
Aku ingin menggentarkan mereka meski sesaat. Lumayan mengulur waktu bagiku. Mana tahu ada peluangku yang datang sewaktu-waktu.
"Mundurlah kak! Jika kau tahu siapa abangku, kakak akan menyesal!" Ku gertak dengan wajah datarku, berkesan bahwa aku sama sekali tak gentar.
"Ha..ha..ha.. Siapa rupanya abangmu, adeek?!" Lelaki pendek bertanya dengan tertawa mengejekku.
"Abangku bukan orang sembarangan!" Ku jawab lantang dan keras. Lelaki kurus kecil itu diam di tempat memicing mata mengulitiku.
"Abangnya punya sewa di Garju suite VIP! Ha..ha..Hua..ha..ha..!!" Lelaki pendek itu menertawakanku sangat panjang. Tapi dari ucapannya, aku menebak, mereka menghormati pelancong lain berdasar kelas kabin yang di sewa.
"Bukan, kak! Tapi abangku yang punya nama Garju itu! Garrick Julian Jusuf !" Ku libatkan nama tuan garangku dengan lantang, namun dengan gaya bicaraku yang tenang dan datar. Mencipta kesan bahwa aku perempuan berkelas selevel Garrick Julian, ku yakini mereka telah paham namanya.
"Kau jangan main-main dengan nama itu, cantik..!" Sepertinya nama tuanku akan membawa berkah padaku. Mereka telah membuat jarak dariku beberapa langkah ke belakang.
"Aku tidak suka bermain ! Kalian lihat padaku baik-baik! Apa penampilanku tidak cukup meyakinkan?!" Ku gali percaya diriku, berharap mereka terkesan dengan penampilan baikku.
"Selamat malam saudara semua! Maaf mengganggu, saya ingin menjemputnya untuk turun denganku! Silahkan anda meneruskan bersenang-senang! Selamat bergembira, dan terimakasih telah menggunakan kapal ini!"
Glek..!! Alamak..! Itu bossku, sang Garju yang telah nyata datangnya! Bicara wibawanya sungguh berkharisma dirasa. Kumpulan pemuda tadi nampak mengangguk dan perlahan bergerak berundur.
Jika dalam drama mungkin aku akan pura-pura tersedu di depan penyelamatku. Hu..hu..hu.. Tapi tentu saja aku tidak, jika begitu, lalu di mana harga diriku?!
"Cepat, El ! Kau lambat pulang!" Meski kata kunci 'Cepat' itu masih disebut. Kata 'Pulang' lebih menyentuh haruku. Apakah Garrick mulai merasa terbiasa bahwa aku adalah bagian dari kabinnya? Bagian dari perjalanan kapalnya? Atau merasa susah tanpa kacung? Hu..hu..hu..
Apapun alasan itu, Garricklah penyelamatku. Setidaknya tak perlu lagi memutar otak untuk mengulur waktu pada para pemuda itu. Garrick menolongku hanya dengan pesona wibawanya. Apakah segalanya akan mudah hanya dengan menjadi kaya raya?
Garrick yang memunggungiku siap berjalan menoleh belakang padaku. Aku masih terpaku di tempat dengan segala pikiranku.
"Akan hujan, El! Jangan lamban!" Garrick menyentakku. Memang benar, hembusan angin laut sungguh dingin menusuk, pertanda hujan turun kemudian.
"Iya, tuanku!" Ku sahut cepat seruannya. Berjalan menyusul Garrick yang telah laju di depanku.
Ku ikuti Garrick di belakang, memandang punggung kokohnya, membuatku sedikit kurang bersyukur. Berkhayal jika saja aku sekaya dirinya. Apa saja yang diangan, terwujud nyata hanya dalam sekelip mata. Mungkinkah..bagaimana? Semangat! Semua berawal dari harapan, tanpa ada putus asa!
Garrick tidak mengambil arah ke tangga Garju Park yang tadi ku naiki. Melainkan berjalan lurus ke depan membelah dek atap Garju. Menghampiri papan tersusun berlipat menggantung di salah satu sisi pagar di dalam dek. Rupanya itu tangga berlipat yang tidak ku lewati, berlawan arah dengan jalanku.
Garrick membuka pagar yang ternyata juga berpintu, dan samar-samar. Tuan garang memang sah pemilik kapal. Dia mengerti detail seluruh peta dalam kapal. Lalu, bagaimana dia menemukanku? Pasti ada jawab dari tanyaku. Ku tunggu saat itu!
"El, mana cheongsammu?" Garrick mengamati ke arah bajuku. Kami telah sampai dan berhenti di kabin.
"Apa Anthony Lung memintanya kembali?" Ku dongak wajahku menatapnya.
"Apa tuanku pikir, marah saja sudah cukup? Tapi saya juga tidak terima, tuanku!" Garrick yang mengungkit, pertanda ada kebaikan pada pribadinya.Ini peluang untuk memancing sisi baik dirinya.
