Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
105. Periksalah


Petugas dari tim wedor (wedding organizer) mengarahkan kami untuk singgah dan duduk. Kuajak Juan untuk duduk di meja paling depan yang kebetulan masih ada yang kosong. Tak kupaham di mana para kerabat si garang ditempatkan.


Baru saja duduk, kulihat Anggun berjalan tergesa menuju wastafel yang jauh di pojok dan tak ada orang satu pun di sana. Ah, dia pasti sakit, mungkin juga terus muntah.


"Mas Juan, aku cuci tangan dulu." Aku telah berdiri siap pergi dari meja.


"Sendiri, El?" Juan akan berdiri denganku.


"Mas Juan, duduk saja. Tunggulah sambil makan." Kujawab cepat, tak ingin Juan ikut. Dan sedang ada petugas yang datang mengantar sajian ke meja.


"Okelah, El." Juan duduk manis lagi menghadap meja.


Langkah lenggangku sangat cepat menuju tempat Anggun. Gadis itu tengah mencuci tangan lalu memercik air ke bibir dan mulutnya. Anggun habis muntah, begitulah cara dia membersihkan mulut agar tak luntur gincu menornya.


"Anggun... Kau masih nekat untuk menikah dengan Garrick?" Sedikit berdiri sangat dekat tepat di sampingnya. Anggun berdiri tegak dan menoleh terkejut menatapku.


"Untuk apa kau ke sini?! Kami tak mengundangmu!" Anggun sungguh angkuh padahal sangat lemah. Lemah raganya, juga kewarasannya.


"Garrick yang menginginkanku dataaaang.... Juan yang membawaakuuuu... Daaaan.., ayahmu sangat-sangat sukaaaaa, akan datangku ini!" Nada bicaraku kali ini seperti gadis binal dan nakal.


Wajah Anggun benar-benar kulihat seksama. Muka make up tebalnya memerah dan tajam memandangku. Mungkin dia ingin memalu godamku hingga remuk. Kuakui heranku, setakat ini, tak ada adu fisik sedikit pun di antara kami.. Anggun cukup baik menahan diri, sedang aku hanya menunggu mengikuti. Mungkin juga karena Anggun tahu diri, merasa dialah yang salah di sini.


"Kau..Kau gadis binal! Perhiasanmu saja imitasi!" Eh..Anggun..Kau gali lubang jatuhmu sendiri..


"Yang kau maksud cincin indah ini? Kau tau, siapa yang membelikannya? Garrick...! Tak mungkin kan, Garrick membeli barang imitasi? Lalu mana cincinmu.. jangan-jangan Garrick pun tak membelikannya untukmu..Iyakah?" Anggun semakin merah padam mukanya.


"Dari Garrick.., sudah kudapat cincin ini. Kau tau, siapa lagi targetku? Juan dan ayahmu..! Aku pasti akan mendapat banyak berlian lagi dari ayahmu dan Juan!" Wajah Anggun yang menomat itu berkaca-kaca di matanya. Dia pasti akan menangis dan muntah.


"Kak Anggun! Pak penghulu, sudah datang!" Tetiba Zayn sudah berdiri di belakang kami.


"Duduklah, El.." Zayn berkata hangat padaku. Nada bicaranya tak lagi sedatar tadi.


Dengan berdebar, laju kutuju ke kursi mejaku. Juan tengah bermain ponsel di tangan. Ah, pak naib telah datang. Ya Rabb.., tunjukkan kebesaranMu kali ini.. Aku mengemis wujud sayangMu padaku... Oh, seperti tak berpijak di bumi saja kakiku sekarang. Ini adalah akhir perangku, antara kalah dan menang.


Ternyata tidak. Anggun nampak didudukkan dan menyandar di sana. Sedang minum. Seseorang memberinya minum. Ternyata hanya sebentar tumbangnya...Ah, Anggun telah berdiri kokoh kembali. Berjalan lagi bersama pak David, ibunya dan Garrick menuju podium. Hanya Zayn yang tetap duduk santuy dan kini berdiri, berjalan menuju tempatku.


"El, aku duduk di sini." Zayn menghempas di kursi sebelahku yang kosong. Aku duduk di antara Juan dan Zayn.


Moderator dari wedor telah membuka acara akad nikah yang akan segera dilangsungkan. Pak naib yang akan menikahkan adalah penghulu milik wedor yang datang dari Jakarta.


Segala rentetan aturan telah dibacakan sebelum benar-benar diucap ijab qobul. Dig dug hatiku tak henti berdebar sambil mencermati setiap ucapan moderator berpeci itu dan pak naib yang terlihat berwibawa dan serius.


Garrick telah duduk bersila menghadap Anggun dan pak David dengan meja pendek sebagai pembatas. Ada beberapa pria yang duduk di belakangnya. Mungkin itu para kerabat yang akan jadi saksi. Begitu juga di pihak pak David. Ada banyak pria bersila dengan tambahan ibu Anggun.


Oh..Tuhaaan, acara akan benar-benar dimulai. Pak naib telah membaca doa dan bismillah. Pak naib telah memegang speaker dan mulai bertanya akan kesiapan pak David.


"Siap, pak. Mari segera dimulai." Itulah jawaban pak David. Pak naib mengangguk kecil. Lalu memandang lekat pada Garrick. Oh...,jantungkuuuuu.. Kuat-kuatlah kamuuu..


"Calon mempelai lelaki. Garrick Julian Jusuf!! Sudah siapkah kamu untuk menyambut ijab dari wali calon istrimu dengan jawaban qabulmu??!!" Oh, pak naiiiiiib..suaramu seperti sengaja memalu godam dadaku!!!!


Hening...sangat hening.. tak ada sahutan darinya. Garrick hanya diam menatap pak naib. Tak ada tanda dia akan bicara. Bibirnya rapat mengatup. Apakah si garang benar-benar bisu seperti bunyi pesannya semalam? Oh, jangan Garjuuu..berbicaralah..jangan bungkam...


"Pak penghulu. Saya minta maaf. Sebelum akad nikah saya lakukan, saya ingin tahu keadaan calon istri saya yang sebenarnya. Dia sedang tidak sehat, saya ingin tahu, sakit apa sebenarnya. Saya ingin adik saya, dokter Zayn yang memeriksanya!" Oh..Tuhaan..Garrick..


Tetiba Garrick berdiri, berjalan ke arahku. Dia menatapku. Berdiri di depan mejaku, menatapku sebentar.


"Zayn,periksalah Anggun. Apa sakitnya. Sakit Anggun itu serupa dengan sakit ibumu saat mengandung Daehan." Garrick yang membungkuk bicara pada Zayn kembali tegak dan berjalan ke tempatnya semula. Oh, Garrickkuuu.., akhirnya kau pun tahu, sakit apa Anggun itu.


Kutoleh Zayn di sampingku. Lelaki itu hanya diam memandang punggung Garrick tanpa ekspresi. Rahang dan wajah Zayn terlihat mengeras. Oh, Zayn, kenapa..ayo periksalah... Tolong katakan yang benar, Zayn... Zayn...


Zayyyynn...!!!


🐍🐍🐍🐍🐍🐢🐢🐢🐢maap..sambung lagi esok ya.. bukan nanggung kan. Udah jelas ceritanya kan..kan..kan... Ayolah, pembaca yang tersayang...terhormat...terbudiman.. pergilah jelong wolking di Wasiat Cinta di Tokyo. Selamatkanlah novel itu...


Untuk yang telah singgah... berjuta terimaksih untukmu yaa.. 😘😘🙏🙏✌✌