojer lhoo.. Harus segera ada yang menolong... Ini, kira-kira siapa yang bisa menyadarkan mas Zayn ini ya.. Saya nyerah, saya angkat tangan dan peci saja sama mas Zayn....salut saya!" Pak naib geleng-geleng kepala memandang Zayn.


Sejenak agak lengang, meski masih ada tawa samar sesekali. Melepas tegang, ku geser mataku, pandanganku bertemu dengan mata uda Fahri yang santai tersenyum dan selalu bertenang. Sindiran pak naib seperti tak berefek baginya. Sebab itu, ku rasa tetap nyaman dengannya. Ku balas senyum uda Fahri dengan senyum tulus ikhlasku.


"Ehm..!!!" Deheman besar terdengar menggema tanpa mic. Asal dehem sangar itu darinya...., si garang! Nampak duduk sangat tegak memandang Zayn dan pak naib.


"Mohon maaf pak.. Saya selaku kakaknya, merasa malu dengan kelakuannya. Zayn ini masih bersekolah. Jadi, harap maklum dengan kelakuannya yang cukup mengganggu acara sakral ini, pak penghulu!" Ucapan si garang cukup keras, tegas dan nyaring terdengar, meski sedang tak menggunakan mic pengeras.


"Tidak mengapa, mas. Ini hanya untuk menghibur. Anggap saja ini hadiah bersama dari kita, untuk pengantin baru." Pak naib manggut-manggut dan kembali bicara professional tanpa logat jawa medoknya.


"Zayn! Duduklah kembali ke tempatmu!" Garrick kembali bersuara nyaring menatap tajam ke arah Zayn. Tidak peduli adanya pak naib dan uda Fahri di samping Zayn. Entah bagaimana, Zayn memang telah duduk segaris bersama mereka berlawan arah dengan kami di depan. Meski sableng, bocah itu memang dahsyat.


Zayn telah duduk santai kembali di samping abang garangnya. Yang disambut tepukan keras Garrick pada bahu Zayn sekali. Zayn mengaduh sakit dan meringis, dan langsung terlihat bahwa itu hanyalah kura-kura.


****


Tuan besar Garrick telah memesan satu meja besar untuk kami bertujuh, di kafe belakang masjid. Ini sebagai pengganti jamuan untuk pernikahan Anang, yang memang benar-benar ala kadarnya.


Anang, Ike, Ratih , uni Wel, Zayn dan aku, telah duduk manis melingkari ragam makanan di meja. Tapi si garang tak nampak. Zayn kata, sedang ada urusan di kantor admin masjid. Si garang sedang menyelesaikan urusan santunan dan sumbangannya. Si garangan, dermawan juga rupanya!


Uda Fahri masih sibuk, jadi aku gabung makan sambil menunggunya. Kami saling selfie, dengan Ike dan Ananglah maskotnya. Selfi dengan uni Wel telah beberapa ku simpan. Uda Fahrilah yang tengah ku pikirkan.


"Nang, ambilkan yang bagus selfie kami!" Zayn telah berdiri sangat dekat denganku. Anang menerima uluran ponsel dari Zayn dan gesit mengarahkan kamera di ponsel.


"Tunjuk wajah cantikmu, El." Zayn kembali mengedip sebelah matanya padaku. Hasil jepret dengan muka bantal ataupun pejam mata, hasil selfie yang tidak ku suka. Jadi ku pasang muka mempesona dan siaga tanpa kedip. Anang pun membidik.


"Kalian sangat bising di Masjid! Apa yang kalian buat?!"


Garang datang bersama hardik nyaringnya, tepat saat Anang berhasil membidik pose kami. Garrick diam mengamati,membaca situasi dengan mata coklat berkilatnya.


Auuwwh..!! Tetiba lenganku terseret ke arahnya..Jemari panjang Garrick telah menarik lengan gamisku mendekatnya...


🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒


🦁🦁🦁🦁🦁🦁🦁🦁


🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒


🦁🦁🦁🦁🦁🦁🦁🦁


πŸ“šTerimakasih segala dukunganmu. Yang berbaik hati..bermurah hati... ikhlas memberiku hadiah. vote. komen.like. favorite. segala doa baik untukku. dll. Sangat berterimakasih. Maaf juga, kedatangan komentar para reader yang baik belum sempat kusambut.


Dan para reader ghoibku.. yang tak berminat meninggalkan jejak apapun padaku. Tetap juga kuberterimakasih denganmu. Tapi, kudoakan agar kalian segera mendapat hidayah. Lalu tergerak memberiku bermacam hadiah.. like.komen. vote dll.. Oh reader ghoibku nan gelap..siapa saja dirimu. Menampaklah, agar bisa kukenang namamu! πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜„πŸ˜˜πŸ˜˜βœŒβœŒπŸ™πŸ™β€β€