"Lalu?" Garrick nampak bersabar kali ini. Apa dia merasa salah..? Baguslah!
"Tuan telah memberi jaminan, lalu jaminan macam apa yang ku dapat?" Terus ku dongak wajah menatapnya. Garrick pun menatapku dengan mata coklat setajam mata elang garangnya.
"Kompensasi seharga yang Lung tawarkan?" Garrick tetap menatapku dengan menukik.
"Ada unsur pelanggaran, tuanku!" Aku mencoba menggertak halus pada tuan garangku. Berdebar hati di dada, berhasilkah? Atau aku yang malah dimarah? Kutatap mata coklatnya, ku tunggu sepenuh harapanku padanya.
"Baiklah, seratus lima puluh persen, bagaimana?" Garrick masih bersuara sangat seksi, terlebih sedang membicarakan tentang uang yang akan dilontar padaku. Kian seksi saja ku rasa!
"Seratus lima puluh persen? Dari jumlah yang berapa, tuanku?" Rasa tak sangka telah diskusi pasal begini dengan Garrick, sang tuan garangku. Rasa takut ku tepis amat jauh. Demi hak yang mungkin terkesan lebay berlebihan. Tapi ini betul-betul kesempatan! Aku sedang diliputi rasa matre yang keterlaluan! Ha..ha..ha..
"Harga akhir tawaran Lung di panggung. Bagaimana?" Garrick masih dengan posisinya, sedikit menunduk menatapku. Apa?! 'Bagaimana?' Kata bagaimana darinya itu, bermakna aku bisa tak setuju..dan boleh menawarnya?! Ah, tidak... Biar ku rela di angka tujuh puluh. Aku tak mau dikata dapat hati minta jantung. Jika keduanya batal, tentu aku menyesal!
"Deal, bossku! Seminggu kurang sehari, semoga tuan tak akan ingkar janji." Ku lempar senyumanku, sambil bergeser badan menepi. Ku ingin tuan garangku segera membuka puntu kabin. Tak ku bawa kartu aksesku. Aku tak punya tas cantik di tangan, akan konyol jika dinner bawa ransel kan..?
"Aku tak miskin sangat, El !" Garrick kembali bersuara normal. Bernada keras di suara empuk beratnya. Sudah biasa, tetap saja nyaman ku dengar. Tak ku ambil hati makna ucapannya padaku. Aku hanyalah kacung babu, dan uang jugalah yang jadi targetku!
Garrick masuk kabin dan melepas pintu elastis itu asal saja. Tak peduli bahwa ada orang di belakang punggungnya. Nasib baik, tanganku gesit menahan gerak di pintu. Jika lambat, tentu akan benjol di jidatku.
"El..! Lain kali, bawa ponsel ke manapun! Merepotkan!" Garrick berseru dari pintu kamarnya. Ku tahan pintuku, urung masuk ke dalam bilikku.
"Tuan Garrick, mencariku?" Nadaku lembut bertanya padanya. Garrick keluar lagi dan berdiri di pintu kamar memandangku.
"Aku majikanmu, kau pekerjaku. Jika kau celaka, siapa yang menanggungmu?! Bukankah kau sebatangkara di Batam?!" Suara Garrick memang tajam, begitu juga pandang matanya. Tapi ucapan Garrick ini sangatlah mengena, membuatku tersentuh. Garrick, tuan garangku yang punya tanggung jawab dan empati di balik kekerasan sikapnya. Maaak.! Hati Garrick sungguh mulia!
"Tuan Garrick, terimakasih atas nasihatmu. Ku doa setulus hatiku, agar hidupmu bahagia." Perkataan ini bukanlah sandiwaraku. Tapi sungguh, itu harapan tulusku untuk sang tuan garangku.
"Trims, El ! Simpan juga doamu untuk dirimu! Apa kau tak bosan, terus jadi pelayan?" Garrick meredupkan pandang matanya padaku. Entah, bicaranya yang landai, tak ku tahu apa maksudnya. Yang jelas, aku sedang tak ingin buruk sangka padanya!
"Bosan..! Jujur saya bosan, boss! Saya juga ingin berusaha, membuat suatu usaha apapun meski dalam skala kecil..." Ku gantung ucapanku. Bayangan akan mendapat uang banyak darinya, membuatku bersemangat. Aku ingin berbisnis, lepas dari belenggu boss galakku yang manis...
"Bosan..? Kau bosan bekerja padaku, El?! Bersiaplah tidak mendapat bayaran dariku!" Alamaak..! Garrick melesat dalam bilik dan menutup pintunya sangat rapat.
Aku hanya menimpali pertanyaannya. Lantas, kenapa dia murka? Lalu, di mana letak salahku? Ah, bossku .. Kau tak juga lupa dengan ancaman dan gertak sambalmu waktu lalu. Aku mulai mengerti pribadimu..Apa kau begitu suka membullyku.. Apa itu cukup menghiburmu.. Oh, Garju !!