Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
62. Ancaman Untuk Juan


Sudah tiga hari Garrick tak pulang. Selama tiga hari itu juga ku diam di rooftop. Seperti isi pesan yang dikirim Garrick saat baru sampai di Singapura. Apapun yang ku buat, asal ku diam di rooftop, sudah dihitung kerja olehnya. Aku tak berkutik, ada cukup cctv di rooftop.


Rumah Garrick di rooftop ini adalah bagian kecil dari rooftop hotel Garju. Garrick telah menyendirikan dengan pagar keliling di bagian hunian pribadinya. Dalam hunian area rooftop miliknya, ada fasilitas kolam renang, mushola mini, taman bunga kecil, dan kolam mini ikan hias.


Di sisi bagian pagar ada sebuah pintu stainless berkunci kode angka, penghubung menuju area rooftop khusus pengunjung. Bermakna ada tangga dan lift bagian lain di dalam resort Garju. Baru saat inilah aku sempat mendetailnya.


*El, turunlah pukul 9. Juan menunggu di lobi.*


*Ingat, El, kau pekerjaku, jangan kabur.*


Dua pesan masuk itulah yang baru ku dapat pagi tadi dari Garrick. Dan pukul sembilan lewat, dengan sedikit riasan, ku turun menuju lobi utama lantai dasar. Juan tengah duduk gelisah di sofa sudut lobi. Bibirnya laju terbelah saat tahu kedatanganku.


"El...! Pagi, El !" Juan berdiri menyambutku.


"Mas Juan, ada perlu denganku?" Langsung on point saja ku tanya.


"Kata sambil makan, El." Juan berdiri bersiap mengajakku. Lobi ini milik umum, tak nyaman diguna kelamaan. Maka ku ikuti saja Juan, meski aku sudah makan.


"Ingin makan apa, El?" Juan menarik kursi buatku. Juan memang baik begitu dari dulu. Hanya salahnya, Zuan terlalu buru-buru memaksaku!


"Kopi hitam tanpa gula, mas." Ku senyum tipis padanya.


"Makan..?" Juan bertanya memandangngku.


"Tidak, mas. Dah sarapan." Juan melambai bersamaan pelayan mengahampiri.Pesanan dibuat, Juan membetulkan duduknya.


"El, lusa kita pulang!" Juan mulai kumat.


"Aku tak ikut, mas." Tenang ku sangkal.


"Dua tiket pesawat executive sudah ku pesan, El. Bukan tiket kapal yang ku beli!" Ucapan Juan mengandung sindiran bagiku.


"Walo jet atau heli pun yang mas Juan beli, aku tetap tak pulang!" Nadaku sudah seperti pasangan yang tengah bertengkar.


"Ingat ibumu, El. Tak kau pikir nasibnya?" Tanya Juan mengandung ancaman.


"Ingat, El. Ibumu punya hutang pada keluargaku!" Juan mulai tidak sabar.


"Mas Juan, mengancam? Hentikan, mas. Aku juga bisa mengancammu!" Aku lelah ditindas.


"Mangancamku?! Ha..ha..ha..Dengan apa, El?!" Juan remeh padaku. Tertawa dramanya lebar sekali.


"Dengan pacarmu! Anggun!" Mulut Juan langsung mengatup.


"Apa maksudmu, El?" Juan nampak tak nyaman.


"Kalian sudah lama menjalin hubungan. Sejak kalian tinggal bersama di Swiss dan bahkan hingga kini. Mas Juan tau kan, Anggun calon istri orang?" Ku lempar skakku, berisi jebakan di dalamnya.


"Kau tau dari mana, El?" Benar, Juanlah pacar Anggun di Swiss.


"Sejak kapan, Anggun tau, kalo mas Juan melamarku?" Ku harap, Juan jujur kali ini.


"Sebelum kau ke Batam, El." Ucapan Juan memang benar.


"Lalu, mas Juan...Apa Anggun sudah tahu aku, dari dulu?" Inilah yang paling ku tunggu!


"Tahu, El." Juan memang sering mencuri selfieku dan memposting di akun sosial miliknya. Ini satu penyebab juga aku tak bisa cinta pada Juan.


Sekarang terang sudah, kenapa Anggun membenciku sangat-sangat. Memang gara-gara Juan...


"Baiklah, mas. Ku jawab tanyamu. Aku punya videomu saat nonton berdua dengan Anggun di Nagoya.Kalo mas Juan masih tak ikhlas menolong ibuku, akan ku pakai video itu untuk menyerangmu! Kalian keluraga terhormat, mas. Apa ruginya membantu ibuku cuma-cuma. Ibuku kan warga ayahmu. Ibuku juga memilih ayahmu saat di pemilu. Sudah semestinya pak walikota melindungi ibuku. Bukan malah menekannya!"


Ku coba menekan Juan dengan ucapan tenangku. Ku harap dia merasa terintimidasi olehku. Sepertinya berhasil, Juan terus diam tak berkata. Mungkin telah merasa mati gaya..


"El, bukalah blokiran nomorku di ponselmu. Susah jika apa-apa bilang bossmu." Apa lagi keinginan Juan, apa dia tidak putus asa?


"Bukan apa, El. Kau kan warga ayahku. Jika ada apa-apa denganmu, aku bisa membantumu." Juan lembut berbicara. Apa jin jahatnya benar-benar pensiun dan menghabiskan hari tuanya di lubang toilet? Hanya Juan dan Tuhanlah yang tau!


"Baik, mas. Nanti ku buka." Ku akur pada Juan.Ku seruput kopi hitam pahitku yang masih terasa hangatnya. Ku temani Juan saat makan, ku sabarkan meski itu perlahan. Mudah-mudahan ini adalah awal persahabatan!