Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
48 Bergosip


Anggun dan Juan sama-sama berlalu dariku dan Garrick. Mereka akan kembali ke aula untuk menyambung acara. Juan sempat pesan aku harus ikut pulkam dengannya. Beberapa hari lagi, Juan akan kembali ke Jawa. Mata Anggun tak lepas dan terus menatap tajam padaku. Seperti aku ini pelakor yang merebut lelakinya. Padahal Juanlah yang bicara padaku, bukan tuan garangku.


"Bergegas, El!"


Wuuss..! Bersamaan ku toleh seruan Garrick, jas warna hitam telah melayang hampir menutup wajahku. Keremukan hatiku karena Juan, justru seperti mendapat hiburan. Siapa yang sangka, tetiba kudekap lagi jas wangi


dengan aroma sama milik tuan garangku hari ini.


Ku ikuti punggung gagah dengan langkah tegap super cepat itu bersemangat. Melewati lorong panjang dan sebentar lagi masuk lobi. Ku harap kali ini bersembang lagi dengan Sari.


"Boss..!" Garrick berhenti karena panggilanku. Menoleh dengan raut tanya padaku.


"Zonk pengunjung boss, sepi. Boleh saya bertemu Sari? Tak lama..." Ku harap bos garang sedang kerasukan jin baik kali ini.


Garrick diam saja, tapi berjalan ke kursi lobi dan duduk diam di sana. Garrick karam lagi dalam ponsel, ku rasa ini izin darinya.


"Sarriiiii..." Sari terkejut dari duduk melamun saat ku sapa lirih di mejanya.


"Haahhh...Elsi..!!" Sari berdiri heboh dan menarik tanganku. Teman Sari sedang tak ada, jadi kududuk di sana.


"Napain di sini, dengan siapa?!" Ku tunjuk si garang di pojok lobi pada Sari.


"Pelankan suaramu, nanti dia menghardikmu...." Aku tak ingin Garrick terganggu dan menyeretku ke atas.


"Jangan khawatir, sejak kembali berlayar terakhir itu. Bos kita jadi jinak.." Suara Sari sudah sepelan harapanku.


"Mungkin ada pacarnya.." Ku balas lirih bisik-bisik, lobi ini sangat peka pada suara.


"Tidak. Bos tak suka dengan calon perjodohannya itu...Anggun.." Sari menuju gosip yang tengah ingin ku tahu.


"Perjodohan apa, Sari..?" Tanpa sungkan ku desak Sari bergosip.


"Biasa, El.. Orang kaya plus orang kaya...Jatuhnya makin kaya.." Suara Sari masih terkendali...aman..


"Sejak dulu..Mereka lama kenal, tapi tak dekat. Baru sekarang saja saling tempel. Mungkin boss rasa, dia sudah tua. Ingin ular tangga.." Sari sambil menulis sesuatu di buku tamu.


"Rumah tangga..,bukan ular tangga...Umurnya tiga satu, lelaki belum tua umur segitu. Yang ada tuh si Anggun, perempuan dua sembilan belum nikah.. Jodoh sempurna pun ada..Lalu, nunggu apa...?" Sambil ku perhatikan nomor-nomor yang ditulis Sari di buku tamu.


"Dua kemungkinan, bos belum melamar atau Anggun mengulurnya. Dua itu sajalah masalah pada mereka.. Harta pun berlimpah." Sari masih sibuk menulis.


"Ku rasa dua-duanya...."


"Ehemmm!!! El..!" Heish..! Garrick telah menjulang di atas meja Sari. Harap-harap dia baru saja hadirnya.


"Siap, bossku!" Serba salah ku tinggal Sari di mejanya. Kini telah sejajar dengan Garrick di depan meja Sari, kini hanya pangkal rambutnya saja yang nampak. Meja Sari memang pemancing nafsu ghibah.


"Sari, buat kerja yang betul. Jangan panggil orang lain masuk ke mejamu. Bikin berisik hotelku!" Garrick berlalu setelah puas menghardik. Ku ikuti laju di belakang. Jinak apaan...Kuda..? Sejinak-jinaknya kuda, tetap saja garang!


"Sudah puas bergosip?" Duh.. Pertanyaan Garrick cukup nyaman kudengar, meski ku rasa itu sindiran.


"Kapan saya gosip, boss?" Garrick tengah menunggu datangnya lift, dan aku di sampingnya.


"Jika bicara tentangku, langsung saja bicara padaku, El..!" Garrick berseru sambil melangkah masuk dalam lift.


Kini kami berdiri dalam lift menghadap bersampingan. Kebisuan melanda, hatiku kaku, kedapatan telah menggosip oleh tuanku. Menunduklah jalan ninjaku.


"El...." Ku dongak wajahku. Garrick memanggil lembut memandangku. Jin apa yang merasukinya, aku tak tahu. Yang jelas, Garrick sangat tampan saat menatapku lembut begitu.


"Ya, boss..?" Garrick masih diam menatap cukup lama. Pandangan tuanku kali ini membuatku kian beku.


"Apa Juan kurang menarik bagimu? Kenapa kau tolak?" Garrick membahas masalahku. Apa itu menarik baginya?


"Ku rasa tuan mendengar seluruh bicaraku dengan Juan. Saya tak cocok dengannya, saya tak suka." Ku buang mukaku, tak sanggup ku pandang Garrick. Tuan garangku semakin tampan saja di mataku!


Pintu lift terbuka, karena Garrick tak juga melangkah, ku dului keluar lift dengan hati dag dig dug. Berjalan cepat melangkah di lantai rooftop. Keadaan malam penuh bintang di langit tanpa bulan, sungguh terlihat semakin takjub di pandang. Berdiri di lantai tertinggi, tanpa penghalang , berselimut langit berbintang, serasa ingin terbang saja ke sana.