
*Kau tak pulang? Rasanya sepi, El..* Inilah pesan dari Garrick, dikirim pukul sebelas semalam. Tak kuberi sepatah jawaban meski telah langsung kubaca. Kurasa Garrick pun telah tahu aku di mana. Dia pasti menanyakanku pada Zayn. Apa yang terjadi semalam jika aku tidur di sana tanpa Zayn? Apa semalam Garrick sedang rindu padaku? Oh, sakitnya dadaku...
*Kau tak pulang? Mungkin nanti aku jadi bisu di depan penghulu saat datangmu di akad nikahku. Tapi aku sangat ingin melihatmu, El* Ini pesan kedua Garrick yang dikirimnya sebelum shalat Jum'at barusan. Ini hari Jum'at. Tak juga kuberi balasan. Yang ini juga tak kupaham jelas apa maksudnya. Garrick mengharap datangku atau tidak?
Tak kupedulikan apa hakikat isi pesan si garang. Aku telah siap dengan dandan super perfect riasanku. Sehabis dzuhur Jum'at ini adalah waktu yang ditetapkan untuk akad nikah Garrick Julian. Jadi aku tengah bersiap untuk datang cantik ke kondangan mantan juragan. Meski tanpa undangan khusus untukku, kutetapkan aku harus datang!
"Wah, mbak..., yang tukang dempul manten, bakalan nggak pede deh lihat kamu, mbak!" Ike yang berdiri dekat tangga berkata heboh saat kuturun di lantai satu.
Lisbet dan yuk Tia pun begitu. Mereka diam di tempat memandangku. Juga para pengunjung kafe, mereka menoleh terpaku ke arahku. Kusapa sekilas para pengunjung kafe dengan senyum ramahku.
"Ke, aku pantes nggak kayak gini? Menor nggak sih, Ke?" Setengah kubisik pada Ike. Ike sudah tahu akan ke mana pergiku. Tapi tentu tak tahu dengan apa saja masalahku.
"Yaaa..., menor kok gitu, ya enggaklahlah mbak.Itu pasionebel banget mbak. Cucok wes, mbak!" Ucapan Ike bukan lebay, aku pun tak suka dandan menor.
"Trims ya Ke, nggak bohong kan? Aku jelong kondangan dulu ya!" Ike manggut-manggut melihat pergiku.
"Lisbet..yuk Tia, bantu Ike jaga kafe, ya." Kubicara pelan pada kedua rewang kafeku.
"Jangan khawatir, mbak Elsi." Yuk Tia tersenyum lembut sambil mengelus lenganku. Lisbet mengangguk tersenyum juga padaku.
Yang kunaiki kali ini bukan taksi uda Fahri. Tapi taksi lain yang kebetulan nyandar ke trotoar depan kafe. Nasib baik langsung dapat, kalo enggak pasti nyengir kuda nunggu-nunggu. Aplikasi taksi Batam onlineku terhapus minggu lalu. Malas instal ulangnya.
Baju yang disodor Kanaya Linha padaku, adalah yang kupakai saat ini. Semalam aku dan Zayn sempat mampir di rumah Garju sehabis maghrib. Lalu keluar lagi bersama Zayn sambil kubawa baju ini.
Dan seperti biasa, semalam adalah malam Jum'at. Pasangan panas, Ike dan Anang kembali beraksi. Begitu heboh, seperti sengaja pamer posisi padaku. Dan kembali lantai satulah pelarianku. Berteman dengan pesan dari Garrick yang dikirimnya semalam padaku.
🌻🌻🌻🐢🐢🐢
Langkahku melenggang melewati lobi, menuju gedung megah-aula besar di sisi samping hotel Garju. Di sanalah pesta pernikahan itu dilangsungkan. Gedung yang pernah kudatangi bersama Zayn sekaligus ditinggal juga olehnya. Aku datang tanpa undangan, tanpa teman, dan siapa aku ini juga tanpa kejelasan.
Dari pesan yang dikirim uni Wel, tak satu pun kacung yang ikut dilibatkan atau pun didatangkan. Hanya aku sajalah kacung yang lancang nekat datang. Ini tak mungkin kulakukan jika bukan karena rasa cintaku padanya..si garang. Meski tak jelas bagaimana... Aku yakin dengan perasaanku, hal penting itu harus terjadi kali ini.
"El...!" Haaaahh..
"Mas Juan..!" Ah, Juan...Kali ini kau seperti sengaja dikirim untukku. Niat untuk mampir ke butik Kanaya guna pamer baju pada Kanaya Linha segera ku-urungkan. Saat ini Juan sangat bermakna bagiku. Seperti mimpi kini Juan telah ada di depanku.
"El..Apa kabar? Kau datang dengan siapa, El?" Juan memandangku lekat-lekat, seperti masih ada cinta untukku di matanya.
"Aku sendiri. Tapi aku gembira bertemu denganmu. Mas Juan, boleh aku datang denganmu?" Kulembut merdukan suaraku, aku memang sedang ingin merayunya.
"Datang ke nikahan Anggun dan Garrick kan, El? Sangat boleh, El..Yuk!" Juan tersenyum, tapi senyum itu seperti palsu. Apa Juan telah tahu kehamilan Anggun?
"Mas, aku ingin tanya tentang Anggun.." Kuhentikan langkahku di tangga dan menepi ke samping, Juan meniruku. Lelaki itu memandangku lekat-lekat kembali. Seperti sudah tahu maksudku.
"El.. Tolong jangan bahas apapun tentang Anggun. Dia memang keras kepala. Ini keputusannya. Aku sudah tidak peduli, El. Terserah dia maunya apa." Ah...Harapanku seperti hilang bersih tak berbekas. Tapi..,aku tidak akan menyerah!
"Iya mas Juan. Semangat, ya..! Yuk kita ke sana!" Kuberi senyum indah kura-kuraku. Aku ingin Juan merasa berpeluang untuk bisa kembali dekat denganku. Akan kupancing Anggun dengan kemesraan Juan padaku!