Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
100. Ajakan Zayn


Seperti iklan bengek obat jadul 'Napacin' yang terikat rapat oleh tali tampar di dada, lalu terputus dan lepas, itulah yang kurasa. Sambil kubawa erat bag baju dari Kanaya, kumelangkah laju dan ringan, bebas sesaat dari beban dan tekanan yang datang.


Pelecehan yang dilakukan pak David padaku memang sungguh keterlaluan. Dimatanya, aku ini gadis rendahan, gampangan dan mudah ditakhlukkan. Sama pikir dengan si Anggun.


Seumur-umur baru kali ini kurasakan. Video mesum leceh yang tak sengaja kulihat saat diputar teman-teman pada jam kosong di kuliahan, tak kusangka kini menimpaku jadi kenyataan. Duh...Batam!


Mungkin sebentar lagi Garrick akan datang dan bertanya tentang sikap kasarku di meja makan barusan. Ah, biarkan. Jawaban pasti datang saat ada pertanyaan. Garrick pun juga sudah tak garang lagi sekarang. Jadi apalagi yang kuresahkan?


🐒🐒🐒


Ceklek !


Suara televisi begitu keras terdengar saat kumasuki rumah di rooftop. Zayn belum tidur. Lelaki muda itu tengah rebah selonjor di sofa sambil menonton televisi yang bising.


"Assalamu'alaikum, Zayn." Kusapa Zayn dengan salam. Agar kudapat rasa aman terlindungi. Hanya aku dan Zayn, Garrick tak ada.


Tanpa jawaban. Suaraku memang kalah keras dari volume televisi yang mungkin sudah diatur maksimal oleh si sableng, Zayn. Atau dia sudah tidur? Baguslah!


Jalanku setengah mengendap, berharap Zayn tetap saja terlelap..jika dia tidur. Kepalanya mengarah ke pintu dengan kaki ke tivi, jadi tak kutahu, bocah itu mejam apa melèk. Apalagi sebelah tangan ditumpang menyiku di dahi, kian tak nampak saja kebenaran matanya.


Tak kulirih wajah Zayn, langkahku perlahan dan akan mencapai kamarku. Kunci di tangan kumasukkan pelan-pelan, tapi kuputar sangat cepat, ingin melesat masuk langsung ke dalam.


"El..!" Mak..!! Zayn telah siuman..


"Hei, Zayn.. Kau tak tidur?" Kupegangi pintu kamar yang akan kututup. Telah kugeser diriku di dalam.


"Aku menunggumu, El. Keluarlah setelah selesai dengan urusan di kamarmu!" Zayn berseru tanpa mengubah posisi tidurnya. Tak kujawab juga, pintu lalu kututup.


Telah kubentang isya'ku dengan tumpangan maghrib setelahnya. Kuakui lemahku, begitu sering kulakukan cara ini. Tapi lebih baik bayar hutang dan tenang daripada terbiarkan berlubang.


🐒🐒🐒


"Ada apa Zayn?" Zayn telah duduk dan menyandar, saat melihatku keluar dari kamar.


"Kau sudah makan, El?" Kuangguk kepala pada Zayn.


"Ikut ke mana, Zayn?" Ada acara apa lagi si Zayn..


"Ke pulau Galang, Kampung Vietnam, El. Kau pernah dengar?" Kuangguk kepala pada Zayn. Uda Fahri pernah menyebut nama kampung mistis itu padaku. Dan seperti memancing agar kutertarik untuk pergi berkunjung ke sana. Juga dari Sari, gadis itu pernah mengajakku pergi ke sana dengan sang pacar. Tapi sayangnya, hari cutiku dan Sari tak sama.


"Untuk apa kau ke sana, Zayn? Penyuluhan?" Zayn seperti menahan tawa pada tanyaku.


"Siapa yang di suluh, El. Hantu-hantu vietnam di sana? Ha..ha..ha.." Bocah sableng itu akhirnya tertawa. Tapi aku justru tertarik dengan perkataan Zayn.. Kampung Vietnam di pulau Galang itu sepertinya cukup unik dan menarik!


"Pukul berapa pergi, Zayn?" Kuabaikan tawa bahak bocah itu. Aku tertarik untuk turut. Lumayan..buat cuci kepala dan mata!


"Ell...Kau ikut?!" Zayn melompat dari duduknya. Bergeser duduk lebih dekat lagi di depanku.


Ceklek!


Kulirik arah pintu, Garrick keluar dari kamar nampak cool. Pria rupawan itu suka sangat mandi malam. Membuatku mikir yang iya-iya saja.. Duh, wangi sekali..!


"Kita berangkat pagi, El. Setelah breakfast!" Mata elang Zayn mencari kesungguhan di mataku. Sedang aku... mataku pada Zayn, tapi kepalaku pada si garang.


"Iya, Zayn.." Asal saja bersuara...padahal janji.


"Mau ke mana, kalian?" Garrick menghempas di sofa sebelahku. Duh, wanginya..


"Elsi akan kubawa jalan bareng teman-teman, bang. Ke kampung Vietnam. Besok abang pasti sibuk dengan urusan kerabat yang datang kan?" Zayn berkata pelan, seperti sungguh-sungguh sedang izin. Izin...Ah, apa aku ini milikmu..Garrick Julian Jusuf?!


Garrick menatap Zayn sekilas, lalu padaku. Kubuang muka, tak ingin mendengar kalimat larangan darinya.


"Jika dia mau, ajak saja Zayn. Dia perlu hiburan. Jaga baik-baiklah di sana. Besok aku memang akan repot menyambut segala kerabat di hotel, khususnya yang dari Semarang." Zayn senyum memandangku sambil mengacung jempol panjangnya padaku. Ya, Garrick justru menganjurkanku jalan-jalan, mungkin dia paham perasaanku.


"Apa ibumu bisa datang, bang?" Garrick menggeleng samar tak bersemangat.


"Ibuku masih terapi, Zayn. Belum bisa pergi jauh-jauh." Wajah Garrick nampak mendung. Wajah cool itu berubah muram durja. Iba hati ini..ingin kutepuk puk-puk saja punggung itu, sambil kutanya sakit apa ibunya? Oh, Garju..