
Garrick duduk seorang di meja sebelah, sejajar Juan dan menghadapku. Tuan garang memegang buku menu tapi tidak membukanya. Mungkin telah hafal isi buku dan ada paket mi goreng kangkung juga di dalamnya. Paket remeh-temeh favoritnya! Ha..ha..ha..
"El, aku akhirnya menemukanmu, dan kau terlihat baik-baik saja. Apa kerjamu?" Juan memegang cangkir kopi sambil memandangku.
"Bekerja pada tuan Garrick. Aku kacung yang dibayarnya." Ku tunjuk Garrick dengan daguku. Si garang sedanh kalap dalam ponsel.
"Jadi, jauh-jauh lari ke sini, kau hanya jadi pembantu?!" Juan meletak cangkir kopi di meja dengan kasar. Percikan air kopi di cangkir menyiprat keluar menodai taplak meja.
"Hanya lowongan itu yang bisa ku dapatkan, apa salahnya, mas?" Juan tak paham, apa yang dirasa seorang perantau dalam pelarian. Segala jalan akan jadi batu loncatan, dan terlepas sementara dari kesulitan.
"Kau rela jadi babu hanya untuk lari dariku, El?!" Juan mulai berbicara pada masalah inti kami, dan ini adalah peluang yang ku tunggu.
"Aku tertekan di rumahku sendiri. Kau datang dengan pasukanmu, melamarku sesukamu! Sudah ku bilang aku tidak cinta padamu! Aku tidak suka paksaanmu, mas!" Gunungan beban di hati telah ambyar ku ratakan pada Juan.
"Kau jangan lupa,El. Ibumu sudah setuju dengan lamaranku dan ayahku. Bahkan sekarang ibumu sudah memasrahkanmu jika aku menemukanmu!" Juan memberi senyum seringai padaku. Pria di depanku itu lagi-lagi menggunakan ibuku, sungguh pemaksaan yang tak tahu malu!
"Kenapa memaksaku, mass? Apa untungnya mendapatku? Apa tidak ada perempuan lagi selainku? Mas Juan punya segalanya, perempuan yang lebih baik dariku itu sangat banyak, bahkan melimpah ruah.Cari saja salah satunya, jangan aku!" Aku heran, bagaimana ayah Juan menanamkan sikap melindungi warga pada anaknya, bahkan ayahnya pun ikut berperan dalam pemaksaan. Menyesal ku cucuk hidung pak walikota Malang itu kala ku buat pilihan di pemilu tahun lalu.
"Ku rasa ibumu tidak berani berkata sebenarnya, El. Hutang ibumu sangat banyak pada keluargaku!" Juan kerap menyeringai jika bicara denganku. Itulah satu sebab aku meluat melihatnya. Meski Juan sangat tampan menawan sekalipun.
"Hutang....Tidak mungkin! Apa yang ibuku pinjam darimu?!" Aku mulai terpancing dalam emosi masalahku.
"Sebagai anak, harusnya kau tahu, El..! Makanya jangan lari!" Juan menyeringai lagi.
"Apa hutang ibuku?" Ku melotot pada Juan. Sungguh berbelit sangat bicaranya.
"Ibumu meracuni banyak orang,El !"
"Apa..?!"
"Hampir semua karyawan keracunan setelah makan nasi kotak dari ibumu. Jika bukan kerana ayahku, mungkin ibumu sudah tidur di penjara hari-hari!" Dadaku remuk redam, serasa terhantam palu godam. Ucapan Juan barusan, seakan meruntuhkan tembok besar cina di hatiku.
"Tidak mungkin itu, mas! Ibuku sangat pemilih, semua serba baru dan bersih. Ibuku juga selalu hati-hati memasaknya. Pasti ada kekeliruan!" Aku yakin, jika benar, semua ini pasti bukan sengaja salah ibuku.
"Aku mana tahu tentang itu, El. Yang ku tahu, ibumu butuh perlindungan hukum. Ibumu menerima tawaran ayahku, bebas dari ancaman pidana dan segala tuntutan ganti rugi. Ibumu sekarang bebas karena keluargaku!" Juan memandang angkuh padaku. Pasti ada maksud di baliknya.
"Lalu?" Tak sabar dengan bicara Juan yang terhenti. Kugeser mataku ke meja sebelah, Garrick masih tenggelam di ponselnya. Ku rasa dia kura-kura, pura-pura main zombie aplikasi.
"Ibumu dan aku saling impas. Ibumu mendapat kebebasan kasusnya dan aku mendapat kebebasan dirimu. Yah..mudahnya bilang, ibumu menjualmu!" Hish..Tak mungkin begitu! Kata 'Ibumu menjualmu' itu hanya karangan mulut Juan belaka!
"Maksudmu apa, mas?" Ku coba bertenang, apa pun, memang keluarga Juanlah yang mampu mengeluarkan ibuku dari kesulitan. Pengaruh ayah Juan di kotaku memang luar biasa.
"Ya maksudku..Aku datang mencari dan menemukanmu, untuk membawamu kembali ke Malang. Setelah menikah, kita datang lagi ke sini. Aku bekerja di sini. Kau tak perlu lagi bekerja!"
Ucapan Juan terdengar cukup manis. Tapi bagaimana.., hati yang tak suka tak kan bisa dipaksa. Meski ada teori yang nyata, datangnya cinta karena terbiasa bersama. Tapi, tak ada ingin hatiku mencoba. Menikah bukanlah coba-coba, jika tak kuat menahan coba, hatilah yang tersiksa. Jadi, aku akan menikah dengan orang yang ku cinta! Oh Tuhan..Berilah aku cinta..
...π’π’π’π’π’π’π’π’π’...
...π’π’π’π’π’π’π’π’π’...
...π’π’π’π’π’π’π’π’...
ππTerimakasih segala dukunganmu. Yang berbaik hati..bermurah hati... ikhlas memberiku hadiah. vote. komen.like. favorite. segala doa baik untukku. dll. Sangat berterimakasih. Maaf juga, kedatangan komentar para reader yang baik belum sempat kusambut.
Dan para reader ghoibku.. yang tak berminat meninggalkan jejak apapun padaku. Tetap juga kuberterimakasih denganmu. Tapi, kudoakan agar kalian segera mendapat hidayah. Lalu tergerak memberiku bermacam hadiah.. like.komen. vote dll.. Oh reader ghoibku nan gelap..siapa saja dirimu. Menampaklah, agar bisa kukenang namamu! πππππββππβ€β€