
Dig dug dadaku kembali melaju, Garju terlihat keluar dari kafeku dan berjalan menuju latar di parkiran. Anang, sang sopir tak mengikutinya, tapi kembali masuk ke dalam setelah menutup pintu kafe Sedan.
Dep!
Bunyi pintu ditutup terdengar bersama duduknya Garju di sebelah. Aroma lembut parfum khas miliknya berhembus dan terhirup olehku. Harum yang lama tak kujumpa kembali menyapa nafasku. Oh, Garju..
Ini pertama kali Garrick membawaku pergi dengan mobil yang dikemudikannya sendiri. Dan bisa jadi hal sepele tapi mendebarkan ini, tak akan penah terulang lagi oleh kami esok hari.
Garrick telah melaju, berlalu jauh meninggalkan kafe sedan. Wajahnya lurus dan fokus ke jalan tanpa sekalipun menolehku. Seperti lupa dan tak merasa telah membawaku duduk bersama di sampingnya.
"Kenapa, El. Kau kurang nyaman hanya pergi bersama denganku..?Anang ada perlu dengan istrinya." Garrick berbicara sambil tersenyum menolehkan kepala padaku. Aku cepat-cepat buang muka, pura-pura tak memandang.
"Tidak..Biasa saja.." Kusembunyikan gugupku. Si garang memang sering menebak percakapan hatiku tiba-tiba.
"Kau memang merasa biasa, El. Aku tahu. Kau sering pergi berdua dengan laki-laki lain." Si garang kembali berkata dengan suara dalam dan lirih.
"Maksudmu bagaimana?" Kumajukan wajahku melihatnya.Wajah itu tenang namun tak terbaca ekspresinya. Dan bibir merah itu terbuka lagi tanpa menolehku.
"Kau sering pergi keluar diantar laki-laki. Dengan Zayn kau pernah, dengan Juan kurasa sering, uda Fahrimu itu tak terhitung...Dan lelaki tadi itu, siapa? Kurasa dia tadi aku tak asing, El.." Garrick begitu tenang mencercaku sambil lalu. Begitukah aku di matanya? Sangat burukkah aku? Ku harap dia jangan dulu mengenali camernya, pak David.
"Boss Garrick, apa kamu tak paham? Aku denganmu jauh beda. Kau punya segalanya, aku tak punya apa-apa. Jika aku tak pergi bersama dengan nama-nama itu, mana bisa aku pergi ke mana-mana. Aku tak punya sopir pribadi yang siaga menjemputku ke mana-mana?" Kuharap dia paham dan mengerti penjelasan panjangku ini. Aku tak ingin membuang waktu untuk berdebat hal tak guna di saat-saat akhir kebersamaanku dengannya.
"Iya, El. Iyalah aku paham. Maaf..Aku hanya ingin bilang, aku tak pernah menyupiri perempuan lain selainmu " Ucapan Garrick sangat lembut mengujaku. Seperti merasa bahwa ucapannya itu menyinggungku dan kini menyesali.
Punggung itu kemudian menyandar santai sepertiku. Entah bagaimana perasaannya, sedang perasaanku terus saja berdebar.
Dug..dug..dug..dug degup jantungku. Entah bagaimana lagi..tetiba telapak tangan kirinya telah memegang punggung jemari kananku yang terasa mungil digenggamannya. Tangan besar itu terasa hangat menggenggamku. Ku biarkan. Tak ada niatku menghentaknya, hanya kupandangi wajah menawan itu dengan debar di dada.
Punggung tanganku telah dibalikkannya, tidak hanya telapak serupa magnit itu saja yang menggenggamku, tapi tanganku juga, tangan kami telah saling menggenggam. Dadaku telah berdebar menghangat sekarang. Garrick nampak tenang dengan sebelah tangan yang sambil terus menyetir mobilnya.
"Kau sudah makan, El..?" Suara yang berubah agak lirih itu menyoal tanpa melihatku.
"Sudah.." Sedikit gugup kujawab. Tangan Garju masih terus menggenggam, begitu juga tanganku.
"Di mana?"
"Di Anchor In.."
"Dengan siapa..?"
"Dengan teman.."
"Lelaki tadi..?
"Iya.." Garrick berhenti bertanya bersamaan dengan tangannya yang kemudian berubah meremas tanganku. Diremas-remasnya dan aku juga membalas remasan tangan si garang. Kami saling meremas dalam bisu.
