
Seperti mimpi juga melihat Zayn berjalan sangat cepat ke arah kami. Kupikir bocah itu pun tak kan pernah kujumpai lagi di Garju. Berjumpa di tempat lain memang mungkin..tapi tidak di sini..atau juga di rumahnya.
Tak menyangka jika akan berjumpa Zayn lagi di sini. Anang memang kularang untuk bilang pada Zayn akan adaku di kafe Sedan. Anang sangat percaya akan keseriusan Zayn padaku, tapi juga memilih memahamiku.
"El...Kau di sini?!" Zayn berseru begitu langkahnya telah berhenti di depanku. Aku dan Zayn lalu berpandangan saling heran.
"Kau dari mana, Zayn?" Bocah tampan itu nampak letih dengan koper kecil yang telah dilepas saja di lantai.
"Aku baru sampai, El. Nomor ponselmu tak pernah aktif. Ratih bilang kau pergi dari rumah tiga minggu lalu. Benar ya, El..Kenapa?" Zayn menatap dalam wajahku, wajah putihnya sedikit memerah, lobi hotel sangat dingin.
"Zayn... Kau baru sampai?" Kali ini Garrick menyapa adik tirinya cukup hangat.
"Iya, bang. Sorry lupa menyapamu, bang." Zayn menoleh pada Garrick, abang tirinya.
"Bang, selamat ya. Ku harap acaramu lancar hingga selesai.." Tangan panjang putih itu mengulur dan menepuk lengan Garrick beberapa kali. Si garang hanya diam membiarkan, matanya memandangku. Kami bertatap mata sekilas.
"Lalu kau ingin ke mana, Zayn?" Garrick beeganti mengulur tangan dan menepuk pelan bahu Zayn.
"Menyusulnya, bang. Aku lega dia denganmu." Zayn menunjukku dengan dagunya yang bersih tanpa jambang.
"Lalu kau pulang atau menginap?" Garrick tetap berbicara hangat pada Zayn.
"Menginap, bang. Kukawal hingga sukses acaramu. Sekalian mengawal Elsi, bang!" Suara Zayn cukup keras di lobi. Gadis jaga malam itu kupergoki melirikku. Zayn menatapku dengan senyum cengirnya. Kusimpan senyum sedihku.
"Akan kupanggil Dina untuk menyiapkan kamarmu. Kau ingin di lantai berapa, Zayn?" Garrick bersiap mendial ponselnya.
"Elsi, di rumah rooftop denganku. Hanya ada dua kamar di sana, Zayn." Garrick terkesan keberatan dengan maksud ucapan Zayn.
"Tak boleh begitu lah, bang. Kamarmu lebar tidak sempit. Kita kan bisa sekamar. Abang dua hari lagi nikah. Jagalah jarak dengan Elsi, bang. Menjauhlah darinya!" Mata bocah sableng tampan itu bergantian memandangku dan Garrick. Terasa tersindir akunya... Apa Garrick juga merasa tersindir...?
"Baiklah, Zayn. Kau tidur saja di rooftop. Ayo, El..!" Garrick yang tengah menahan pintu lift melesat masuk sambil memandangku serta Zayn bergantian. Kami berdua mengikuti Garrick masuk lift seperti anak-anak yang sedang dibawa pulang oleh bapaknya.
Sekali lagi, aku lebih suka berdiri sejajar dengan si garang. Menghindar rasa debar jika saja matanya menatapku. Zayn berdiri menyamping di depanku. Bocah tampan itu berterusan melihatku. Meski risih, tetap bisalah kuabaikan, lain hal dengan yang kurasa jika si garang yang memandang.
Kuperhatikan Zayn yang masih juga menatapku, kulirik sesaat si garang yang kebetulan tengah memandang gerah pada Zayn. Bocah sableng ini seperti tak menganggap adanya Garrick di sampingku.
"Zayn, alihkan pandanganmu , Zayn. Jangan pandangi anak gadis orang seperti itu..!" Seketika Zayn meluruskan wajah sambil mengulum senyum. Garrick menyindir Zayn, seolah dia tak pernah berbuat hal buruk padaku. Dan parahnya, setakat ini aku tak keberatan pada kelakuan lecehnya padaku. Bahkan, hal itulah yang terbayang di antara siksa rinduku!
"Aku ini tengah mengawal dia lah, bang!" Zayn beralibi. Dua mata elang itu melirikku lalu menatap si garang dengan sebal. Tapi tak lagi melihat berterusan seperti barusan. Hanya sesekali saja matanya singgah di wajahku sambil tetap tersenyum, dan kurasa itu sungguh lucu! Ha..ha..Zayn memang sableng!
Kusyukuri juga adanya Zayn yang tak kuduga tetiba datang mencariku ke sini. Setidaknya penipis peluang singgahnya jin sesat, antara aku dan Garju agar tak betah untuk singgah lama-lama menggoda !
**
Baju jalanku telah kutukar dengan baju yang kutinggal di kamar rooftop Garju. Aku tak mandi, hanya cuci muka dan bersih diri saja. Isya' pun sudah kulunasi, aspri Rizal menjemputku untuk bertemu pak David tadi selepas waktu isya'.
Garrick dan Zayn berpesan agar aku tak tidur langsung. Tapi akan ada pramusaji hotel yang datang dan mengantar makanan. Mereka ingin aku juga ikut untuk makan bersama. Perut ini memang lapar, aku hanya mengambil sedikit makanan saat dinner bersama pak David.
Garrick juga baru menutup pintu kamarnya, hampir bersamaan denganku saat keluar dari kamar. Kami sama-sama mematung sesaat dan bersenyuman. Hampir bersamaan membuang muka dan berjalan searah menuju sofa. Sambil kuredam degub dig dug di dadaku..