Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
83. Tiket ^KHUSUS^


Camer si garang yang biasa disebut om David olehnya, dan harus ku panggil pak David alias Chow Yun Fat kawe itu, seperti sengaja tidak langsung menjawab tanyaku akan pesanan yang dipilih. Garis bibir tegasnya baru membuka setelah sekian lama memandangku. Terkesan telah puas menilai dan menguji sabarku.


Wajah cerah penuh senyum dengan kesan menghormati, tentu sentiasa kupasang. Demi kafe Sedan, juga wajib segan pada staff dan pak walkot. Kukesampingkan masalah pribadi. Ku rasa, pak David pun begitu. Setelahnya, dia tak lagi menyorotku. Hanya sesekali tatapan kami bertemu.


"Teh hangat,tanpa gula." Itulah kalimat terakhir oleh pak David setelah cukup lama ku tunggu. Posisi pak David menghadapku, dan teman duduknya memunggungi.


Teman duduk pak David hanya satu, mereka duduk berdua semeja. Sedang meja lain, berisi empat orang tiap meja.


Setelah memberi senyum ramah, dengan mata pak David yang sesekali memandang, bergegas ku temui yuk Tia. Kuberi pesananku, sambil ku bawa pesanan dua meja di dalam yang siap diantar.


Dari radar telinga yang ku pasang, rombongan staff walkot ini ternyata sedang melakukan program kerja nonton film nasional bersama di bioskop, sebagai dukungan pada karya anak bangsa atas anjuran pimpinan pusat di Jakarta. Enak nggak tuh..?!


Teringat akan tiket milikku yang ku beli tadi sore. Film Habibie & Ainun, dengan jam tayang pukul delapan. Dan sekarang masih pukul setengah delapan. Film apa yang akan mereka tonton? Samakah?


Dinner mereka tak lama, telah kuduga, waktulah yang dikejar. Orang yang duduk berdua dengan pak David, mungkin sang aspri. Pembayaran dibereskan olehnya.


"Kerja di sini?" Suara lembut dan berwibawa menyentak lamunku tiba-tiba. Tumpukan uang merah di tangan hampir berhamburan ke lantai.


"Iya, pak. Terimakasih atas kedatangan anda dan para staff anda!" Cepat kuberdiri menyahut sapanya. Pak David telah berdiri menjulang di depan meja kasir.


"Sama-sama..Baiklah, kerjalah yang bagus. Lain kali, aku akan datang. Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Pak David bicara sangat lembut. Bahkan lebih hangat dari saat dia bicara bersama Garrick waktu itu.


"Iya, pak. Terimakasih." Termangu kutatap pak walkot yang tersenyum berlalu. Wajah itu semakin berkharisma. Ingin bicara apa dia denganku?


"Mbak...Sudah?!" Duh, si cungpret baru datang! (Cungpret-kacung kampret, kampret-kalong-kelelawar yang suka ngilang).


"Lama banget replacement kita, Ke?" Ike tak nampak sedari awal.


"Maaf, mbak. Aku kelamaan di toilet atas." Si bumil nyengir, entah apa yang dilakukannya di atas tanpa Anang.


"Ke, ku lanjut cutiku ya. Jangan ngilang!" Ku sambar tas cantik baruku dengan tiket nonton di dalamnya.


****


Aku tiba lambat. Karena nonton sendirian, remah-remahlah kawanku. Jadi ku sempatkan beli dulu.


Seperti yang ku sangka, antrian sangat panjang ini berakhir dengan diriku di belakang. Mungkin hanya jin pendamping sajalah yang sedang menyemangatiku sekarang.


Sempat tergoda untuk keluar saja dari barisan. Pergi cuci mata di mall juga pasti menyenangkan...


Bioskop ini tidak jauh dari lokasi kafe Sedan. Mungkin sepuluh menit saja berjalan. Terletak di lantai dua, Mega Mall Batam Centre.


Saat gundah merongrong, tetiba dari pintu lorong di samping, bermunculan para lelaki berjas hitam dan sebagian berbaju batik. Jelas ku paham siapa. Rombongan staff wali kota itu melewatiku perlahan. Rupanya, film yang mereka bincang itu sama denganku, Habibie & Ainun!


Sambil bercakap, jalan mereka sangat santai melenggang. Tak sepadan dengan apa yang sedang kurasakan. Mereka masuk gedung sangat lancar tanpa aral yang melintang.


Ups..! Ditengah pandang kosong pada mereka. Mataku bersapa dengan pandangan pak walkot. Pak David nampak terkejut mendapatiku. Camer si garang yang berwibawa itu berlalu sambil senyum samar-samar. Membalas senyum indah sapaku padanya.Dan akhir kata, rombongan kerja senang itu telah habis berlalu dariku.


"Mbak..." Jalan-jalan mataku pada poster film di dinding terhenti. Aspri pak David telah berdiri di sampingku dengan panggilannya.


"Iya, mas..." Ku tatap mata itu dengan penuh tanda tanya.


"Mbak ini tiket khusus, dari pak David. Jika mau, gunakan saja dan langsung menemui petugas yang tengah duduk di sana." Aspri tinggi itu menunjuk ke arah orang duduk di depan pintu masuk.


"Saya permisi, mbak." Aspri pak david menyapa dan berlalu.


Tiket ini sama persis dengan yang kubeli. Tapi ada perbedaan, ada stempel merah bertulis ^KHUSUS^ yang menodai tiket gratis ini. Kulongok ke depan, antrian tak berjalan, seperti hanya diam saja di tempat. Ku rasa baru tahun depanlah giliranku untuk masuk.


Dengan hoki yang kudapat, dan penasaran pada jalan cerita film, aku pun jalan maju melenggang. Mungkin telah sepadan dengan cara jalan rombongan staff wali kota. Perlahan kudekati pegawai sobek tiket yang telah mengawasiku dari tempat duduknya. Ku percepat melenggang, agar pegawai sobek tiket yang menganggur itu tak berlama memandangku.