"El.." Garrick menyebut namaku seperti mendesah... Ah ku rasa, panas yang sedang kuderita ini juga tengah sama menyiksanya.
"El.." Garrick kembali menyebut namaku, namun sambil melepas remasan tangan kami dengan sedikit tergesa.
Kuatur nafasku yang telah mulai memburu. Rupanya mobil Garrick hampir memasuki pelataran hotel Garju dan harus membelok sedikit tajam. Kurang bisa mengimbangi jika hanya dengan sebelah tangan saja, terlebih dengan rasa yang panas seperti ini.
"Sorry..,El.." Garrick menoleh dengan wajahnya yang menegang. Aku tak yakin dengan maksud ucapan Garrick padaku. Hanya kubalas dengan angguk dan senyuman yang manis untuknya.
Kami telah sampai di teras lobi hotel Garju. Sempat kulihat beberapa karangan bunga ucapan selamat menikah. Bertulis nama Garrick dan Anggun menghiasi gerbang masuk ke kawasan hotel Garju. Kuremas tali tas bahuku, kutahan sesak dadaku.
"El.. Ayo turun !" Garrick tengah memegangi pintu mobil yang telah dibukanya. Oh, Garju..sikapmu manis sekali!
"Boss Garrick, jangan berlebihan. Pegawaimu akan terheran melihatnya!" Gegas kukeluarkan diriku sambil kubisik keras di sampingnya. Security di pintu masuk lobi tak henti menatapku dan Garrick.
"Mereka tidak akan bergunjing, El..." Garrick telah rapat menutup pintu mobil kembali.
"Iya..., mereka akan mematung di depanmu, tapi jika di belakangmu, langsung jadi induk bebek yang bising." Kami berjalan menuju lobi mendekati security.
"Iya, El.. Dan kamulah kakak bebeknya..!" Garrick mengejekku dengan memalingkan muka untuk mengalihkan senyumnya.
Benar yang kubilang, security yang sudah menghafalku itu kupergoki memandang kepo pada kami diam-diam. Security menyambut dengan terkejut saat tiba-tiba dilempari kunci mobil oleh Garrick.
Lobi nampak lengang. Ini sudah larut, Sari tidak ada. Teman Sari tersenyum membalas saat melihat kedatanganku, kami tidak terlalu saling kenal. Bahkan namanya pun aku tak tahu. Gadis itu sangat cuek dan pendiam. Pantaslah dia abadi jaga malam, alias resepsionis malam hari. Mungkin sedang punya masalah pribadi, jadi dia akan lebih bahagia jika sendiri.
Seperti halnya di gerbang, di lobi pun juga terpajang beberapa karangan bunga ucapan selamat untuk Garrick maupun Anggun. Tak ingin melihat, tak sengaja juga kubaca.. Duh..hatiku..sabarlah kamuuuu...
Saat gila mendaki, para teman mendakiku juga membawa ragam masalahnya ke puncak. Kebanyakan mereka sedang patah hati... Teman bilang, putus cinta itu menyakitkan..tapi..lebih menyakitkan jika sudah putus tapi masih cinta... Lalu aku itu apa..?! Nyambung saja tidak..apalagi putus... Mungkin aku pecallakor saja...alias perebut calon laki orang.. Ah...deritanya!
"Joko !" Seruan Garrick pada kang security mengejutkanku.
"Ya, tuan..?" Security itu nampak berwajah cemas.
"Tepikan bunga-bunga menyemak itu dari lobi !" Telunjuk panjang Garrick menuding pada karangan-karangan bunga di lobi.
"Siap..Tuan boss!" Joko tergopoh mencapai karangan bunga yang terdekat.
"Yuk, El..Kita ke atas.." Suara Garrick berubah lembut mengajakku. Ah..sejenak ingat sikapnya waktu itu padaku... Pada Anggun melembut..padaku kesambet...
"El..! Elsi..!" Deg..Langkahku terhenti mendengar seruan yang ditujukan padaku. Begitu pun Garrick.. Wajahnya nampak gerah dan heran memandangku..
Aku dan Garrick sedang berada di depan lift, menunggu jemputan besi kotak itu. Kami pun sama-sama berbalik. Dan benar yang kuduga...,bocah sableng itulah yang tadi memanggilku dan kini sedang berjalan tegap menyeret koper kecil menuju tempatku dan Garrick berdiri!