Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
88. Oh, Jantungku..


Ayah Anggun sungguh keren, mengenakan topi gunung dan berkaca mata warna hitam. Nampak seperti bukan pria berumur saja!


"El.." Pak Walkot yang tak lagi bisa dikenali dengan mudah itu, baru mengakhiri panggilan telepon dan memanggilku.


"Iya, pak." Aku sedikit mendekat. Kami sedang berada di lokasi parkir. Tempat awal aku datang bersama aspri Rizal dan sopir.


"Aku akan mengantarmu sendiri. Sopirku yang menjemputmu tadi sedang masuk angin. Mari, El." Pak David menjelaskan dan kupatuhi dengan angguk mengiyakan. Aku mengekori menuju tempat mobil. Kali ini mobil yang dibawanya bukanlah mobil dinas, tapi mobil plat hitam pribadinya.


Malam telah pukul setengah sebelas malam. Keadaan sekitar masih cukup ramai. Anchor Inn Resto di Palm Spring, Nongsa, masih cukup ramai meski malam mulai larut. Banyak sejoli muda-mudi bercengkerama menggelosor di pelataran depan sana. Makhlum, posisi Anchor Inn berada di perbatasan darat dan pantai Palm Spring, Nongsa.


Eh, Ini di Nongsa, jadi ingat rumah rooftopnya si garang. Harusnya aku paham, di bagian mana hotel Garju.. Tapi aku tak tahu, apa di sebelah baratku..selatanku..utaraku..atau di timurku..? Garju..., di manakah letakmu? Ah, Garrick Julian, kamu di mana..Apakah sudah pulang? Atau tengah dijemput Anang? Garju, Garju, Garju..., aku rinduuu...!! Kapan kita bertemu...


"Elsi.." Suara panggilan dari samping mengejutku.


"Iya, pak David.." Kusahut panggilannya.


"Kau tak ada penutup kepala atau wajah?" Pertanyaan ini, aku paham maksud pak David.


"Hanya ada kaca mata sedikit gelap. Nanti kupakai saat turun saja ya, pak." Pak David ingin aku menyamar wajah sepertinya. Tak ingin terhimpit gosip apapun yang mengancam.


"Iya, El.. Terimakasih pengertianmu. Rasanya nyaman jika bersamamu, Elsi." Duh..Nyaman di dia, akunya yang tersiksa..! Kupandang terang-terangan pak David. Pria keren itu nampak tenang memegang kemudinya. Mobil ini terus melaju sedang dengan tenang, membelah jalan raya Nongsa menuju kafe Sedan, Batam Centre.


"Kenapa, El..?" Tiba-tiba Chow Yun Fat kawe itu menoleh, aku kepergok mengamati. Meski matanya terhalang kacamata hitam legam, tetap saja rasa gengsi.


"Tidak, pak. Emmm...Istri bapak ke mana, tidak selalu ikut..?" Aku tak ingin terlihat kikuk olehnya. Jadi, asal saja kutanya.


"Hubunganku sedang tidak baik dengannya. Itulah, aku sedang kesepian. Besar harapku kau mau menemaniku, Elsi.." Pak David menolehku sejenak.


Ucapannya barusan, kurenungkan. Kata menemani itu pasti maksudnya tanda kutip, alias sugar baby kan? Adakah sugar baby yang tugasnya cuma menemani? Tak akan ada! Jikalah ada..itu pasti awalnya saja!


Hem...Demi puber pak David yang ke-dua, andai aku jadi sugar baby miliknya, betapa itu adalah siksa jiwa. Ke mana-mana harus pura-pura dan jaga rahasia. Memang kegadisanku ini, akan dihargai berapa olehnya, lalu suamiku dapat apa, sisa..? Apa dipikir aku ini gadis gampangan. Ha..ha..ha.. Ada-ada saja tawaran pak wali kota!


"Turunlah, El.. Pakai kacamatamu.." Aku tersadar, pak David telah membuka pintuku. Lekas kucari kacamataku dan kupakai lalu keluar dengan cepat. Kami berjalan di trotoar.


"Pak, anda kembalilah ke mobil." Beberapa langkah lagi, aku akan sampai di pelataran kafeku.Entah, perasaanku tidak enak. Anang belum juga keluar.


"Sepi, El. Sudah terlanjur. Ayolah ku antar hingga pintu." Pak David bersikeras mengikuti.


"Terimakasih, pak. Sudah mengantar dengan selamat."


"Mbak..!" Anang tiba-tiba datang. Seruan Anang tadi nampak mengejutkan pak David.


"El, nanti kuhubungi.." Pak David berkata padaku dan buru-buru berlalu. Kupandangi punggung itu dan termangu.


"Mbak, siapa itu?" Kupandangi Anang dengan bingung. Apa alasanku? Kuangkat saja bahuku. Kuharap Anang tak lanjut menanyaku.


"Pacar ya mbak? Sudah malam lho mbak."


"Aku tadi mau nganter ini aja kok mbak.. Aku nanti nggak pulang, nginep di rumah bos, tolong bilang istriku ya, mbak.." Anang mengulur bungkusan sedang padaku.


"Apa, Nang?" Kupandang isi bungkusan. Ada kotak masker.


"Susu bumil itipan Ike dan maskermu, mbak." Aku pun mengangguk.


"Trims ya, Nang. Nanti kubilang ke Ike." Sambil ku bilang pada Anang, kubalik badanku. Kuraih anak kunci dan kumasukkan lubang kunci.


"Ok, mbak. Aku antar pak boss pulang dulu, ya mbak.." Suara Anang terdengar menjauh.. Mungkin dia sambil pergi berjalan.


Eh.. Apa saja tadi kata-kata Anang? 'Antar pak boss, pulang?' Antar ke mana, dari mana? Apa ternyata si garang sedang dibawa Anang? Maknanya, si garang datang bersama Anang dan ada dalam mobil hitam itu?! Oh,jantungku..


"El...!" Maaaak!!!Deg..deg..deg...deg..deg..deg...deg... Ya Tuhan, suara itu.. Tak salah dengarkah aku??? Oh jantungku..Lekas kembalilah ke posisimu. Aku akan berbalik melihatnya setelah kau kembali bertenang di tempatmu. Duh..,jantungku!!