
Setelah jamuan calon camer berlalu, tak ku lihat lagi tuan garangku. Ratih bilang, urusan kerja di Singapura belum juga mendapat titik temu yang dimau. Jadi, si garang menyambung kerja yang terputus di hari nikahan Anang dan Ike waktu itu.
Boss Garrick tak berkata apapun denganku. Kami tidak sempat saling bertemu. Hanya dikirim sebuah pesan di ponsel padaku. *Berdiamlah di rumah itu, ambil saja cuti Rabumu, tunjuk pesan ini pada ketuamu*
Begitu juga si sableng Zayn, turut kembali bersama si abang garang sore itu. Tapi sempat mendatangi kamarku dengan sangat buru-buru dan sepintas berlalu. Di celah pintu kamar yang sedikit kubuka, Zayn bicara padaku dengan begitu terburu. *El, kita bicara lebih lama lain waktu, aku mengejar ferryku sore ini. Habiskan ini sambil mengingatku..!*
Dan inilah.., kotak dari Zayn yang sedang ku pegang sekarang. Berisi sebuah coklat pipih besar original, dengan bentuk dua hati yang bertaut. Coklat buatan Singapura itu sangat tebal.
Dan tentu saja tiap aku lihat coklat itu, akan ingat si sableng, Zayn. Tapi untuk mematahkan dan memakan, rasa hati sangat geli. Jadi, tak mungkin menghabiskan, seperti yang Zayn pesankan saat kotak itu diberikan. Coklat taut hati darinya, tetap utuh hingga kini.
****
Ini adalah Rabu ke-dua sejak ku tak jumpa tuan garang. Pagi-pagi dengan dandan menawan, telah standby di luar gerbang halaman menunggu uda Fahri yang otewe akan datang. Mengantar ke kafeku yang telah di tunggu oleh Ike dan Anang. Kafeku telah buka lebih dari lima hari berselang.
"El, ke kafe Sedan lagi kan?" Setelah bersalam sapa, uda Fahri menanyaku.
"Iya, uda. Kita ke Sedan." Kubalas senyum uda Fahri padaku.
Sedan adalah nama kafeku, cuplikan dari nama panjangku, Elshe Dindania. Dapat inspirasi dari boss garangku, Garju, Garrick Julian.
Jadi bukan singkatan dari Elshe Edan ya..Tolong jangan tertawakan aku dengan umpatan begitu...Itu akan sedikit menyinggung perasaanku! Tapi, bagi kalian yang bermobil sedan, ingatlah akan singkatan namaku! Hu..hu..hu...
Dan jujur saja ku katakan... Jika tak edan, aku akan ikutkan mau ibuku untuk menikah dengan Juan...Jika tak edan, aku tak akan ada keberanian untuk lari ke perantauan. Jika tak edan, kisah berantakan ini tak akan pernah ada. Dan aku tak punya bahan cerita untuk ku jadikan bacaan buat kalian! Yang ada..,cerita antara aku dan Juan di pernikahan paksaannya. Kira-kira, cerita mana yang akan lebih kalian suka..?? Ha..ha..ha..
Jadi di sini...Ingin ku pesan tegaskan pada kalian.. Jika satu masa tengah rasa kesulitan dan kesuntukan. Perlulah edan sesekali.. Tapi jangan edan kesesatan, tetap pilihlah di jalan kebenaran. Tempuhlah penuh keyakinan, maka jalan terang pasti akan ditunjukkan!
Ike yang selalu standby di sana, dan Anang akan menyusulnya saat petang. Kerjanya sebagai sopir di keluarga Garrick, berakhir pada pukul lima sore.
"Uda, bagaimana dengan nomor uni Wel? Sudah saling komunikasi belum?" Kuharap uda Fahri gercep pada nomor hp uni Wel yang ku serah padanya. Tentu ku tunjuk juga foto selfi uni Wel yang nampak manis di ponselku.
"Belum, El. Uda sibuk." Sedaya upayaku membantu. Kelanjutan ada di tangan orang yang ku bantu.
"El, uda ingin tanya." Uda Fahri menolehku sebentar.
"Tanya apa, uda?" Jemari yang kumainkan, kuletak di pangkuan, di atas tas cantikku.
"Apa menurutmu, uda bujang tua?" Deg..! Apa dia tersinggung?
" Jika lelaki, seumur uda Fahri itu wajar saja, belum tua.." Aku tak ingin menyinggungnya. Padahal, hanyalah agak lambat..
Percakapan kami berakhir, uda Fahri telah merapatkan taksi birunya di trotoar jalan dekat kafeku. Sekilas kulihat Ike dan Anang tengah repot melayani pengunjung kafe Sedanku. Sebagai kafe pemula, pengunjung yang datang cukup ramai.
"Uda, trims ya. Uda mau mampir?!" Sambil ku ulur selembar biru padanya. Kakiku telah keluar cepat berdiri di trotoar. Aku tak ingin melanjutkan pembicaraan itu dengannya.
"Lain kali saja, El..!" Uda Fahri membalas lambaiku. Taksi biru itu perlahan berlalu meninggalkanku.
Kudekati kafeku dengan rasa gembiraku. Sebentar lagi, akan ku bawa ibuku. Hanya satu ganjalanku, apakah ibuku bakal mau ikut denganku..? Sebab..,bagaimanapun, ibuku sangat mencintai rumah tinggalnya di kampung halamanku.