
Garrick terus memandangku, tak pernah ada gerakan yang nampak darinya.
"Mengganti? Apa maksudnya?" Kudesak bossku agar cepat berkata v. Tak sabar dengan kata kunci ^ganti rugi^ darinya!
"Aku memang melarangmu menanggapi keinginan Zayn, El. Tapi aku sanggup menggantinya. Kau tau, dengan apa ku ganti?" Garrick justru menanyaku, mana aku tahu... Tetiba badan si garang bergerak, beringsut lagi ke depan. Aku tak kalah cepat juga bergeser. Baringku kini hampir melintang di ranjang. Seperti akan mati merebah saja aku sekarang. Batam kian panas!
"Tolong, jangan duduk di situ. Menjauhlah, aku tak nyaman dekat-dekat!" Ku harap dia berdiri, di kamarku memang tanpa kursi.
"Sudah ku bilang, geserlah... Tidurlah senyamanmu. Kau justru bertingkah seperti itu." Perkataan Garrick terdengar cukup nyaman, tanpa nada ejekan, tapi menggerutu!
Aku tetap enggan bergeser. Khawatir dia lalu rebah denganku.. Siapalah yang tahu, setan berdatangan tiap waktu!
"Kau bilang tidak nyaman dekat-dekat? Memang apa yang sedang kau rasa?"
"Panas!" Ku sahut cepat tanyanya. Ku harap ada iba darinya lalu berdiri.
"Apa, El. Aku sedikitpun tak menyentuhmu, kau panas?" Mak..! Memalukan! Apa aku saja yang menderita dengan hawa Batam yang panas?!
"Maksudku, hawa Batam sangat gerah!" Cepat kuralat pemikirannya.
"Siapa yang menyuruhmu berselimut seperti mumi begitu." Kali ini dia seperti mengejekku.
"Sudahlah...Disambung bicara yang tadi saja." Aku tak ingin dia terus membahasku.
"Tentang dengan apa ku ganti?" Garrick sedikit geser mundur menjauhiku.
"Iyaaa..." Kulandaikan jawabku. Kupertajam pandanganku padanya.
"Dengan diriku, El. Akulah yang akan menggantinya." Apaaaaaa? Apa aku tak salah mengerti?
"Aku tak paham." Ku harap si garang berkata lebih jelas sekali lagi.
"Aku yang akan menikah denganmu, bukan Zayn." Mak..! Mak..! Mak..! Apa ini lamaran?!
"Ap..apa?" Kali ini aku bicara gagap. Sungguh tercekat suara dan nafasku, atau..aku bahkan telah bengek. Ini sungguh mengejutkan...aku semakin kepanasan, tapi ku harap jangan pingsan. Takut jika Garrick akan mencuri kesempatan.
"Kenapa, El? Kau pasti terkejut. Biasa saja, El." Iya..iya..biasa saja... ngapain juga terkejut, macam baru sekali, sudah biasa pun..Dan nyatanya, aku tak pingsan !
Tapi dadaku sudah parah berdegup. Kencang tanpa kendali. Ku rasa lamaran dari Garrick inilah yang membuatku lupa diri. Dengan cara melamarnya yang aneh sekali. Dan dalam keadaanku yang katanya kini seperti mumi. Hi..hi..hi..berfikir begini, akhirnya justru ingin tertawa sendiri kali ini...
"Kenapa, El. Kau bahagia?" Duh, ku katup rapat bibirku yang melebar tak sadar. Jatuh amat diriku yang dikira bahagia oleh si garang. Mematung sajalah aku kini di depannya.
"Kenapa mengajakku menikah?" Aku harus tahu kenapa dia memilihku. Bukankah Anggun telah siap di depan matanya?
"Om David mendatangiku. Dia mendesakku. Pasti Anggunlah yang membujuk ayahnya. Aku ragu dengan Anggun, El. Aku lebih yakin denganmu!" Garrick berbicara nampak serius. Ada kesan kalut pada ucapannya yang terdengar berkemelut.
"Kenapa harus aku?" Apa tak ada pandangan lain selain aku? Ya..ya..dia tak kenal wanita.
"Aku hanya melihatmu selain Anggun." Aku paham ucapannya.
"Ada Ratih.. uni Wel... Tika....Intan...Umi..Retno...Siti pun ada. Wanita kacungmu banyak, kenapa aku?"
Selain dua nama di awal..itu adalah nama kacung muda belia, manis dan modis. Kecuali kak Siti, usianya tanggung, sedikit di atasku. Serasilah dengan si garang!
"El..! Aku tak kenal mereka!" Mak...! Dia sepertinya marah. Suaranya keras kali ini.
"Sudah, El. Fikirlah dulu. Ku beri waktu seminggu. Kau tinggallah dulu di sini." Garrick berhenti bicara. Aku bengek menyimaknya.
"Aku tak memaksamu. Jika kau setuju, akan segera kuputuskan Anggun pada om David. Jika kau tak mau. Bermakana, Anggunlah jodohku. Aku akan segera menikahinya." Penjelasan Garrick seperti dengung lebah di kamarku. Karena aku memang masih terheran-heran dengan kebenaran telingaku.
"Pikirkan, El. Jika iya, antar aku ke Jawa bertemu ibumu." Isshh...Manis sekali kudengar.
Ingat ucapan Zayn seperti itu padaku..Dan justru gelilah yang ku rasa di hati. Tapi mendengar Garrick bicara begitu, debaran jantungku melaju! Duh...,bingungnya aku!