Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
102. Kampung Vietnam


Bermain pasir dan air dengan semilir angin sepoi di pantai Glory Melur sudah puas kami lakukan. Beberapa ada yang mandi mencebur ke dalam air lautan, termasuk Zayn. Bocah itu begitu tahan berenang dan menyelam.


Aku memilih mencari batu kerang dan cangkang kelomang kosong yang cantik serta ponsel siaga di tangan. Kuabadikan moment ini baik-baik, siapa tahu tak lagi bisa mengunjungi tempat ini lain kali.


Dari Melur, kami merambat menuju destinasi incaran yang utama, yaitu Kampung Vietnam yang sama berada di pulau Galang, di jembatan ke-lima. Jumlah kami sembilan orang, termasuk sopir yang dikirim oleh si garang. Satu keluarga pasutri dengan dua anak balita mereka. Lagi muda-mudi dewasa yang Zayn kata mereka sebentar lagi menikah. Hanya aku, Zayn dan sopirlah yang jomblo bertiga. Tapi di jalan-jalan ini, sikap Zayn begitu baik dan sopan. Sepertinya dia memang sedang murni membawaku jalan-jalan menikmati plesiran.


Kami mulai memasuki area kampung Vietnam yang kosong karena ditinggalkan. Ya, orang-orang warga Vietanam yang mengungsi dan merintis kampung ini telah dipulangkan oleh pemerintah Indonesia ke negara asalnya, Vietnam. Mereka pulang dengan tidak baik-baik saja. Proses pulang itu tentu diwarnai kericuhan, kerusuhan dan tragedi. Mereka sudah terlanjur nyaman di kampung pengungsian, jadi rasa berat dan tak ingin dipulangkan.


Memasuki area perkampungan yang lengang, akan berjumpa dengan monumen patung yang disebut sebagai patung kemanusiaan. Demi mengingatkan pada tragedi pemerkosaan pada gadis pengungsi yang dilakukan oleh pemuda yang juga sesama pengungsi, dan kemudian bunuh diri.


Akan dijumpai juga hamparan ratusan pemakaman, tempat mengubur para pengungsi yang mati karena wabah sakit dan penyakit kelamin yang mereka bawa sendiri dari tempat asalnya.


Lalu kami juga menjumpai titik kunjung yang bagiku berkesan, dan menimbulkan efek merinding di kulitku. Terlebih pesan dari penjaga agar kami menjaga sikap serta mengendalikan pikiran selama kami melewati area ini. Ya, kami sedang menyusuri bangunan kosong bekas rumah sakit pengungsi. Barak-barak yang terbiar begitu saja itu benar-benar terkesan seram kupandang. Lalu kami mendatangi juga penjara kampung Vietnam yang tanpa penghuni, terasa lengang dan mistis. Kata Zayn, di sini pengunjung sering kerasukan dan tak sadar tiba-tiba. Entah benar atau tidak, tentu aku waspada. Tak ingin hal buruk menimpa padaku juga rombongan ini.


Sangat kuhormati pada hal yang begini. Kasus semacam ini juga sering terjadi di beberapa pendakianku saat pergi naik gunung. Teman-teman yang pernah sesat, menghilang lalu kembali, bercerita pada kejadian yang tidak masuk akal yang mereka alami saat menghilang. Bahkan teman yang hilang beberapa jam saja, bercerita hal yang seolah hilang diri itu sudah bertahun lamanya. Kusyukuri diriku, sadar ada terus saat mengalami sesat dipendakian.


Hari lepas ashar, kunjungan ini mungkin akan berakhir. Teman Zayn, dokter lelaki senior dengan istri dan dua anak balitanya itu, mengajak kami singgah di rumah makan sederhana di area luar kampung Vietnam.


Ada dua menu gonggong yang mas Demank-nama dokter itu, pesan. Gonggong rebus yang disertai saus asam pedas, setelah dicungkil dari cangkang dengan tusuk gigi, bisa dicocol saus. Dan menu gonggong kedua adalah cara oseng gonggong kecap. Dijamin semuanya sedaaap.


Mas Demank sempat bercanda pada pasangan dokter muda yang akan menikah itu. Jangan banyak makan gonggong saat ini, masih sangat berbahaya. Zayn menjelaskan dengan santai padaku. Gonggong amat bagus dikonsumsi oleh lelaki, bermanfaat menambah stamina dan vitalitas untuk pria dewasa. Mas Demank pun bercanda menimpali, gonggong sangat tidak cocok jika dimakan berlebihan oleh Zayn.


Bocah sableng itu pun tak kalah, semua gongggong ditariknya dan digeserkan di meja mas Demank. Zayn kata, hanya mas Demank sajalah yang butuh dan boleh makan banyak gonggong saat ini. Semua jadi tertawa, juga dua balita anak mas Demank pun ikutan tertawa, padahal mereka mana paham. Dan aku pun ikut tertawa ria bersama.. Ah, Garju, tapi aku terus juga mengingatmu!


Selain gonggong, mas Demank juga menambah pesankan otak-otak cumi-cumi dan lontong. Agar perut kami aman di perjalanan saat pulang, itulah yang mas Demank bilang barusan. Kata Zayn, mas Demank adalah dokter ahli syaraf di RS Otorita Batam. Dokter muda senior, pendatang dari propinsi Jawa Tengah yang baik dan ramah..


🐢🐢🐢


Setelah piknik seharian, di sinilah aku sekarang. Bermalam di kafe Sedanku!


Zaynlah yang menyarankan padaku untuk tidak bermalam di rumah rooftop. Sebab, malam ini Zayn akan kembali ke rumah besar di Batam Centre. Banyak berkas dan buku yang harus disiapkan untuk dibawa ke Singapura besok, setelah acara akad nikah abangnya selesai dan sukses.


Bocah itu tak ingin jika aku hanya berdua dengan abangnya di rooftop malam ini. Zayn juga mengajakku kembali ke rumah besar. Tapi aku tak bisa, aku tak mau. Jadi kembali ke sinilah pulangku. Zayn juga telah tahu, jika kafe Sedan ini milikku. Anang dan Ikelah yang bilang padanya tadi. Ya, baru tadilah dia paham setelah mengantarku. Zayn pura-pura bilang salut padaku. Padahal itu hanya menyemangatiku. Zayn, si bocah yang lebih hebat segalanya dariku!